Kupang, detakpasifik.com- Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Melki Laka Lena, mengungkapkan kondisi ekonomi daerah yang masih menghadapi tantangan serius. Salah satu persoalan utama yang dihadapi Provinsi NTT adalah defisit perdagangan yang mencapai Rp51 triliun per tahun, akibat tingginya ketergantungan terhadap pasokan barang dari luar daerah.
Hal tersebut disampaikan Melki saat menghadiri kegiatan retret Forum Komunikasi Alumni (Forkoma) PMKRI Regio Timor yang digelar di Kupang, Sabtu (13/12/2025).
Menurut Melki, besarnya arus masuk barang dari luar NTT tidak hanya berdampak pada neraca perdagangan daerah, tetapi juga melemahkan daya tahan ekonomi masyarakat. Kondisi ini, kata dia, mencerminkan masih dominannya pola ekonomi konsumtif dibandingkan ekonomi berbasis produksi lokal.
“Data menunjukkan defisit perdagangan NTT saat ini mencapai Rp51 triliun setiap tahun,” ujar Melki dalam pemaparannya.
Untuk keluar dari persoalan tersebut, Melki menegaskan perlunya perubahan mendasar dalam perilaku ekonomi masyarakat, yakni beralih dari pola konsumtif menuju ekonomi produktif. Ia menilai NTT memiliki potensi besar di sektor pangan lokal, pertanian, dan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) yang belum dimaksimalkan secara optimal.

Pemerintah Provinsi NTT, lanjut Melki, mendorong penguatan sektor pertanian dan UMKM melalui pengelolaan hasil produksi pangan lokal agar memiliki nilai tambah dan daya saing. Salah satu strategi yang tengah dikembangkan adalah program “One Village One Product” atau satu desa satu produk, yang bertujuan mendorong setiap desa memiliki komoditas unggulan berbasis potensi lokal.
Selain itu, Pemprov NTT juga menyiapkan berbagai kebijakan afirmasi pasar, termasuk memprioritaskan penggunaan produk lokal dalam belanja pemerintah daerah dan aparatur sipil negara (ASN). Langkah ini diharapkan dapat membuka pasar yang lebih luas bagi produk UMKM lokal dan menggerakkan ekonomi daerah dari dalam.
Tak hanya itu, pemerintah juga mendorong pemanfaatan Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang disertai dengan pendampingan UMKM secara serius dan berkelanjutan, agar pelaku usaha kecil mampu naik kelas dan berkontribusi lebih besar terhadap perekonomian daerah.
Dalam kesempatan tersebut, Melki turut mengajak alumni PMKRI untuk terlibat aktif dalam pembangunan ekonomi kerakyatan di NTT. Ia menilai peran kaum intelektual muda dan jaringan alumni sangat penting dalam mendukung transformasi ekonomi berbasis potensi lokal.
“Pembangunan ekonomi NTT membutuhkan keterlibatan semua pihak. Alumni PMKRI memiliki peran strategis untuk ikut mendorong perubahan dan kemandirian ekonomi rakyat,” pungkasnya. (Juan Pesau)











