Eulogi: Perginya Sang Pencerah dari Hungaria

Pater Thomas Krum, SVD semasa hidup

Catatan Pius Rengka
(Umat Paroki Rejeng tahun 1960an)

Kabar itu datang tidak dengan dentang lonceng gereja yang keras melengking. Kabar itu datang pelan, seperti angin menyusup dari sela-sela perbukitan Manggarai ketika senja mulai turun. Adik Pater Sipri Kakut, SVD menulis pendek ke WA saya, “Pater Thomas telah meninggal dunia tadi sore di Ruteng”.

Terkejut kah saya? Tidak. Saya tahu Beliau akan berakhir ke situ ke tempat dari mana tak seorang jua pun dapat memanggilnya kembali pulang.

Namun, di balik kelembutan situasi dan didukung suara alam yang sedang sendu, kabar itu membawa kepastian yang tak dapat ditolak. Pater Thomas Krump, SVD, sang gembala yang selama enam puluh satu tahun menaburkan benih iman di tanah Paroki Rejeng, Lelak, Manggarai, berpulang ke rumah Bapa.

Mentari seolah ikut memanggil dia pulang ketika sang mentari telah hendak berangkat menuju senja, di Rumah Sakit Ruteng, perjalanan panjang seorang misionaris akhirnya sampai pada titik perhentiannya bukan sebagai akhir nan sunyi, melainkan sebagai kepulangan yang penuh makna dengan riuh arti yang berarti.

Bagi banyak orang di tanah ini, utamanya di Paroki Rejeng (Lamba Ketang), Pater Thomas, SVD bukan hanya seorang imam. Pastor Hongaria ini adalah bagian dari sejarah hidup umat. Pater Thomas Krump adalah wajah yang selalu hadir dalam ingatan masa kecil, dalam kenangan keluarga, dalam cerita-cerita sederhana yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Nama dan sosoknya telah lama melebur ke dalam lanskap kehidupan umat di Rejeng dan sekitarnya.

Seingat saya, ketika saya masih duduk di kelas satu SDK Rejeng, Pater Thomas sudah lama menetap di sana. Pater Thomas tinggal di sebuah rumah kecil yang letaknya tidak jauh dari lingkungan sekolah dasar Katolik dan Gereja Paroki. Rumah itu sangat sederhana. Hanya dua kamar dengan sebuah ruang tamu kecil di bagian depan. Tidak ada kemewahan di sana. Tetapi di dalam kesederhanaan itulah hidup seorang gembala yang sepenuh hati menyerahkan dirinya total bagi umat yang dilayaninya. Dia tidak mengumpulkan kekayaan, tidak hidup mewah di tengah derita dan tangisan kemiskinan umat, tetapi dia terlibat dalam seluruh totalitas kesederhanaan umat.

Saya ingat persis. Di dinding ruang tamu itu tergantung berbagai obat-obatan. Bagi anak-anak desa yang sering datang bersama orang tua mereka, pemandangan itu terasa sangat akrab. Jika ada umat yang datang mengeluh sakit, Pater Thomas membuka lemari kecil itu, mengambil obat, dan memberikannya dengan perhatian yang hampir seperti seorang ayah kepada anaknya. Salah satu obat yang paling terkenal di masa kecil kami adalah obat bernama Sulfa Namid. Bagi kami anak-anak desa yang tidak banyak mengenal dunia kedokteran, obat itu terasa seperti obat yang bisa menyembuhkan hampir segala penyakit.

READ  Kompetisi BioChem Unwira Kupang Tingkatkan Minat Sains Siswa SMA

Rumah kecil itu bukan sekadar rumah seorang pastor. Tetapi, itu rumah dihuni oleh seorang pria tinggi ganteng kulit putih, tempat orang mencari harapan dan menemukan sedikit kepastian. Orang datang membawa keluhan sakit, membawa persoalan luka lara keluarga, membawa kegelisahan hidup yang kadang terasa terlalu berat dipikul sendirian dalam selimut dekil kemiskinan. Dan, Pater Thomas selalu menyambut mereka dengan kesabaran yang luar biasa.

Bahasa Manggarainya tidak lancar. Kata-katanya kadang terputus-putus. Tetapi, umat memahami bahwa di balik keterbatasan bahasa itu ada hati yang tulus lurus. Dan sering kali, ketulusan jauh lebih mudah dipahami daripada kata-kata yang paling fasih sekalipun.

Sesekali, dalam percakapan yang lebih tenang, Pater Thomas berkisah tentang tanah kelahirannya yang jauh di Eropa Tengah, Hungaria. Ia bercerita tentang masa-masa sulit ketika keluarganya pernah menjadi sasaran tekanan politik dari rezim komunis di negeri itu. Pada masa yang penuh ketakutan itu, keluarganya harus muhibah berpindah-pindah bersembunyi dan akhirnya melarikan diri ke negeri tetangga demi keselamatan.

Pengalaman itu tentu meninggalkan luka dalam hidupnya. Tetapi mungkin justru dari luka itulah lahir keteguhan yang kemudian membentuk panggilan hidupnya. Sebab dari negeri yang jauh itu, seorang anak muda Hungaria suatu hari memutuskan untuk berjalan mengikuti panggilan iman, panggilan untuk menjadi misionaris.
Panggilan itu akhirnya membawanya jauh melintasi benua, menyeberangi samudra nan luas, hingga sampai di sebuah tanah yang mungkin sebelumnya tidak pernah dibayangkannya, Manggarai, di Pulau Flores. Apalagi Rejeng, yang membujur di tengah lekukan aneka bukit yang melilitnya.

Rumah kedua

Manggarai dengan pegunungannya yang sunyi, teduh dengan jalan-jalan tanah yang panjang dan berliku, dengan umat sederhana yang hidup dari tanah dan ladang. Tanah yang dihidupi sungai nan jernih mengalir dari hulu hutan rimba. Tanah yang jauh dari kota-kota besar dunia. Tanah yang mungkin bagi sebagian orang tampak kecil dan terpencil. Tetapi, bagi Pater Thomas, tanah inilah yang menjadi ladang pelayanannya. Tanah inilah yang menjadi penanda bagi kehadiran Sang Juru Selamat Dunia di tengah keluh kesah sakit penyakit dan lilitan tali kemiskinan.

Pengabdian enam puluh satu tahun bukanlah waktu yang singkat. Enam puluh tahun melintasi generasi. Bahkan melintasi perubahan zaman. Zaman ketika Pastor Hungaria itu menyaksikan anak-anak kecil tumbuh menjadi orang dewasa, kemudian menjadi orang tua yang membawa anak-anak mereka sendiri ke gereja yang sama.

READ  Ketika Lembaran Kitab Suci Jatuh dari Mimbar: Awal Jalan Bersama Pater Thomas Krump

Dalam perjalanan pastoralnya mengunjungi stasi-stasi, Pater Thomas sering menempuh jalan yang panjang dan berat. Pada masa ketika kendaraan bermotor belum mudah ditemukan di pelosok desa, Pater Thomas menggunakan kuda sebagai alat transportasi. Seekor kuda ditungganginya, sementara seekor kuda lainnya membawa perlengkapan misa serta obat-obatan yang selalu dibawa. Anak-anak sekolah riang mencari rumput di tepi anak sungai, sambil riang menangkap katak yang lupa pulang liang.

Bayangkanlah perjalanan itu. Seorang imam dari Hungaria menembus jalan-jalan tanah Manggarai, melintasi bukit dan lembah, dari satu kampung ke kampung lain. Kadang dalam panas matahari, kadang dalam hujan yang turun tiba-tiba dari langit pegunungan. Semua itu dijalani tanpa keluhan yang terdengar. Karena baginya, perjalanan itu bukan sekadar perjalanan fisik. Perjalanan itu adalah ziarah yang juga adalah bagian dari panggilan iman.

Salah satu jejak pengabdian yang paling dikenang adalah upayanya merintis pembangunan sekolah baru di Lamba Ketang pada masa menjelang pergolakan politik tahun 1965. Pada waktu itu, pendidikan di banyak desa masih sangat terbatas. Tetapi, Pater Thomas percaya bahwa masa depan umat tidak hanya dibangun melalui doa, melainkan juga melalui pendidikan. Pendidikan sekolah yang dikelola dengan jujur dan terutama keutamaan pengabdian yang tidak pernah kenal lelah.

Para tokoh umat di Lamba Ketang menyerahkan tanah lingko mereka untuk mendukung pembangunan sekolah itu. Sebuah pengorbanan yang besar bagi masyarakat agraris yang hidup dari tanah. Tetapi, mereka percaya bahwa tanah yang diberikan untuk pendidikan akan melahirkan masa depan yang lebih terang bagi anak-anak mereka.

Dan, benar saja, dari sekolah-sekolah yang dirintis itu, lahir banyak anak Manggarai yang kemudian melanjutkan pendidikan mereka lebih jauh. Sebagian menjadi guru, pegawai, pemimpin masyarakat, bahkan mungkin menjadi imam dan religius yang melanjutkan pelayanan Gereja. Lainnya telah menempuh sampai ke jenjang studi paling tinggi dan lainnya lagi berselancar di ladang politik garis lunak dan garis keras.

Jika kita menelusuri jejaknya hari ini, kita akan menemukan bahwa warisan Pater Thomas tidak hanya berupa bangunan fisik seperti gereja, rumah paroki, atau gedung sekolah. Warisan terbesarnya adalah manusia-manusia yang hidupnya disentuh oleh kehadirannya.

Anak-anak yang dulu didorongnya untuk bersekolah. Keluarga-keluarga yang pernah ia dampingi dalam masa sulit. Umat sederhana yang pernah dilayaninya dengan kesabaran. Semua itu adalah bagian dari warisan hidupnya.

Pater Thomas adalah seorang imam dari Ordo Societas Verbi Divini, Serikat Sabda Allah. Sebuah tarekat misioner yang mengutus para anggotanya ke berbagai penjuru dunia untuk mewartakan Injil. Tetapi, bagi umat di Rejeng dan wilayah sekitarnya, Pater Thomas lebih dari sekadar seorang anggota tarekat. Puisi berikut barangkali pantas untuk melukiskan siapa gerangan tokoh ini.

READ  Pelatihan Keamanan Pangan dan Higiene Sanitasi bagi Penjamah Makanan SPPG di Manggarai

Sang Pencerah

Ia adalah sahabat yang berjalan bersama umatnya.

Ia adalah guru yang membuka jalan pendidikan bagi anak-anak desa.

Ia adalah penyembuh sederhana yang memberikan obat kepada mereka yang sakit.

Ia adalah gembala yang setia hadir dalam suka dan duka umatnya.

Kesederhanaan adalah salah satu ciri yang paling melekat pada dirinya. Tidak ada jarak yang besar antara dirinya dan umat yang dilayaninya. Ia hidup di tengah mereka, berbagi kehidupan yang sama, merasakan kesulitan yang sama.

Barangkali justru karena itulah ia begitu dicintai.

Kini perjalanan itu telah selesai.

Seorang misionaris dari Hungaria yang datang ke Manggarai lebih dari enam puluh tahun lalu akhirnya menutup matanya di tanah yang sama yang telah ia layani sepanjang hidupnya.

Namun sesungguhnya ia tidak benar-benar pergi.

Ia tetap hidup dalam ingatan umat yang pernah disentuhnya.

Ia hidup dalam sekolah-sekolah yang terus berdiri.

Ia hidup dalam gereja-gereja yang dipenuhi doa.

Ia hidup dalam generasi anak-anak Manggarai yang kini telah menyebar ke berbagai tempat membawa terang pengetahuan dan iman.

Benih yang ia tanam selama puluhan tahun telah tumbuh. Ia telah bertunas, berkembang, dan kini mekar di banyak tempat.

Itulah sebabnya, ketika mengenang Pater Thomas Krump, kita tidak hanya mengenang seorang imam. Kita mengenang seorang penabur terang.

Seorang anak Hungaria yang meninggalkan tanah kelahirannya demi sebuah panggilan yang lebih besar.

Seorang misionaris yang memilih Manggarai sebagai rumahnya.

Seorang gembala yang menjadikan umat kecil sebagai keluarganya.
Hari ini kita mengantarnya pulang dengan doa dan rasa syukur.

Selamat jalan, Pater Thomas.

Tanah Manggarai akan selalu mengingat langkah-langkah sunyi pengabdianmu.
Dan terang yang engkau nyalakan selama enam puluh satu tahun itu tidak akan padam.

Ia akan terus hidup di hati umat yang engkau layani,
di sekolah-sekolah yang engkau dirikan,
di doa-doa yang terus dipanjatkan di gereja-gereja yang pernah engkau bangun.
Terima kasih, Pater Thomas.

Engkau datang sebagai seorang asing dari negeri nun jauh.

Namun engkau pergi sebagai bagian dari keluarga besar Manggarai.

Dan karena itulah, bagi kami, engkau akan selalu dikenang sebagai
Sang Pencerah dari Hungaria yang menyalakan cahaya di tanah Manggarai.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *