Ketika Gubernur Memindahkan Kantornya ke Jalan-Jalan Flores

Siang, malam, terang maupun gelap, Melki Laka Lena keluar-masuk kampung terdampak gempa. Bahkan meja kerjanya ikut dibawa mendekati warga. Di tengah bencana, ia seperti memindahkan kantor gubernur dari gedung pemerintahan ke jalan-jalan Flores.

Gubernur NTT, Melki Laka Lena saat mengunjungi tenda pengungsian korban gempa Flores.

Detakpasifik- Seorang gubernur biasanya ditemukan di balik meja kerjanya.

Di ruangan yang rapi, punya pendingin udara, tumpukan dokumen, agenda rapat, dan deretan pejabat; beberapa membawa laporan penting, sisanya cuma bawa muka untuk cari-cari perhatian.

Tetapi Melki Laka Lena beberapa hari terakhir justru lebih sering ditemukan di tempat yang sama sekali berbeda.

Di jalan.

Di kampung-kampung.

Di tengah warga yang rumahnya retak, roboh, tak lagi berani mereka tempati.

Sepekan usai gempa mengguncang Flores, gubernur Nusa Tenggara Timur itu seperti memindahkan kantornya dari gedung pemerintahan ke jalan-jalan yang membelah wilayah terdampak bencana.

Siang ia bergerak.

Malam ia masih berada di lapangan.

Terang ia berjalan.

Gelap pun tidak langsung membuat langkahnya berhenti.

“Pak Melki tidak pernah lelah. Keluar masuk kampung menjangkau warga yang terdampak,” cerita seorang teman yang mengetahui perjalanan Gubernur mengunjungi para korban gempa Flores.

Jalan yang baik dilewati. Jalan yang rusak akibat gempa juga diterobos.

Seolah ada satu hal yang jauh lebih penting daripada kenyamanan perjalanan.

Satu hal? Hal apa itu? “Memastikan pemerintah tidak berjarak dengan rakyat yang sedang ditimpa bencana.”

Di Flores, meja kerja Melki pun ikut berpindah-pindah

Bukan lagi hanya berada di ruang kantor.

Meja itu dibawa lebih dekat kepada warga. Di jalan, di kampung, di antara suasana darurat yang membuat batas antara ruang kerja pemerintah dan ruang hidup masyarakat menjadi begitu tipis.

Gubernur berkantor di jalan-jalan Flores.

Dan barangkali, justru di sanalah beberapa keputusan penting dapat lahir.

Bukan dari ruang rapat yang sejuk tenang, tetapi dari suara warga yang didengar langsung.

Bukan dari laporan yang pemimpin dinas yang sudah dirapikan, tetapi dari kenyataan yang dilihat dengan matanya sendiri.

Pemimpin yang Berjalan Bersama Rakyat

Cara Melki berada di tengah masyarakat mengingatkan pada gagasan Robert K. Greenleaf tentang servant leadership atau kepemimpinan yang melayani.

Bagi Greenleaf, kepemimpinan tidak pertama-tama diukur dari seberapa tinggi seseorang duduk di dalam struktur kekuasaan, melainkan dari seberapa besar ia bersedia melayani dan memenuhi kebutuhan orang yang dipimpinnya.

Dalam konteks bencana, gagasan itu menemukan bentuknya yang sangat sederhana.

READ  Bank NTT Siapkan Kuota KUR Rp350 Miliar pada 2026, Fokus Dorong UMKM dan Pekerja Migran

Pemimpin tidak cukup hanya mengirim perintah.

Pemimpin itu perlu hadir.

Tidak cukup hanya menerima laporan.

Pemimpin perlu melihat.

Tidak cukup hanya meminta masyarakat datang ke kantor.

Pada saat tertentu, justru pemimpinlah yang harus datang kepada masyarakat.

Itulah yang terlihat di Flores.

Melki keluar-masuk kampung. Menyusuri jalan yang terdampak. Mendatangi warga. Mendengar keluhan mereka.

Bahkan meja kerjanya ikut dibawa ke tengah masyarakat.

