Bank NTT Ubah Strategi KUR: Tak Lagi Sekadar Pinjamkan Uang

Kupang, detakpasifik.com- Kembalinya Bank NTT sebagai penyalur Kredit Usaha Rakyat (KUR) setelah tujuh tahun vakum membawa pendekatan baru dalam pembiayaan usaha masyarakat. Jika sebelumnya fokus utama lebih banyak tertuju pada penyaluran kredit, kini bank daerah tersebut memilih strategi berbeda: membangun ekosistem usaha dan memperkuat literasi keuangan nasabah.

Pada 2026, pemerintah pusat memberikan kuota KUR sebesar Rp350 miliar kepada Bank NTT. Kepercayaan itu muncul setelah bank berhasil memperbaiki rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) yang sempat menjadi penyebab penghentian program KUR pada 2019.

Direktur Kredit Bank NTT, Alo Geong, mengatakan pengalaman masa lalu menjadi pelajaran penting bagi institusinya. Karena itu, penyaluran KUR kali ini dilakukan dengan pengawasan yang jauh lebih ketat.

READ  Bank NTT Pastikan Pelunasan Obligasi Seri D Jatuh Tempo Desember 2025

Menurut Alo, salah satu masalah terbesar dalam penyaluran kredit di daerah bukan semata kemampuan usaha masyarakat, melainkan persepsi terhadap pinjaman itu sendiri. Banyak masyarakat masih menganggap kredit pemerintah sebagai bantuan sosial yang tidak wajib dikembalikan.

Pandangan tersebut dinilai menjadi salah satu faktor tingginya kredit macet pada masa lalu.

Karena itu, Bank NTT kini menempatkan edukasi keuangan sebagai bagian utama dalam proses penyaluran KUR. Setiap calon debitur akan diberikan pemahaman mengenai kewajiban pembayaran, pengelolaan usaha, serta penggunaan dana secara produktif.

Bank juga mulai meninggalkan pola penyaluran kredit yang terlalu bertumpu pada agunan. Sebagai gantinya, penilaian lebih diarahkan pada kualitas usaha dan rekam jejak bisnis calon nasabah.

READ  Menafsir Pertanyaan Etis Benny K. Harman soal Vonis Mati Sambo

Tiga aspek menjadi perhatian utama, yakni prospek usaha, performa bisnis, dan kemampuan membayar cicilan dalam jangka panjang.

Langkah paling signifikan terlihat pada penerapan model pembiayaan berbasis ekosistem usaha. Dalam pola ini, bank tidak hanya melihat calon debitur sebagai individu, tetapi juga menelusuri hubungan bisnis yang sudah mereka bangun.

Misalnya, jika seorang pelaku usaha merupakan pedagang sembako, bank akan memeriksa asal pasokan barang, volume transaksi, hingga histori pembayaran kepada distributor.

Melalui pendekatan tersebut, Bank NTT dapat memperoleh gambaran lebih akurat mengenai kapasitas usaha calon debitur.

Model itu juga memungkinkan penerapan sistem pembiayaan bertahap atau staging. Pelaku usaha yang masih baru akan memperoleh plafon kredit lebih kecil. Jika usaha berkembang dan pembayaran berjalan lancar, nilai pembiayaan dapat ditingkatkan secara bertahap.

READ  Mahasiswa Manggarai Galang Dana untuk Pasien Tumor Payudara

Strategi ini dinilai lebih aman dibanding langsung memberikan pinjaman besar tanpa melihat kesiapan usaha.

Selain menjaga kualitas kredit, pendekatan tersebut juga diharapkan membantu usaha kecil tumbuh secara berkelanjutan.

Bank NTT menilai keberhasilan KUR bukan hanya diukur dari besarnya kredit yang tersalurkan, tetapi dari peningkatan kapasitas usaha masyarakat. Ketika pendapatan pelaku usaha meningkat setelah memperoleh tambahan modal, maka pembiayaan dianggap berhasil.

Karena itu, KUR kini diposisikan bukan sekadar program pinjaman murah, melainkan instrumen untuk membangun ekonomi rakyat yang lebih sehat dan mandiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *