Ruteng, detakpasifik.com- Karitas Keuskupan Ruteng telah menyalurkan bantuan kemanusiaan kepada 11.907 korban gempa bumi yang tersebar di 23 paroki di wilayah Keuskupan Ruteng, Nusa Tenggara Timur.
Hal tersebut disampaikan Karitas Keuskupan Ruteng melalui press release yang diterima redaksi detakasifik pada Senin, 24 Agustus 2026. Press release tersebut ditandatangani Direktur Puspas Keuskupan Ruteng, Romo Martin Chen, bersama Direktur Karitas Keuskupan Ruteng, Romo Benektiktus Gaguk.
Dalam laporan tersebut disebutkan, bantuan yang telah disalurkan hingga Minggu, 23 Agustus 2026, terdiri atas 12.011 kilogram atau sekitar 12 ton beras, 1.081 dos makanan siap saji berupa biskuit, mi instan dan ikan kaleng.
Karitas juga menyalurkan 396 dos air, 416 paket hygiene kit serta 89 paket shelter yang terdiri atas terpal dan tikar.
Bantuan tersebut disalurkan ke berbagai wilayah terdampak, termasuk daerah yang sulit diakses seperti Pota bagian pegunungan, Elar, Lamba Leda dan Manus.
Respons kemanusiaan Karitas Keuskupan Ruteng dilakukan sejak gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang Flores pada Sabtu, 15 Agustus 2026.
Setelah gempa, Keuskupan Ruteng melalui Karitas langsung berkoordinasi dengan 61 paroki untuk mendata korban, lokasi terdampak, kerusakan rumah serta fasilitas lainnya.
Selain bantuan logistik, respons dilakukan dalam bidang kesehatan. Karitas membantu RSUD Ben Mboi Ruteng yang terdampak gempa dan harus memberikan pelayanan kepada pasien di luar ruangan.
Sebanyak 27 tenda darurat yang sebelumnya digunakan sebagai booth Festival Golo Curu Keuskupan Ruteng dimanfaatkan untuk mendukung pelayanan darurat di rumah sakit tersebut.
Karitas juga mengerahkan pelayanan medis yang melibatkan empat dokter dari Karina Indonesia.
Pendampingan terhadap korban tidak berhenti pada bantuan material. Para imam, suster dan katekis turut memberikan penguatan psikospiritual, sementara pendampingan psikososial dilakukan melalui kegiatan trauma healing, khususnya bagi anak-anak korban bencana.
Uskup Ruteng Mgr. Siprianus Hormat juga turun langsung mengunjungi sejumlah wilayah yang dilaporkan mengalami dampak parah, antara lain Reo, Dampek, Pota serta Paroki Beanio dan Beamese di wilayah Cibal.
Berdasarkan data yang disampaikan Karitas Keuskupan Ruteng dalam press release nya, gempa telah menyebabkan 71 orang meninggal dunia, 1.147 orang terluka dan 24.084 rumah mengalami kerusakan. Sebanyak 80.775 orang disebut harus mengungsi.
Selain rumah warga, sebanyak 67 gereja dan kapela juga mengalami kerusakan. Sebagian di antaranya dilaporkan hancur dan tidak dapat digunakan kembali.
Karitas menyebut kebutuhan masyarakat terdampak masih berlanjut. Kebutuhan tersebut antara lain sembako, air minum bersih, sanitasi, layanan psikososial serta berbagai kebutuhan untuk tahap rehabilitasi dan pemulihan.
Karena itu, Karitas Keuskupan Ruteng mengajak pemerintah, lembaga kemanusiaan, perusahaan, komunitas dan berbagai pihak untuk terus memperkuat kerja sama dalam membantu masyarakat terdampak bencana.
“Bencana gempa ini telah mengguncang dahsyat bumi Flores,” demikian disampaikan Karitas Keuskupan Ruteng dalam press release nya, seraya menegaskan bahwa bencana tidak boleh menghancurkan semangat kebersamaan dan solidaritas masyarakat.
Karitas juga menyampaikan apresiasi kepada berbagai pihak yang telah menyalurkan bantuan kemanusiaan melalui Karitas Keuskupan Ruteng, termasuk Karitas Nasional atau Karina Indonesia, pemerintah pusat, pemerintah daerah dan pemerintah desa.
Penanganan korban, menurut Karitas, masih membutuhkan kerja bersama karena persoalan pascabencana belum berakhir dan masyarakat masih membutuhkan dukungan untuk melewati masa tanggap darurat hingga tahap pemulihan. (Juan Pesau)











