Lima Tahun Viktor Laiskodat dan Jalan Panjang Seorang Perantau yang Ingin Mengubah NTT

Lima tahun memimpin NTT meninggalkan jejak kebijakan, kontroversi, dan kenangan tentang seorang Viktor Laiskodat yang memilih jalan keras untuk mendorong perubahan, namun tetap kembali hadir ketika warga Flores dilanda bencana.

Viktor Bungtilu Laiskodat (tampak belakang) saat meninjau kondisi rumah warga terdampak Gempa Flores.

catatan Juan Pesau

Detakpasifik- Ada orang-orang yang meninggalkan jabatan, tetapi tidak serta-merta meninggalkan tempat yang pernah dipimpinnya.

Viktor Bungtilu Laiskodat mungkin salah satunya.

Beberapa tahun setelah tidak lagi duduk di kursi Gubernur Nusa Tenggara Timur, nama Viktor masih mudah ditemukan dalam percakapan tentang provinsi ini. Bukan hanya karena kebijakan-kebijakannya, bukan pula semata karena ucapan-ucapannya yang kerap mengundang pedebatan, tetapi karena ada jejak yang belum sepenuhnya selesai dibicarakan.

Lima tahun kepemimpinannya, sejak terpilih dalam Pilkada 2018 bersama Josef Nae Soi, adalah sebuah masa yang barangkali terlalu rumit jika hanya diringkas dalam kata berhasil atau gagal.

Ada kebijakan yang dipuji.

Ada keputusan yang dicurigai.

Ada ucapan yang membuat sebagian orang bertepuk tangan, tetapi pada saat yang sama membuat sebagian lainnya mengernyitkan dahi.

Dan di tengah semua itu, ada seorang Viktor Laiskodat dengan gaya kepemimpinan yang tidak selalu mudah diterima.

Nama Viktor Laiskodat jauh lebih tua daripada masa jabatannya sebagai gubernur.

Ia adalah seorang perantau yang membangun jalan hidupnya di Jakarta. Kisah tentang masa mudanya, perjuangannya, hingga keberhasilannya menjadi salah satu figur yang memiliki pengaruh di tingkat nasional, telah lama beredar.

Bahkan ada cerita yang melekat padanya tentang masa lalu yang keras di ibu kota.

Saya tidak hendak memastikan cerita itu benar atau tidak.

Sebab manusia, pada akhirnya, tidak seharusnya dinilai hanya dari cerita yang beredar tentang masa lalunya.

Yang lebih menarik adalah bagaimana seseorang menggunakan pengalaman hidupnya untuk memandang dunia.

Mungkin pengalaman hidup itulah yang kemudian membentuk Viktor menjadi seorang pemimpin dengan karakter yang keras, spontan dan terkadang meledak-ledak.

Kalau kita perhatikan, Viktor memang bukan tipe pemimpin yang selalu memilih kalimat aman.

Ia bisa berbicara dengan cara yang membuat orang terkejut.

READ  Indonesia Dalam Pusaran Konstelasi Ekonomi Politik Global

Ia bisa mengambil keputusan yang membuat banyak orang bertanya-tanya.

Dan barangkali karena itulah, selama memimpin NTT, Viktor tidak pernah benarbenar jauh dari kontroversi.

Tetapi di balik suara yang keras, selalu ada pertanyaan yang lebih penting. Apa yang sebenarnya hendak ia lakukan?

Salah satu yamg paling sering dibicarakan adalah keputusan pemerintahannya mencari pembiayaan pembangunan melalui PT Sarana Multi Infrastruktur.

Bagi sebagian masyarakat, langkah itu sederhana saja untuk dibaca. NTT berutang.

Lalu lahirlah berbagai kritik.

Viktor dianggap membawa provinsi ini masuk ke dalam lingkaran utang.

Tetapi dari sudut pandang yang berbeda, keputusan itu dapat dibaca sebagai keberanian mengambil pembiayaan untuk mengejar ketertinggalan infrastruktur yang selama puluhan tahun menjadi persoalan NTT.

Logikanya kurang lebih sederhana: pembangunan tidak boleh berhenti hanya karena uang daerah terbatas.

Lebih baik membayar cicilan pembangunan daripada membiarkan masyarakat terus mencicil penderitaan akibat jalan yang rusak dan infrastruktur yang tidak kunjung dibangun.

Di situlah persoalan VBL menjadi menarik.

Barangkali ia tidak selalu pandai menjelaskan maksudnya dengan bahasa yang lembut.

Barangkali ia terlalu sering berbicara dari sudut pandangnya sendiri.

Barangkali ia lupa bahwa masyarakat tidak hanya membutuhkan keputusan, tetapi juga membutuhkan penjelasan tentang mengapa sebuah keputusan harus diambil.

Namun sebuah kebijakan tetap perlu dilihat dari niat, proses, manfaat, sekaligus konsekuensinya, bukan hanya dari suara paling keras yang mengiringinya.

Ada pula sisi Viktor yang mungkin tidak terlalu banyak dibicarakan.

Tentang kebiasaannya ketika melakukan perjalanan ke daerah.

Ia tidak selalu ingin rombongannya menginap di hotel.

Dalam beberapa kesempatan, ia justru meminta rombongan menginap di rumah-rumah warga.

Kebiasaan itu terdengar sederhana.

Tetapi bagi seorang pemimpin, tinggal semalam di rumah warga berarti membuka kesempatan untuk melihat kehidupan masyarakat dari jarak yang lebih dekat.

READ  Bank NTT Perkuat Pembiayaan Perumahan Gandeng 35 Developer Demi Perluas Akses Kepemilikan Rumah di NTT

Bukan dari balik kaca mobil.

Bukan dari ruang rapat.

Bukan pula dari laporan yang sudah disusun rapi para pejabat.

Saya sendiri pernah merasakan repotnya mencari rumah warga yang bisa ditempati semalam ketika rombongan masuk ke sebuah pedesaan di Manggarai Timur.

Lintang-pukang mencari rumah.

Bertanya dari satu orang ke orang lainnya.

Mencari tempat untuk sekadar merebahkan badan setelah perjalanan panjang.

Pada saat itu, mungkin terasa merepotkan.

Tetapi bertahun-tahun kemudian, pengalaman kecil semacam itu justru menjadi bagian dari ingatan yang sulit dilupakan.

Sebab ada pemimpin yang mendatangi kampung dengan rombongan besar, lalu kembali ke kota.

Ada pula pemimpin yang setidaknya pernah mencoba membawa rombongannya tidur di rumah warga.

Dua-duanya sama-sama perjalanan dinas.

Tetapi pengalaman manusianya berbeda.

Karena itu, mengenang Viktor Laiskodat tidak cukup hanya dengan mengingat pidato-pidatonya.

Tidak cukup pula hanya dengan menghitung berapa proyek yang dibangun atau berapa rupiah anggaran yang dikeluarkan.

Ada manusia di balik kebijakan.

Ada watak di balik keputusan.

Ada pengalaman hidup yang mungkin ikut membentuk cara seseorang memimpin.

Dan ada pula masyarakat yang menjadi tujuan akhir dari seluruh kebijakan itu.

Barangkali di situlah kita perlu menempatkan Viktor secara lebih adil.

Bukan untuk menghapus kritik.

Bukan pula untuk menganggap semua kebijakannya benar.

Tetapi untuk melihat bahwa seorang pemimpin dapat memiliki kekurangan sekaligus niat baik dalam waktu yang sama.

Beberapa waktu lalu, ketika gempa Flores mengguncang dan merobohkan rumah-rumah warga, Viktor kembali terlihat di antara masyarakat.

Ia datang bersama istrinya.

Keluar masuk kampung.

Melihat rumah-rumah yang roboh.

Menjumpai keluarga yang kehilangan tempat tinggal.

Dan membawa bantuan untuk warga terdampak.

Saat itu Viktor bukan lagi Gubernur NTT.

Tidak ada kewajiban konstitusional yang memaksanya berdiri di antara puing-puing rumah warga.

READ  Tiga Tekanan terhadap Kepemimpinan Melki Laka Lena

Tidak ada kursi kekuasaan yang harus dipertahankan.

Tidak ada pidato pelantikan yang harus disampaikan.

Ia datang sebagai seorang manusia yang melihat sesamanya sedang mengalami kesusahan.

Barangkali justru di situlah sebuah jabatan menemukan makna yang paling sederhana.

Bahwa kekuasaan boleh berakhir, tetapi rasa memiliki terhadap tempat yang pernah dipimpin tidak harus ikut berakhir.

Viktor Laiskodat telah melewati masa pemerintahannya.

NTT pun terus berjalan.

Gubernur berganti, kebijakan berubah, persoalan baru datang silih berganti.

Tetapi lima tahun kepemimpinan Viktor tetap akan menjadi bagian dari perjalanan provinsi ini.

Kelak orang mungkin akan memperdebatkan apakah kebijakannya tepat atau tidak.

Orang akan terus menilai keputusan-keputusannya.

Sebagian mungkin mengenangnya sebagai pemimpin yang kontroversial.

Sebagian lainnya akan mengingatnya sebagai orang yang berani mengambil keputusan.

Dan mungkin ada pula yang cara mengingatnya seperti saya, mengingat hal-hal kecil, yakni seorang gubernur yang meminta rombongannya tidur di rumah warga, seorang perantau yang kembali ke tanah asalnya dengan membawa pengalaman panjang dari ibu kota, atau seorang matan gubernur yang datang bersama istrinya ketika rumah-rumah warga di Flores roboh diterjang gempa.

Pada akhirnya, sejarah seorang pemimpin tidak hanya ditulis oleh dokumen dan angka.

Sejarah mereka juga ditulis oleh ingatan manusia.

Dan di dalam ingatan itulah Viktor Bungtilu Laiskodat, anak orang biasa saja dari pulau kecil, Semau itu, mungkin akan tetap tinggal. Sebagai seorang pemimpin dengan banyak warna, banyak perdebatan, banyak kekurangan, tetapi juga dengan sebuah keyakinan yang barangkali sejak awal tidak pernah berubah, bahwa NTT harus bergerak keluar dari kemiskinan dan keterbelakangan.

Lima tahun mungkin telah berlalu.

Jabatannya sebagai gubernur telah selesai dan berlalu.

Tetapi bagi seorang yang pernah memimpin, barangkali rumah besar bernama NTT tidak pernah benar-benar menjadi masa lalu.
Begitulah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *