Oleh: Juan Pesau
Alumni PMKRI Kupang
Jumat, 25 September 2026. Matahari Kota Kupang seperti sedang tidak mengenal kompromi. Panasnya sungguh membakar kulit, membuat orang lekas mencari teduh, segelas minuman dingin, atau sekadar alasan untuk duduk lebih lama di dalam ruangan.
Kami memilih sebuah meja di Dapur Caca, di bilangan Utara Kota Kupang.
Di tempat itu, dahaga sebenarnya cuman alasan pembuka. Sebab, begitu duduk dan percakapan dimulai, yang mengalir bukan hanya minuman, melainkan juga cerita. Tentang masa lalu, pkerjaan, orang-orang yang pernah kami kenal, dan terutama sebuah rumah yang pernah menjadi tempat bertumbuh banyak anak muda. Marga PMKRI.
Di meja itu ada Kaka Frans Sarong, mantan pimpinan Kompas wilayah Bali-Nusra. Ada Hendra Jasmin, pengusaha muda yang kini sedang merintis jalan usahanya di Kupang. Hendra datang dari Colol, sebuah wilayah di Manggarai Timur yang dikenal dengan tradisi dan kulitas kopinya. Ada pula Edy Naga, anak muda yang cerdas dan cekatan. Sebagai staf pribadi Gubernur NTT, ia tentu cukup akrab dengan lalu lintas orang-orang yang hendak bertemu orang nomor satu di provinsi ini.
Kemudian ada Ran, mahasiswa dari salah satu perguruan tinggi swasta di Kota Kupang. Anak muda yang tampak menyimpan banyak rasa ingin tahu.
Dan saya sendiri.
Seperti biasa, saya mengambil posisi sebagai pemulung informasi.Yang suka mengumpulkan serpihan cerita dari percakapan, menyimpannya dalam ingatan, lalu sesekali mengeluarkannya kembali ketika cerita-cerita itu terasa layak untuk dibagikan.
Ada satu kesamaan yang segera menyatukan meja itu.
Kami semua pernah dilahirkan oleh sebuah perhimpunan. Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia, PMKRI (Cabang Kupang).
Mungkin karena itu, percakapan kami tidak pernah benar-benar jauh dari masa lalu.
PMKRI memang punya cara sendiri untuk tinggal dalam ingatan orang-orang yang pernah berada di dalamnya. PMKRI bukan semata-mata sebuah organisasi mahasiswa. Bagi banyak orang, PMKRI itu adalah ruang tempat seseorang pertama kali belajar berbicara di depan orang lain, belajar berbeda pendapat, belajar berdebat, belajar mengorganisasi kegiatan, belajar bertanggung jawab, sekaligus belajar mengenali dirinya sendiri.
Dan, seperti lazimnya sebuah rumah yang pernah ditinggali, PMKRI meninggalkan banyak kenangan.
Sebagian serius.
Sebagian heroik.
Sebagian lagi sebenarnya konyol, tetapi justru karena kekonyolannya itulah ia sulit dilupakan.
Saya kemudian bercerita tentang satu kisah lama.
Tentang seorang teman perempuan di masa PMKRI yang dulu pernah saya taksir.
Namanya tidak perlu disebut. Toh, zaman sudah berubah. Orang-orang sudah menempuh jalan masing-masing. Bahkan keberadaan teman perempuan itu sekarang entah di mana.
Yang saya ingat justru persaingan kecil dengan seorang teman.
Kami sama-sama menyukai orang yang sama.
Namun, dalam urusan yang satu itu, rupanya teman saya lebih unggul.
Bukan karena ia lebih tampan. Bukan pula karena ia lebih pandai merangkai kata-kata romantis.
Ada strategi sederhana yang waktu itu mungkin tidak pernah kami sadari sebagai strategi.
Setiap kali teman perempuan yang kami sukai itu pergi membeli sesuatu ke kios yang tidak jauh dari Marga, teman saya selalu lebih sigap.
Ia mendapatkan batang rokok.
Saya tidak.
Barangkali sesederhana itu ukuran kemenangan kami pada masa itu. Siapa yang mendapatkan sebatang rokok ketika seseorang pulang dari kios.
Kami tertawa mengingatnya.
Kini, cerita itu mungkin terdengar remeh. Tetapi begitulah kenangan bekerja. Tidak selalu tentang peristiwa-peristiwa besar. Kadang justru benda kecil seperti sebatang rokok, sebuah kios, sebuah bangku, atau perjalanan pendek dari kios menuju Marga yang bertahan paling lama di kepala.
Percakapan kemudian bergeser kepada Marga PMKRI.
Tentang gedung yang menjadi bagian dari perjalanan banyak kader.
Tentang bagaimana sebuah bangunan, betapapun sederhananya, dapat menyimpan jauh lebih banyak daripada sekadar dinding, pintu, atap, dan lantai.
Di sana ada rapat.
Ada diskusi sampai malam.
Ada perdebatan yang kadang-kadang panas.
Ada tawa.
Ada rencana yang tidak pernah terlaksana.
Ada persahabatan yang bertahan puluhan tahun.
Dan mungkin ada pula cinta-cinta muda yang kandas sebelum sempat menjadi cerita serius.
Marga, dengan demikian, bukan hanya bangunan.
Marga adalah arsip hidup.
Di dalamnya tersimpan jejak generasi demi generasi mahasiswa yang pernah datang dengan kepala penuh gagasan, lalu pergi membawa pengalaman yang kelak membentuk kehidupan mereka.
Karena itu, ketika muncul harapan agar gedung Marga PMKRI segera berubah, yang dibicarakan sebenarnya bukan sekadar pembangunan fisik.
Ada kerinduan untuk melihat sebuah rumah lama mendapatkan kehidupan baru.
Sebuah tempat yang kelak tetap bisa menjadi ruang bertemu bagi generasi yang berbeda.
Pekerjaan Berat di Pundak Edy Naga
Di meja itu, perhatian kemudian mengarah kepada Edi Naga.
Dalam foto, ia tampak sebagai salah satu sosok yang paling muda. Senyumnya lebar. Wajahnya menyimpan kesan seorang anak muda yang masih memiliki cukup banyak energi untuk mengurus perkara-perkara yang sering kali membuat orang lain memilih menghindar.
Edy adalah ketua panitia pembangunan Marga.
Tugas itu, tentu saja, tidak ringan.
Sebab yang harus ia bangun bukan hanya gedung.
Ia juga harus membangun kembali jembatan di antara para alumni.
Para alumni PMKRI kini telah menjadi manusia dengan kesibukan masing-masing. Ada yang menjadi pengusaha. Ada yang menjadi profesional. Ada yang bekerja di lembaga pemerintahan. Ada yang tinggal jauh dari Kupang. Ada yang sibuk mengurus keluarga. Ada pula yang mungkin sudah lama tidak pernah lagi menginjakkan kaki di Marga.
Waktu telah membuat mereka berpencar.
Dan justru di situlah pekerjaan seorang panitia pembangunan menjadi lebih rumit.
Ia bukan hanya soal mengumpulkan dana.
Ia adalah pekerjaan mengumpulkan kembali ingatan.
Menghubungkan orang-orang yang pernah duduk dalam satu lingkaran, tetapi kini hidup di lingkaran yang berbeda.
Mengingatkan bahwa pernah ada sebuah rumah yang mempertemukan mereka.
Bahwa sebelum menjadi apa pun hari ini, mereka pernah menjadi mahasiswa yang datang dengan semangat yang mungkin lebih besar daripada isi dompet.
Rumah yang Tidak Pernah Benar-benar Pergi
Saya kira, itulah sebabnya percakapan di Dapur Caca siang itu terasa lebih panjang daripada yang kami rencanakan.
Kami datang untuk meredakan dahaga.
Tetapi pulang membawa kembali sesuatu yang lebih lama: kenangan.
Matahari Kupang tetap menyengat di luar. Jalanan tetap sibuk. Kota terus bergerak seperti biasa.
Sementara di sebuah meja makan, beberapa orang yang pernah ditempa oleh perhimpunan duduk berhadapan dan menghidupkan kembali cerita-cerita lama.
Kami tertawa tentang cinta masa muda.
Kami mengingat rokok yang pernah menjadi alat persaingan.
Kami berbicara tentang orang-orang yang kini entah berada di mana.
Dan akhirnya, kami sampai pada satu harapan yang jauh lebih besar daripada semua nostalgia itu: Marga PMKRI hendaknya segera berubah.
Bukan supaya masa lalu dihapus.
Justru sebaliknya.
Supaya masa lalu mempunyai rumah baru untuk dikenang.
Sebab sebuah organisasi boleh berganti generasi. Orang-orang boleh datang dan pergi. Gedung boleh direnovasi. Cat dinding boleh berubah warna. Atap boleh diganti. Ruang-ruang bisa diperluas.
Tetapi ingatan tentang sebuah rumah yang pernah mempertemukan manusia-manusia muda dengan cita-citanya, semestinya tidak ikut roboh.
Dan mungkin, di pundak Edi Naga serta kawan-kawan panitia pembangunan, harapan itulah kini diletakkan.
Harapan untuk membuat Marga kembali menjadi rumah.
Rumah bagi mereka yang pernah tumbuh di dalamnya.
Dan, lebih penting lagi, rumah bagi mereka yang belum lahir sebagai cerita. Begitulah.