Seolah Melki sedang mengatakan bahwa dalam keadaan darurat, jarak antara kantor gubernur dan rakyat tidak boleh terlalu jauh.

Kepemimpinan kemudian bukan lagi tentang kursi.

Tetapi tentang kehadiran langsung.

Bukan tentang seberapa tinggi jabatan, melainkan seberapa dekat seorang pemimpin dengan orang yang sedang membutuhkan pertolongan.

Bencana juga memperlihatkan sisi lain dari cara seorang pemimpin mengambil keputusan.

Salah satunya melalui seruan Melki agar toko-toko sembako memberikan terlebih dahulu kebutuhan dasar bagi masyarakat terdampak. Urusan pembayaran dapat dilakukan kemudian.

“Ambil dulu, bayar kemudian.”

Kalimat itu sederhana.

Tetapi justru karena kesederhanaannya, keputusan itu mengandung sebuah cara pandang yang menarik.

Dalam keadaan normal, pemerintah bekerja dengan prosedur. Ada administrasi, ada mekanisme, ada aturan yang harus dipenuhi terlebih dahulu.

Namun bencana tidak mesti bekerja dengan logika semacam itu.

Orang lapar tidak bisa menunggu rapat selesai.

Anak-anak yang membutuhkan makanan tidak bisa menunggu dokumen administrasi ditandatangani.

Keluarga yang kehilangan rumah tidak bisa menunggu seluruh mekanisme birokrasi bergerak sempurna.

Karena itu, kebijakan tersebut memang memunculkan beragam reaksi.

Ada yang melihatnya sebagai keberanian mengambil keputusan cepat dalam situasi darurat. Ada pula yang mempertanyakan aspek mekanisme dan administrasinya.

Perdebatan itu sah. Apalagi di ruang publik NTT yang punya kebiasaan cepat sekali menghakimi sebelum benar-benar memahami maksud dari sebuah kebijakan.

Tetapi di balik kebijakan tersebut ada satu hal yang sulit diabaikan yaitu seorang gubernur yang berada di tengah korban bencana tampaknya sedang melihat persoalan dari sisi yang paling elementer.

Manusia harus makan.

Administrasi penting.

Tetapi perut yang lapar lebih mendesak.

Di sinilah pemikiran Aristoteles tentang phronesis atau kebijaksanaan praktis terasa relevan.

READ  Evaluasi Kinerja Bank NTT Berlanjut, Gubernur NTT Bilang Kinerja Pengurus Cukup Baik

Phronesis bukan sekadar mengetahui aturan. Ini adalah kemampuan menggunakan pertimbangan yang bijaksana ketika menghadapi keadaan konkret, ketika kehidupan nyata menghadirkan persoalan yang tidak selalu bisa dijawab hanya dengan rumus dan prosedur.

Bencana adalah salah satu keadaan seperti itu.

Keputusan harus dibuat cepat.

Keadaan terus berubah.

Kebutuhan masyarakat datang hari ini, bukan setelah semua meja birokrasi selesai bekerja.

Tentu, kebijakan darurat tetap membutuhkan pertanggungjawaban dan mekanisme administrasi yang jelas. Tetapi keberanian mengambil keputusan cepat juga menjadi bagian penting dari kepemimpinan ketika masyarakat sedang berada dalam situasi luar biasa.

Barangkali itulah yang terlihat dari kebijakan “ambil dulu, bayar kemudian”.

Bukan berarti administrasi tidak penting.

Tetapi dalam keadaan tertentu, pemimpin harus mampu membedakan mana yang mendesak dan mana yang dapat menyusul.

Perut yang lapar tidak bisa disuruh menunggu.

Kaki yang Terseret

Setelah berhari-hari berada di Flores, Melki akhirnya kembali ke Kupang.

Ada agenda pemerintahan yang harus dijalankan.

Ia melantik Fransiskus Sales Sodo sebagai Sekretaris Daerah definitif NTT.

Namun ada sesuatu yang menarik perhatian ketika gubernur itu muncul.

Kaki kirinya terlihat cedera.

Langkahnya tidak lagi seringan biasanya. Kaki kiri itu tampak seperti sedikit diseret ketika berjalan.

Bagi wartawan, pemandangan tersebut tentu mengundang pertanyaan.

Dalam suasana santai, Melki disentil tentang kemungkinan kakinya terkilir setelah harus keluar-masuk kampung terdampak bencana.

Ia tidak banyak bicara.

Tidak ada cerita panjang tentang rasa sakit.

Hanya senyum tipis yang tersungging di bibirnya.

Senyum yang justru terasa seperti menyimpan cerita.

Seolah-olah ia tidak ingin menjadikan rasa sakit di kakinya sebagai cerita.

Sebab di Flores masih ada warga yang penderitaannya jauh lebih besar.

Ada yang kehilangan rumah.

Ada yang kehilangan rasa aman.

Ada yang masih tidur dalam ketakutan setiap kali bumi kembali berguncang.

Ada keluarga yang masih menunggu kepastian tentang bagaimana mereka akan menjalani hari-hari setelah bencana.

Mungkin karena itu Melki memilih diam.

Sebab jika kaki yang sakit harus dibandingkan dengan rasa sakit masyarakat yang ditemuinya di kampung-kampung terdampak, rasa sakit itu mungkin memang terasa terlalu kecil untuk diceritakan.

READ  Gubernur NTT Konfirmasi SK Sekda Definitif Sudah Diambil, Pelantikan Hans Sodo Disiapkan Besok

Pemimpin yang Datang, Bukan Sekadar Mengirim

Bencana selalu menjadi ujian terhadap kepemimpinan.

Bukan hanya soal seberapa besar anggaran yang tersedia.

Bukan hanya tentang berapa banyak bantuan yang bisa dikirim.

Tetapi juga tentang seberapa dekat pemerintah dengan rakyatnya ketika keadaan sedang tidak baik-baik saja.

Ada perbedaan antara mengirim bantuan dan datang sendiri melihat orang yang menerima bantuan.

Ada perbedaan antara membaca laporan kerusakan dan berdiri sendiri di depan rumah yang roboh.

Ada perbedaan antara menerima informasi tentang jalan rusak dan mengendarai kendaraan melewati jalan itu.

Melki memilih untuk datang.

Keluar-masuk kampung.

Menyusuri jalan.

Mendengar warga.

Melihat sendiri keadaan.

Bahkan membawa meja kerjanya mendekati masyarakat.

Di situ, kantor gubernur bukan lagi sekadar sebuah gedung di Kupang.

Kantor itu bisa berada di tepi jalan Flores.

Bisa berada di sebuah kampung yang baru saja diguncang gempa.

Bisa berada di bawah langit malam.

Bisa berada di tengah suara warga yang sedang bercerita tentang ketakutan mereka.

Dan mungkin, justru di sanalah seorang pemimpin menemukan alasan mengapa ia harus terus berjalan.

Melki pada akhirnya akan kembali ke kantor.

Akan kembali duduk di balik meja.

Akan kembali berhadapan dengan dokumen, rapat, administrasi, wajah para bawahan yang sekadar cari muka dan berbagai urusan pemerintahan yang tidak pernah selesai.

Tetapi jejak hampir dua pekan di Flores meninggalkan sesuatu yang sulit dihapus.

Seorang gubernur yang membawa pekerjaannya lebih dekat dengan warga.

Seorang gubernur yang siang dan malam masuk ke kampung-kampung terdampak.

Seorang gubernur yang melewati jalan baik maupun jalan yang rusak.

Di Flores, Melki Laka Lena mungkin sedang menjalankan tugas sebagai gubernur.

Tetapi selama hampir dua pekan itu, Melki seperti sedang memperlihatkan satu wajah kepemimpinan yang lain: pemimpin yang mendekat ketika rakyat sedang membutuhkan kehadiran.

Dan mungkin, di tengah puing-puing Flores, itulah makna paling sederhana dari seorang pemimpin yang memilih untuk terus berjalan.

Tidak hanya memerintah dari kantor.

Tetapi membawa kantornya berjalan menemui rakyat. (Juan Pesau)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *