Kupang, detak-pasifik.com- Suasana hangat menyelimuti Rumah Keuskupan Agung Kupang ketika para Aspiran dan Postulan melakukan silahturahmi pada Sabtu (6/12/2025). Rombongan diterima langsung oleh Vikaris Jenderal (Vikjen) Keuskupan Agung Kupang, Rm. Kris, yang menyambut mereka dengan penuh sukacita dan apresiasi.
Dalam sambutannya, Rm. Kris menekankan pentingnya kehadiran para calon Frater sebagai bagian dari upaya Gereja untuk terus merawat bumi dan membangun kesadaran ekologis. Ia menyinggung bahwa Gereja, khususnya Keuskupan Agung Kupang, tengah memberi perhatian besar pada isu lingkungan dan pengembangan program-program konkret yang mencintai serta melindungi Ibu Bumi.
“Merawat bumi bukan hanya tugas para aktivis lingkungan. Ini adalah panggilan iman. Kehadiran kalian di sini menjadi simbol harapan bahwa Gereja tetap bergerak dalam kesadaran ekologis,” ujar Rm. Kris dengan penuh kehangatan.
Lebih jauh, Rm. Kris mengapresiasi kunjungan tersebut sebagai langkah nyata untuk terlibat dalam pembangunan Agroeduwisata Kompleks Perkebunan Keuskupan Agung Kupang—sebuah gagasan yang terus dikembangkan sebagai ruang edukasi, konservasi, dan pemberdayaan umat. Ia menyebut bahwa para calon Frater bukan hanya belajar spiritualitas dan hidup komunitas, tetapi juga menjadi bagian dari upaya membangun masa depan ekologis Gereja.
Disisi lain, Rm. Marsel Amfutis memberikan apresiasi kepada bapak John Tafaib serta para calon Frater yang telah meluangkan waktu, tenaga dan pikiran untuk hadir dan berkolaborasi dalam merawat, menjaga dan melestarikan lingkungan, secara khusus dalam aktivitas penanaman bibit kelapa dan pepaya di lahan keuskupan agung Kupang.
“Kalau kita berpatokan pada ekologi, itu berarti terdapat hubungan timbal balik antara makhluk hidup, termasuk manusia dengan lingkungannya, serta interaksi antar makhluk hidup itu sendiri. Secara praktis, ekologis berarti mempertimbangkan, menjaga, atau bertindak sesuai dengan keseimbangan dan siklus alami lingkungan untuk memastikan keberlanjutan. Dan, hari ini kita melakukan itu, kita tidak bisa hanya menjadi pembicara dan penonton, tidak hanya selesai di ruang katekese; tetapi lebih dari itu, kita harus menjadi rolle model, menjadi panutan bagi lapisan masyarakat”, tegasnya.
Kunjungan ini sendiri merupakan konkretisasi gagasan yang sebelumnya didiskusikan oleh Pak John Tafaib (dosen pengajar para Aspiran dan Postulan sekaligus pemerhati dan aktivis lingkungan) bersama Fr. Flori. Ide tersebut muncul dari keprihatinan bersama mengenai pentingnya menghadirkan ruang belajar ekologis yang terintegrasi dengan formasi calon Frater.
Pak John Tafaib menilai bahwa Gereja tidak dapat berjalan sendirian menghadapi krisis iklim dan kerusakan lingkungan. Karena itu, pembinaan calon Frater perlu mencakup kesadaran ekologis yang membumi dan berorientasi pada aksi.
“Kita ingin membentuk calon pemimpin Gereja yang tidak hanya pandai berbicara tentang ciptaan, tetapi juga terlibat langsung dalam merawatnya,” ungkapnya.
Sementara itu, Fr. Flori menambahkan bahwa kunjungan ini membuka ruang interaksi sosial para calon Frater, sehingga ke depannya ada relasi positif dan tentunya para calon tidak asing dengan rumah keuskupan agung Kupang. Para Aspiran dan Postulan terlibat langsung dalam proses penanaman bibit kelapa dan beberapa jenis tanaman jangka pendek lainnya.
Kunjungan ini diharapkan menjadi titik awal kolaborasi yang lebih kuat antara lembaga pembinaan calon Frater dan Keuskupan Agung Kupang, serta menjadi wujud komitmen Gereja dalam mewartakan pesan ekologis secara hidup, nyata, dan berkesinambungan (Marsel Natar)











