Saat Mencari Mata Air di Rawa Kering

Ketika air yang dahulu menghidupi kampung perlahan menghilang, yang mengering bukan hanya rawa, tetapi juga kesadaran kita tentang hubungan manusia dengan alam.

Valensius Ngardi (dokpri)

Oleh: Valensius Ngardi (Peneliti, Pemerhati ekologis)

Pada Juli 2026, ketika berlibur di kampung Pahar, Desa Gelong, Kecamatan Lelak, Manggarai, saya berbincang bersama keluarga tentang sesuatu yang sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan kami: air.Air yang dahulu cukup untuk kebutuhan rumah tangga dan pertanian kini semakin berkurang. Bahkan mata air yang pernah muncul di kawasan rawa tidak lagi mudah ditemukan.Saya terdiam. Ada perasaan aneh ketika sesuatu yang selama ini kita anggap biasa tiba-tiba menjadi langka. Kita sering baru menyadari betapa berharganya air ketika air itu mulai sulit ditemukan.

Dari percakapan sederhana itu, muncul banyak pertanyaan. Mengapa bukit di sana dibuka dan ditanami kopi serta jahe, sementara kawasan itu merupakan hutan yang seharusnya dilindungi? Mengapa kita jarang duduk bersama membicarakan sumber air yang mengalir ke rumah-rumah dan sawah? Mengapa air untuk kebutuhan rumah tangga kadang terbuang, sementara petani harus menunggu air untuk sawahnya? Dan ketika air semakin terbatas, apakah kita perlu memikirkan pola pertanian yang lebih sesuai dengan kondisi alam?Malam itu kami tidak menemukan semua jawabannya. Tetapi saya semakin sadar bahwa persoalan besar sering kali bermula dari pertanyaan-pertanyaan sederhana yang tidak pernah sungguh-sungguh kita bicarakan.

Kehadiran jaringan perpipaan di rumah-rumah warga di kampung saya, tentu merupakan sebuah kemajuan. Warga tidak perlu lagi berjalan jauh untuk mengambil air. Cukup membuka keran, air mengalir dan kebutuhan sehari-hari dapat dipenuhi. Namun, kemudahan itu kadang membuat kita lupa bertanya: dari mana air itu berasal? Air yang keluar dari keran di rumah tidak pernah berdiri sendiri. Ia mempunyai perjalanan panjang. Air itu mungkin berasal dari hujan yang jatuh di bukit, meresap ke tanah, disimpan oleh alam, lalu perlahan-lahan keluar sebagai mata air.

Karena itu, ketika kita berbicara tentang mata air, sebenarnya kita sedang berbicara tentang hutan. Selama hutan masih terjaga, pepohonan, semak, rerumputan, serasah dan tanah membantu menahan air hujan agar tidak langsung mengalir begitu saja. Akar tanaman membuat ruang-ruang di dalam tanah sehingga air dapat meresap. Air yang masuk ke dalam tanah kemudian menjadi cadangan yang dapat dilepaskan perlahan dan pada tempat tertentu muncul kembali sebagai mata air. Mata air, dengan demikian, tidak hanya mempunyai satu titik tempat air keluar dari tanah. Rumah mata air jauh lebih luas: seluruh wilayah tangkapan air yang berada di sekitarnya. Inilah yang mungkin sering kita lupakan.

Kita melihat mata air sebagai sebuah lubang atau tempat keluarnya air. Padahal, kehidupan sebuah mata air ditentukan oleh apa yang terjadi jauh di atasnya di bukit, di hutan, di tanah dan di seluruh wilayah tangkapan air. Ketika hutan dibuka secara berlebihan, hubungan itu mulai terganggu. Air hujan yang seharusnya meresap ke dalam tanah lebih banyak mengalir di permukaan. Tanah mudah terkikis, terjadi erosi, dan semakin sedikit air yang tersimpan sebagai cadangan bawah tanah.

READ  Takut Gempa Susulan, Warga Lelak Pilih Tidur di Tenda Darurat

Akibatnya bisa terasa seperti sebuah paradoks. Pada musim hujan, air dapat mengalir begitu deras, membawa tanah dan menyebabkan erosi atau banjir. Tetapi ketika musim kemarau datang, air justru menjadi sangat sedikit. Mata air yang dahulu mengalir perlahan mulai mengecil, bahkan bisa menghilang.

Maka ketika kita bertanya, “Mengapa mata air di rawa Pahar semakin kecil?”, jawabannya tidak cukup hanya dengan mengatakan bahwa hujan semakin sedikit. Kita perlu bertanya lebih jauh: bagaimana keadaan hutan di wilayah hulu? Apakah daerah tangkapan air masih terlindungi? Bagaimana kondisi tanahnya? Berapa banyak tutupan hutan yang berubah menjadi kebun atau lahan terbuka? Sebab mata air yang kita cari hari ini mungkin sesungguhnya sedang kehilangan rumahnya.

Saya tidak ingin melihat persoalan ini hanya sebagai persoalan lingkungan. Di balik berkurangnya air ada kehidupan manusia. Petani membutuhkan air untuk sawah. Keluarga membutuhkan air untuk memasak, minum dan mencuci. Tanaman membutuhkan air untuk tumbuh. Hewan membutuhkan air untuk hidup. Karena itu, ketika mata air berkurang, yang terancam bukan hanya alam, tetapi juga kehidupan keluarga dan masa depan masyarakat.

Kopi yang ditanam oleh warga,  mempunyai musim panen. Padi membutuhkan waktu berbulan-bulan. Petani tidak memperoleh hasil pertanian setiap hari. Air menjadi bagian penting dari modal kehidupan mereka. Di sinilah kita perlu berhati-hati ketika berbicara tentang pembukaan hutan untuk kopi, jahe atau tanaman lainnya. Kita tidak bisa begitu saja menyalahkan petani. Mereka juga membutuhkan tanah, pekerjaan dan pendapatan untuk menghidupi keluarga.

Persoalannya adalah bagaimana kita menemukan cara agar kesejahteraan masyarakat dapat berjalan bersama dengan perlindungan alam. Kita membutuhkan kopi, tetapi kita juga membutuhkan hutan. Kita membutuhkan pendapatan hari ini, tetapi anak-anak kita membutuhkan air esok hari. Pilihan ekologis yang bijaksana bukan berarti melarang manusia mencari kehidupan. Sebaliknya, kita diajak menemukan cara hidup yang tidak menghancurkan sumber kehidupan itu sendiri.

Mungkin kita perlu memikirkan pertanian yang lebih hemat air, melakukan diversifikasi tanaman, menjaga kawasan resapan, dan menggunakan lahan sesuai dengan kemampuan ekologisnya. Sebab keuntungan dari sebuah kebun mungkin dapat dihitung dalam rupiah. Tetapi kehilangan sebuah mata air jauh lebih sulit dihitung.

READ  Empat Kebijakan Prabowo yang Paling Terasa di NTT: Masalahnya Bukan Niat, Tapi Urutan

Krisis air juga mengajarkan kepada kita bahwa air bukan hanya persoalan alam. Air berkaitan dengan kehidupan sosial, ekonomi dan bahkan politik. Ketika membuka keran, kita jarang bertanya siapa yang menjaga sumber airnya, siapa yang membangun jaringan pipanya, bagaimana air dibagi, dan siapa yang paling banyak memperoleh manfaat. Padahal, pengalaman setiap orang terhadap air bisa sangat berbeda.

Bayangkan dua permukiman yang hanya dipisahkan oleh sebuah jalan. Di satu tempat, air mengalir hampir sepanjang hari. Warga memiliki tangki, pompa dan berbagai fasilitas penampungan. Di tempat lain, warga harus menunggu air pada jam tertentu dan menampungnya pada malam hari untuk digunakan keesokan harinya. Mungkin sumber air mereka sama. Tetapi pengalaman mereka terhadap air berbeda. Di sinilah persoalan air menjadi persoalan keadilan. Keadilan tidak cukup hanya dibicarakan dalam khotbah, seminar atau dokumen. Keadilan harus dapat dirasakan ketika seseorang membuka keran. Ia harus hadir dalam saluran air, irigasi, anggaran, tata ruang, aturan desa dan kebijakan pembangunan.

Paus Fransiskus dalam Laudato Si’ mengingatkan bahwa air bersih dan aman merupakan hak asasi manusia yang mendasar dan universal. Karena itu, air tidak boleh hanya dipandang sebagai komoditas. Air adalah syarat utama kehidupan. Krisis air pada akhirnya menyentuh banyak sisi kehidupan: kesehatan, ekonomi, pendidikan, hubungan sosial dan martabat manusia.

Orang yang paling miskin sering bukan mereka yang paling banyak menggunakan air. Tetapi ketika air menjadi langka atau tercemar, merekalah yang sering paling merasakan akibatnya. Ketika memikirkan semua ini, saya teringat seruan Nabi Amos: “Biarlah keadilan bergulung-gulung seperti air.” (Am. 5:24). Kalimat ini terasa semakin kuat ketika dibaca di tengah krisis air. Air mengalir dan mencari jalan. Ia tidak bertanya siapa yang kaya dan siapa yang miskin. Ia tidak memilih siapa yang layak dibasahi.

Keadilan harus mengalir dalam kehidupan kita: dalam cara menggunakan air, dalam cara menjaga hutan, dalam cara membagi air untuk rumah tangga dan sawah, serta dalam keputusan-keputusan pembangunan. Dari sini saya melihat bahwa merawat alam bukan hanya soal menanam pohon. Lebih dalam dari itu, kita sedang belajar memulihkan hubungan manusia dengan alam dan dengan Tuhan. Kerusakan alam pada akhirnya mengundang kita kepada pertobatan ekologis, sebuah kesadaran bahwa manusia bukan penguasa tunggal atas ciptaan, melainkan bagian dari jaringan kehidupan.

Apakah kita sedang mewariskan mata air? Kembali kepada kampung saya di  Pahar, saya tidak tahu kapan mata air di rawa itu akan kembali. Mungkin diperlukan rehabilitasi hutan. Mungkin diperlukan perubahan pola pertanian. Mungkin diperlukan kesepakatan masyarakat. Mungkin diperlukan kebijakan pemerintah desa. Mungkin semuanya harus dilakukan bersama-sama. Namun, saya pulang dari kampung dengan sebuah kesadaran baru: mencari mata air sesungguhnya adalah mencari kembali kesadaran manusia tentang ketergantungannya pada alam.

READ  Menimbang Ulang Dana Reses DPR: Antara Fungsi Aspirasi dan Efisiensi Anggaran

Kita bernapas karena hutan. Kita makan karena tanah. Kita hidup karena air. Selama ini kita mungkin merasa bahwa manusialah yang menguasai alam. Padahal, tanpa alam yang sehat, kehidupan kita sendiri tidak akan bertahan. Karena itu, ketika mata air menghilang, mungkin alam sedang menyampaikan sebuah pesan. Pertanyaannya sederhana: apakah kita masih mau mendengarkannya?

Saya membayangkan suatu hari anak-anak di Pahar berjalan ke rawa dan bertanya kepada orang tua mereka: “di mana mata air yang dahulu ada di sini?” Saya berharap jawaban orang tua mereka bukan: “dahulu, di sini pernah ada mata air.” Saya berharap mereka dapat menunjuk sebuah tempat dan berkata:“Di sinilah mata air itu. Kami menjaganya bersama-sama.”

Sebab warisan terbaik yang dapat kita tinggalkan bukan hanya kebun yang luas, rumah yang bagus atau harta yang cukup. Warisan terbaik adalah sebuah mata air yang tetap mengalir bagi generasi yang belum lahir. Mungkin itulah makna terdalam dari merawat hutan: bukan sekadar menjaga pohon agar tetap berdiri, tetapi menjaga perjalanan air dari langit menuju tanah, dari tanah menuju mata air, dan dari mata air menuju kehidupan.

Jika hubungan itu kita putus, kita mungkin masih dapat menikmati hasil kebun untuk beberapa tahun. Tetapi kita bisa kehilangan sesuatu yang jauh lebih sulit dikembalikan; mata air. Dan ketika mata air hilang, yang hilang bukan hanya air. Yang hilang adalah bagian dari masa depan kampung. Karena itu, merawat hutan dan menjaga mata air bukan dua pekerjaan yang berbeda. Keduanya adalah satu panggilan untuk merawat kehidupan.

Di kampung Pahar, mungkin saya sedang belajar kembali sebuah kebenaran sederhana: ketika kita menjaga hutan, sesungguhnya kita sedang menjaga air; ketika kita menjaga air, kita sedang menjaga kehidupan; dan ketika kita menjaga kehidupan, kita sedang merawat hubungan kita dengan sesama, alam, dan Tuhan. Semoga suatu hari nanti, air kembali mengalir di rawa Pahar. Dan ketika itu terjadi, semoga kita tidak hanya bersyukur karena menemukan air, tetapi juga bersyukur karena telah menemukan kembali hati kita untuk merawat rumah bersama. **

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *