Ketika Lembaran Kitab Suci Jatuh dari Mimbar: Awal Jalan Bersama Pater Thomas Krump

Br Flavianus Ngardi bersama Pater Thomas Krump

Oleh: Br Flavianus Ngardi MTB

Kenangan tentang Pater Thomas Krump, SVD, tidak pernah benar-benar selesai untuk diceritakan. Ia seperti mata air yang terus mengalir di dalam ingatan kadang tenang, kadang kembali deras ketika disentuh oleh peristiwa kecil yang mengingatkan saya pada masa lalu. Waktu telah berjalan jauh, tetapi jejak langkahnya tetap hidup dalam perjalanan panggilan saya hingga hari ini. Sering kali saya menyadari bahwa Tuhan menulis kisah hidup manusia bukan melalui peristiwa-peristiwa besar yang gemuruh, melainkan melalui kejadian-kejadian kecil yang tampaknya sederhana. Namun justru di situlah rahmat bekerja secara diam-diam. Salah satu peristiwa kecil itu terjadi pada tahun 1989, di sebuah gereja stasi Pahar, Paroki Rejeng.

Saat itu saya masih seorang anak sekolah dasar. Hidup saya sangat sederhana, bahkan mungkin terlalu sederhana untuk disebut sebagai sebuah kisah yang penting. Bahasa Indonesia saya belum lancar. Dunia saya hanyalah rumah, sawah, hutan, sekolah, dan gereja kecil di stasi. Tetapi di tempat sederhana itulah Tuhan mulai membuka sebuah jalan yang sama sekali tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Di masa itu, hidup berjalan mengikuti irama kampung yang tenang. Pagi hari kami pergi ke sekolah dengan langkah kaki yang ringan, siang membantu pekerjaan keluarga, dan sore hari kadang berkumpul bersama teman-teman di halaman gereja yang sunyi. Gereja stasi bagi kami bukan hanya tempat berdoa, tetapi juga ruang perjumpaan yang akrab, tempat kami belajar bernyanyi, mendengar cerita Kitab Suci, dan melihat para imam datang dari tempat yang jauh untuk melayani umat yang sederhana. Saya belum mengerti banyak hal tentang panggilan atau masa depan, tetapi tanpa saya sadari, di ruang kecil itulah benih iman mulai tumbuh perlahan di dalam hati saya.

Setiap Senin terakhir dalam bulan, sebelum berpamitan meninggalkan stasi, Pater Thomas Krump, SVD, memiliki kebiasaan yang khas. Ia mengadakan misa bersama anak-anak sekolah. Tiga sekolah hadir bergantian dalam pelayanan liturgi: SDS Pahar, SDN Raka, dan SDN Ndiwar. Gereja kecil itu selalu terasa lebih hidup ketika anak-anak memenuhi bangku-bangku kayu yang sederhana. Bagi kami, misa sekolah itu bukan sekadar kewajiban rohani, melainkan sebuah peristiwa yang selalu dinantikan. Suasana gereja menjadi lebih ramai dari biasanya: suara anak-anak bernyanyi dengan nada yang kadang tidak seragam, langkah kaki kecil yang bergegas menuju tempat duduk, dan wajah-wajah polos yang mencoba mengikuti jalannya liturgi dengan khidmat. Dalam kesederhanaan itu, kami belajar mengenal gereja sebagai rumah bersama tempat di mana Sabda Tuhan didengar, doa-doa sederhana dinaikkan, dan iman perlahan-lahan tumbuh di dalam hati anak-anak desa seperti kami.

READ  PLN “Sakit” di Ibu Kota NTT: Usaha Lumpuh Akibat Pemadaman Berkepanjangan

Pada suatu hari, entah bagaimana, saya ditunjuk untuk menjadi lektor dalam misa sekolah tersebut. Hari itu saya datang terlambat. Saya masih ingat langkah kaki saya yang tergesa menuju gereja. Dari kejauhan saya melihat Bapak Goris Gaut, Kepala Sekolah SDS Pahar (almarhum), berdiri di depan gereja. Ia memanggil saya dengan isyarat jari, sebuah panggilan yang singkat tetapi tegas. Tanpa banyak berpikir saya segera berlari masuk ke sakristi. Dalam langkah yang tergesa itu saya tidak menyadari bahwa saya sebenarnya sedang melangkah menuju sebuah peristiwa kecil yang kelak mengubah arah hidup saya. Kadang-kadang panggilan Tuhan tidak datang dalam bentuk yang megah atau suara yang menggema dari langit. Ia hadir dalam gerakan sederhana sebuah isyarat jari dari seorang guru, langkah kaki seorang anak yang berlari ke gereja, dan keberanian kecil untuk mengatakan “ya” meskipun hati masih dipenuhi rasa gugup. Dari peristiwa yang tampaknya biasa itulah Tuhan mulai menenun kisah yang lebih besar daripada yang dapat saya bayangkan pada waktu itu.

Br Flavianus Ngardi bersama Pater Thomas Krump

Di dalam sakristi, Pater Thomas sudah menunggu. Beliau tidak banyak bicara. Dengan sikap yang sederhana ia menyerahkan kepada saya sebuah Kitab Suci bacaan harian. Kitab itu sudah tampak tua dan usang. Halaman-halamannya sedikit menguning, seolah telah melewati banyak tangan dan banyak doa. Saat itu saya tidak memikirkan apa pun. Saya hanya tahu bahwa saya diminta membaca Sabda Tuhan. Ketika misa berlangsung dan tiba giliran saya membaca, jantung saya berdegup sangat cepat. Saya berdiri di mimbar dengan tangan yang gemetar. Mata saya mencoba mengikuti baris demi baris tulisan di halaman Kitab Suci itu.

Lalu peristiwa kecil itu terjadi. Salah satu lembar dari Kitab Suci yang saya pegang terlepas dan jatuh ke lantai gereja. Suara kertas yang menyentuh lantai terasa begitu keras di telinga saya. Dalam sekejap rasa gugup memenuhi diri saya. Dengan tangan yang semakin gemetar saya membungkuk mengambilnya kembali. Saya hampir tidak berani menatap umat yang hadir di gereja. Namun saya melanjutkan bacaan itu. Entah bagaimana, setelah lembar itu saya ambil kembali, kata-kata yang saya baca justru mengalir dengan lebih tenang. Kalimat demi kalimat Sabda Tuhan keluar dari mulut saya dengan lancar hingga selesai. Teman-teman yang hadir dalam misa tampak heran, tetapi semuanya berjalan baik. Misa berlanjut seperti biasa. Bagi orang lain, mungkin peristiwa itu tidak berarti apa-apa. Hanya sebuah kejadian kecil dalam misa sekolah. Tetapi rupanya peristiwa sederhana itu menarik perhatian Pater Thomas.

READ  Gubernur NTT Kuliah Umum di Universitas Indonesia, Perkenalkan Simfoni Budaya Sumba

Setelah misa selesai, beliau mulai bertanya tentang saya, siapa saya, dari keluarga mana saya berasal. Pertanyaan-pertanyaan itu disampaikan dengan nada yang tenang, tetapi terasa penuh perhatian. Bapak Goris Gaut dan Bapak Philipus Rebiru kemudian menjelaskan bahwa saya adalah anak dari Bapak Ignas Gentor, yang saat itu dikenal sebagai ketua kelompok atau kring di stasi kami. Ayah saya sendiri telah almarhum. Pater Thomas lalu menanyai saya beberapa hal sederhana: saya duduk di kelas berapa, bagaimana kehidupan keluarga saya, dan bagaimana saya menjalani hari-hari di kampung. Saya menjawab dengan bahasa Indonesia yang terbata-bata. Maklum, saat itu saya belum terbiasa menggunakan bahasa tersebut. Kata-kata saya sering terputus-putus, bercampur dengan bahasa daerah, tetapi beliau mendengarkan dengan sabar, seolah-olah setiap kalimat yang keluar dari mulut seorang anak kecil itu memiliki arti yang penting.

Kemudian beliau mengatakan sesuatu yang sama sekali tidak saya duga. Dengan nada yang sangat sederhana, hampir seperti sebuah ajakan yang biasa saja, ia menawarkan agar saya tinggal bersamanya untuk membantu merawat kuda. Dalam bahasa setempat pekerjaan itu disebut “liwing jarang.” Rupanya dua ekor kuda inilah yang saya rawat dan sekaligus menemani kami untuk mengunjungi stasi-stasi bagian belahan barat dan selatan tanah lelak. Kecuali yang bagian timur pater dan saya menggunakan motor atau jalan kaki. Bagi saya yang masih anak-anak, kata-kata itu terasa seperti pintu yang tiba-tiba terbuka ke sebuah dunia yang sama sekali baru, dunia yang saat itu belum saya mengerti, tetapi kelak akan menjadi bagian penting dari perjalanan hidup saya. Bapak Goris Gaut dan Bapak Philipus Rebiru tampak kaget mendengar tawaran itu. Namun seketika wajah mereka berubah menjadi penuh kegembiraan. Mereka memeluk saya sambil berkata dengan penuh harapan, “Terima saja, nana… ini kesempatan baik.” Saya sendiri tidak sepenuhnya mengerti apa arti dari tawaran itu. Saya hanya merasa bahwa sesuatu sedang berubah dalam hidup saya. Beberapa waktu kemudian Pater Thomas benar-benar meminta saya tinggal di pastoran Ketang, Rejeng, untuk membantu pekerjaan pastoral. Bagi keluarga kami yang hidup dalam keterbatasan ekonomi, tawaran itu bukan sekadar kesempatan bekerja.

Itu adalah jalan harapan. Saya masih mengingat dengan jelas saat ayah saya menyampaikan keputusan itu kepada saya. Matanya berkaca-kaca. Dengan suara yang lembut ia berkata: “Anakku, ini rahmat Tuhan yang datang melalui Pater Thomas. Terimalah dengan syukur.” Kata-kata itu tertanam sangat dalam di hati saya. Sejak hari itu kehidupan saya perlahan berubah. Pastoran menjadi rumah baru bagi saya. Hidup di sana membuka sebuah dunia yang sebelumnya tidak pernah saya kenal. Saya membantu berbagai pekerjaan kecil: menyiapkan perlengkapan misa, merawat kuda, membunyikan lonceng gereja, dan menemani perjalanan pastoral ke berbagai stasi.

READ  Richard Sontani: Labuan Bajo Perlu Membangun Kawasan Penyangga

Namun sebenarnya yang paling penting bukanlah pekerjaan-pekerjaan itu. Yang paling penting adalah kesempatan untuk melihat dari dekat bagaimana seorang imam menghidupi panggilannya. Saya melihat bagaimana Pater Thomas berdoa. Saya melihat bagaimana ia melayani umat dengan kesabaran. Saya melihat bagaimana ia hidup dalam kesederhanaan yang tenang. Semua itu perlahan membentuk cara saya memandang hidup. Saya belajar bahwa panggilan tidak selalu datang melalui suara besar dari langit. Kadang-kadang ia datang melalui perhatian sederhana dari seorang imam kepada seorang anak kecil yang gugup membaca Kitab Suci.

Kini, ketika saya mengenang kembali peristiwa itu, saya tidak lagi melihat jatuhnya lembar Kitab Suci sebagai kesalahan seorang anak yang gugup. Sebaliknya, saya melihatnya sebagai sebuah tanda. Seolah-olah pada saat itu Sabda Tuhan sendiri “jatuh” dari mimbar bukan untuk mempermalukan saya, tetapi untuk masuk ke dalam perjalanan hidup saya. Lembar kertas yang jatuh itu seperti membuka sebuah pintu yang sebelumnya tertutup. Di balik pintu itu ada jalan panjang yang belum saya mengerti saat itu: jalan panggilan, jalan pelayanan, jalan iman.

Dan di awal jalan itu berdiri seorang imam sederhana yang kini telah berpulang: Pater Thomas Krump, SVD. Beliau mungkin hanya melihat sebuah peristiwa kecil di mimbar gereja. Tetapi bagi saya, perhatian kecilnya telah mengubah arah hidup saya. Karena terkadang Tuhan tidak memulai kisah besar dengan peristiwa yang besar. Kadang-kadang Ia memulainya dengan sebuah lembar Kitab Suci yang jatuh dan dengan hati seorang gembala yang cukup peka untuk melihat rahmat di dalamnya. Kini ketika waktu telah membawa beliau kembali ke pangkuan Tuhan, kenangan itu tetap hidup seperti nyala pelita yang tidak padam.

Dalam kesederhanaannya, Pater Thomas telah menjadi “sabda kehidupan” bagi orang-orang kecil yang dilayaninya hadir bukan dengan kata-kata besar, tetapi dengan perhatian yang tulus dan hati yang terbuka. Maka dari lubuk hati yang terdalam, saya hanya dapat berbisik dalam doa: selamat jalan, Pater Thomas. Terima kasih karena melalui hidupmu, Sabda Tuhan pernah menyentuh hidup seorang anak kecil dari stasi terpencil dan menuntunnya berjalan di jalan yang kini ia hidupi dengan syukur. Semoga engkau beristirahat dalam damai Sang Sabda yang dahulu engkau wartakan dengan setia.*** Yogyakarta, 16 Maret 2026

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *