Berita  

Bukan Sekadar Lomba, Beta Bersih dan DLHK Bidik Budaya Pilah Sampah dari Rumah

Kupang, detakpasifik.com- Gerakan kebersihan di Kota Kupang memasuki fase baru. Jika dua periode sebelumnya masih berkutat pada lomba seremonial, periode 2026-2027 dipaksa naik kelas: hasilnya harus nyata di lapangan.

Ketua Satgas Komunitas Beta Bersih, Paulus Irsan Dardana, menegaskan hal itu saat menjadi narasumber Rapat Koordinasi Penanganan Sampah di Kecamatan Alak, Selasa, 20 Oktober 2026.

Menurutnya, lomba kebersihan tingkat kelurahan yang digelar bersama Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Kupang kini memasuki periode ketiga. Bedanya, kriteria penilaian dibuat lebih sederhana agar tidak terjebak pada administrasi, tetapi langsung menyentuh persoalan paling kasat mata.

READ  Sampah Jadi Tiket Baca, Rumah Literasi di Kupang Tanamkan Karakter Anak Desa

“Yang kami dorong sekarang bukan laporan di atas kertas, tapi apa yang benar-benar terlihat bersih di lapangan,” ujar Paulus.

Fokus penilaian pun diperluas. Tidak hanya jalan utama, tim juri akan menyisir kebersihan fasilitas umum, sekolah, rumah ibadah, hingga kali hidup dan kali mati yang selama ini menjadi titik rawan pembuangan liar. Lahan kosong yang kerap dijadikan TPS ilegal juga masuk radar.

Selain itu, tiga titik kunci lain menjadi penentu: kondisi Tempat Penampungan Sementara (TPS), kedisiplinan warga membuang sampah sesuai jadwal, dan kebersihan Kantor Kelurahan sebagai etalase pelayanan.

Namun, Paulus menekankan satu aspek yang selama ini masih lemah: bank sampah dan budaya memilah.

READ  Menafsir Pertanyaan Etis Benny K. Harman soal Vonis Mati Sambo

Ia menilai, tanpa pemilahan dari rumah, semua upaya kebersihan akan mentok di TPA. Karena itu, peran lurah menjadi vital untuk turun langsung menyosialisasikan pemilahan sampah ke warga.

“Sampah itu bukan semuanya limbah. Kalau dipilah, plastik, besi, aluminium, tembaga, bahkan oli bekas punya nilai ekonomi,” tegasnya.

Paulus bahkan memasang target ambisius: pengurangan volume sampah yang masuk ke TPA hingga 50 persen jika gerakan pilah sampah berjalan konsisten dari rumah tangga.

Ia mencontohkan disiplin warga Jepang, di mana kebersihan tidak bergantung pada banyaknya tempat sampah, melainkan pada tanggung jawab personal terhadap sampah yang dihasilkan.

READ  SMP St. Stefanus Ketang Masuki Panca Windu, Rangkaian Perayaan Resmi Diluncurkan

Untuk itu, Beta Bersih mengusulkan strategi sosialisasi yang lebih membumi. Para lurah diminta menyisipkan pesan kebersihan dalam setiap momentum warga, mulai dari pesta, arisan, hingga pertemuan RT.

Bukan ceramah panjang, cukup pesan singkat yang diulang terus-menerus agar menjadi kebiasaan, bukan sekadar slogan.

Harapannya, lomba periode 2026-2027 tidak lagi dimaknai sebagai kompetisi antar kelurahan untuk memperebutkan hadiah. Lebih dari itu, ia harus menjadi pintu masuk membangun budaya baru: Kota Kupang yang lebih sehat, nyaman, dan warganya mendapat manfaat ekonomi dari sampah yang dikelola dengan benar. (JP)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *