Merawat Relasi Dosen dan Mahasiswa

Dr. Wilson M.A. Therik (dokumen detakpasifik)

Oleh: Wilson M.A. Therik
Dosen Fakultas Interdisiplin UKSW Salatiga/Redaktur Eksekutif detakpasifik.com

Artikel ini tidak bertujuan menilai atau menghakimi peristiwa yang belakangan terjadi di Universitas Nusa Cendana, khususnya di Fakultas Kesehatan Masyarakat. Peristiwa tersebut menjadi perhatian masyarakat Nusa Tenggara Timur dan ramai diperbincangkan di media sosial. Tulisan ini lebih merupakan sebuah refleksi berdasarkan pengalaman penulis selama hampir dua dekade menjadi dosen.

Bagi saya, peristiwa itu justru menjadi pemantik untuk menulis refleksi berdasarkan pengalaman hampir dua dekade mengabdi sebagai dosen. Saat ini saya mengajar di Kota Salatiga, sebuah kota yang sejuk di lereng Gunung Merbabu. Sebelumnya, selama delapan tahun (2007–2014), saya pernah menjadi dosen di beberapa perguruan tinggi di Kota Kupang, dua di antaranya kini telah berhenti beroperasi.

Refleksi ini juga berasal dari perjalanan akademik saya sebagai mahasiswa Program Sarjana (S1) di Universitas Kristen Artha Wacana Kupang, kemudian melanjutkan studi Magister (S2) dan Doktor (S3) di Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga. Rangkaian pengalaman tersebut membentuk cara pandang saya dalam memahami relasi antara dosen, mahasiswa, dan perguruan tinggi. Cara pandang itu tentu berbeda dengan ketika saya masih menjadi mahasiswa yang penuh idealisme.

Menariknya, saya sama sekali tidak pernah bercita-cita menjadi dosen. Kehidupan justru membawa saya menekuni profesi ini. Karena itu, hingga sekarang saya merasa masih terus belajar. Tidak hanya dari buku dan penelitian, tetapi juga dari mahasiswa melalui diskusi di ruang kuliah maupun proses membimbing penulisan skripsi, tesis, dan disertasi. Bahkan, beberapa mahasiswa yang pernah saya bimbing dan menjadi penguji kini telah menyandang gelar doktor. Pengalaman-pengalaman itulah yang semakin meneguhkan keyakinan saya bahwa proses belajar di perguruan tinggi sesungguhnya berlangsung dua arah.

Hakikat Menjadi Dosen

Seorang dosen pada pada dasarnya adalah ilmuwan. Tugasnya bukan sekadar menyampaikan pengetahuan yang sudah ada, tetapi juga terus mencari, menguji, mengembangkan, bahkan mengoreksi pengetahuan melalui penelitian dan pemikiran kritis. Ilmu pengetahuan tidak pernah berhenti berkembang. Karena itu, seorang dosen dituntut menjadi pembelajar sepanjang hayat.

Dalam tradisi akademik, dosen sering dipahami sebagai seeker of truth, pencari kebenaran. Namun, pencarian itu tidak berarti bahwa dosen selalu benar. Dosen dapat keliru, sebagaimana mahasiswa juga dapat melakukan kekeliruan. Meski demikian, ada satu prinsip yang semestinya tetap dijaga, yakni kejujuran. Nasihat klasik bahwa seorang dosen tidak boleh berbohong tetap relevan hingga kini karena kepercayaan adalah fondasi utama kehidupan akademik.

Menjadi dosen juga berarti menjadi pendidik, bukan hanya pengajar. Mengajar berkaitan dengan penyampaian pengetahuan, sedangkan mendidik menyangkut pembentukan karakter, integritas, cara berpikir, etika akademik, dan tanggung jawab sosial mahasiswa. Tidak sedikit mahasiswa yang pada akhirnya lupa isi materi kuliah, tetapi tetap mengingat cara dosennya berpikir, bersikap, dan memperlakukan orang lain. Pengalaman semacam itu sering kali justru menjadi pelajaran yang bertahan paling lama.

READ  Lost Generation di Papua: Generasi Muda Nduga Kehilangan Masa Depannya

Pengalaman pribadi memperkuat pemahaman saya tentang makna relasi tersebut. Ketika menempuh pendidikan pascasarjana, saya lebih sering berkonsultasi mengenai penulisan tesis di kafetaria kampus daripada di ruang kerja dosen pembimbing. Selama dua tahun menempuh studi magister dan tujuh tahun menyelesaikan studi doktoral, beliau hampir selalu mentraktir saya setiap kali bimbingan. Setiap kali saya berusaha membayar, beliau dengan halus menolaknya. Bahkan, sering kali konsultasi dilakukan pada malam hari di kediamannya dan diakhiri dengan makan malam bersama keluarganya.

Bagi saya, pengalaman itu adalah sebuah keistimewaan yang sulit dilupakan. Kesadaran atas perhatian dan ketulusan beliau saya balas dengan berusaha menyelesaikan penulisan tesis, meskipun harus melalui proses revisi yang tidak terhitung jumlahnya. Dari pengalaman tersebut saya belajar bahwa relasi akademik tidak hanya dibangun melalui transfer pengetahuan, tetapi juga melalui keteladanan, kepedulian, dan penghargaan terhadap proses belajar.

Selain sebagai pendidik, dosen juga adalah penghasil pengetahuan (knowledge creator). Melalui penelitian, publikasi ilmiah, inovasi, dan pengabdian kepada masyarakat, dosen bersama mahasiswa bimbingannya diharapkan berkontribusi terhadap perkembangan ilmu pengetahuan sekaligus membantu menjawab berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat.

Dalam praktiknya, harapan tersebut tidak selalu mudah diwujudkan. Salah satu amanat konstitusi untuk mencerdaskan kehidupan bangsa sering kali berjalan beriringan dengan ambisius perguruan tinggi mengejar berbagai ukuran kinerja, termasuk predikat world class university. Akibatnya, hasil penelitian dosen dan mahasiswa yang semestinya menjadi sarana berbagi pengetahuan sering kali lebih dipandang sebagai indikator untuk mengejar pemeringkatan, akreditasi, atau berbagai predikat kelembagaan lainnya.

Padahal, berbagai capaian tersebut tetap perlu ditempatkan dalam perspektif yang lebih luas. Apa makna akreditasi unggul jika jumlah mahasiswa baru terus menurun? Apa pula arti berbagai penghargaan akademik apabila sekitar satu juta lulusan sarjana hingga doktor dari berbagai program studi, termasuk dari program studi yang terakreditasi unggul, masih menghadapi pengangguran (Kompas, 7/8/2026).

Pertanyaan-pertanyaan tersebut bukan dimaksudkan untuk menafikan pentingnya akreditasi, pemeringkatan, atau reputasi akademik. Semua itu tetap memiliki arti bagi perkembangan perguruan tinggi. Namun, capaian tersebut sebaiknya dipandang sebagai sarana untuk meningkatkan mutu pendidikan, bukan sebagai tujuan yang berdiri sendiri.

Pada akhirnya, perguruan tinggi semestinya tetap menjadi ruang untuk belajar, mengembangkan ilmu pengetahuan, dan menghasilkan manfaat bagi masyarakat. Peringkat dan akreditasi tentu penting, tetapi keduanya bukan tujuan akhir. Hakikat perguruan tinggi tetap terletak pada kemampuannya melahirkan ilmu pengetahuan, membentuk manusia yang berintegritas, serta memberikan kontribusi nyata bagi kehidupan masyarakat.

Relasi Dosen dan Mahasiswa

Pada pada dasarnya, relasi antara dosen dan mahasiswa bukanlah hubungan atasan dan bawahan, bukan pula hubungan antara penjual dan pembeli jasa pendidikan. Relasi tersebut adalah hubungan kemitraan akademik yang dibangun di atas tujuan bersama, yaitu mencari kebenaran melalui ilmu pengetahuan sekaligus mengembangkan kualitas manusia. Dosen dan mahasiswa memang memiliki peran yang berbeda, tetapi keduanya berkembang dalam proses yang sama.

READ  Permai Kupang Desak Kapolda NTT Usut Tuntas Mafia Distribusi BBM di Manggarai

Dosen memiliki pengalaman, kompetensi, dan tanggung jawab akademik yang lebih besar. Mahasiswa datang ke perguruan tinggi untuk belajar. Namun, belajar tidak pernah berlangsung dalam satu arah. Dosen mengajar mahasiswa, tetapi mahasiswa juga memperkaya dosen melalui pertanyaan, sudut pandang baru, serta keberanian menguji berbagai gagasan. Tidak sedikit dosen yang mengakui bahwa banyak pemikiran baru justru lahir dari dialog dengan mahasiswanya.

Pengalaman itulah yang saya rasakan selama membimbing dan menguji mahasiswa Program Sarjana, Magister, dan Doktor yang berasal dari berbagai daerah dengan latar belakang sosial, budaya, ekonomi dan pengalaman hidup yang beragam. Setiap mahasiswa menghadirkan perspektif, pengalaman, dan persoalan yang berbeda. Dalam proses membimbing penelitian maupun penulisan karya ilmiah, saya tidak hanya mendampingi mereka untuk belajar, tetapi juga memperoleh banyak pelajaran baru dari pengalaman yang mereka bawa.

Pada awalnya, relasi tersebut memang adalah hubungan antara pendidik dan peserta didik. Namun, seiring berkembangnya proses pembelajaran, terutama ketika mahasiswa memasuki tahapan penelitian dan penulisan karya ilmiah, relasi itu semestinya berkembang menjadi hubungan antara mentor dan mentee. Dalam relasi seperti ini, dosen tidak sekadar memberikan arahan, tetapi juga mendampingi mahasiswa mengembangkan cara berpikir ilmiah, membangun kemandirian akademik, serta menjaga integritas dalam setiap tahapan penelitian.

Di sisi lain, mahasiswa tidak lagi hanya menjadi penerima pengetahuan. Mereka tumbuh sebagai mitra dialog yang aktif, kritis, dan terbuka terhadap berbagai gagasan baru. Relasi semacam ini memungkinkan dosen dan mahasiswa saling belajar tanpa menghilangkan perbedaan peran dan tanggung jawab akademik yang melekat pada masing-masing.

Pemahaman tersebut semakin saya rasakan ketika membimbing mahasiswa menyusun skripsi, tesis, maupun disertasi. Pada tahap itu, hubungan dosen dan mahasiswa tidak lagi semata-mata berlangsung di ruang kuliah. Proses membaca, berdiskusi, mengkritisi data, memperbaiki argumentasi, hingga menyempurnakan karya ilmiah menjadi ruang belajar bersama yang memperkaya kedua belah pihak. Tidak sedikit sudut pandang baru yang saya peroleh justru dari pengalaman empiris mahasiswa di lapangan, terutama mereka yang berasal dari daerah, profesi, dan latar belakang budaya yang berbeda.

Karena itu, relasi dosen dan mahasiswa tidak seharusnya berhenti pada hubungan formal yang dibatasi oleh ruang kelas atau administrasi akademik. Relasi tersebut perlu dipahami sebagai proses pendampingan intelektual yang mendorong tumbuhnya kepercayaan, keterbukaan, dan saling menghormati. Dalam suasana seperti itulah dialog akademik dapat berkembang secara sehat dan menghasilkan pembelajaran yang bermakna.

READ  Bank NTT Perkuat Komitmen Pelestarian Laut Lewat Dukungan Konservasi Terumbu Karang di Lembata

Dosen dan mahasiswa pada akhirnya adalah bagian dari komunitas ilmiah yang memiliki tujuan bersama, yaitu mengembangkan ilmu pengetahuan dan menghadirkan manfaat bagi masyarakat. Tujuan tersebut diwujudkan melalui penelitian, publikasi ilmiah, seminar, diskusi akademik, maupun kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Dalam berbagai aktivitas itu, dosen menjalankan peran membimbing berdasarkan pengalaman dan tanggung jawab akademiknya, sedangkan mahasiswa didorong untuk berpartisipasi secara aktif, kritis, kreatif, dan inovatif.

Dengan demikian, relasi dosen dan mahasiswa berkembang dari hubungan antara pengajar dan pembelajar menjadi kolaborasi akademik yang saling memperkaya. Dosen membimbing berdasarkan pengalaman dan keilmuannya, sementara mahasiswa menghadirkan energi, gagasan, dan perspektif baru yang ikut memperkaya proses pencarian pengetahuan. Hubungan yang dibangun atas dasar saling menghormati dan saling belajar inilah yang menjadi fondasi penting bagi berkembangnya tradisi akademik yang sehat.

Pada akhirnya, kualitas sebuah perguruan tinggi tidak hanya ditentukan oleh gedung yang megah, peringkat internasional, atau berbagai capaian administratif lainnya. Semua itu memang penting sebagai bagian dari upaya meningkatkan mutu pendidikan tinggi. Namun, kualitas perguruan tinggi juga tercermin dari relasi akademik yang tumbuh dan dipelihara di dalamnya.

Relasi yang sehat antara dosen dan mahasiswa dibangun di atas rasa saling menghormati, saling percaya, dan komitmen untuk terus belajar. Dalam relasi seperti itu, dosen menjalankan perannya sebagai pendidik, pembimbing, sekaligus ilmuwan yang terus belajar. Sebaliknya, mahasiswa tidak hanya menjadi penerima pengetahuan, tetapi juga tumbuh sebagai pembelajar yang aktif, kritis, prinsipil dan bertanggung jawab.

Hubungan semacam ini tidak selalu berarti bahwa dosen dan mahasiswa akan memiliki pandangan yang sama. Perbedaan pendapat adalah bagian yang wajar dalam kehidupan akademik. Justru melalui dialog yang terbuka, argumentasi yang rasional, dan sikap saling menghargai, ilmu pengetahuan dapat terus berkembang. Yang perlu dijaga adalah agar setiap perbedaan tetap berada dalam koridor etika akademik dan semangat untuk bersama-sama mencari kebenaran.

Pengalaman saya sebagai mahasiswa maupun sebagai dosen mengajarkan bahwa relasi akademik yang baik tidak dibangun oleh rasa takut, tetapi juga oleh keteladanan, kepercayaan, dan penghormatan terhadap martabat setiap insan akademik. Dalam suasana seperti itulah proses belajar tidak hanya menghasilkan lulusan yang menguasai ilmu pengetahuan, tetapi juga pribadi-pribadi yang berintegritas.

Pada akhirnya, ilmu pengetahuan tidak hanya tumbuh melalui buku, laboratorium, atau ruang kuliah. Ilmu pengetahuan juga berkembang melalui perjumpaan antarmanusia yang saling menghargai dalam proses belajar. Ketika dosen dan mahasiswa saling belajar, saling menghormati, dan bersama-sama menjaga integritas dalam kehidupan akademik, di situlah relasi keduanya menemukan makna yang paling mendasar.**

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *