Cara Malaka Merawat Mens Sana in Corpore Sano

Dr. Pius Rengka (dokpri)

Catatan Pius Rengka
Penikmat sepakbola indah

Sepakbola, sejatinya, tidak pernah sekadar permainan. Apalagi sejenis adu otot belaka. Sepak bola tidak pernah cuma sebuah adu kuat berlari lintang pukang para pemain mengejar si bola dungu kulit bundar di lapangan yang, entah karena apa, tak selalu pernah sempurna.

Sepakbola adalah bahasa. Bahasa tubuh, bahasa strategi, bahasa emosi, dan pada puncaknya, bahasa berpikir manusia, utamanya bahasa berpikir para pelatih, manajer, penonton pembina dan pemain itu sendiri. Karena itu, menonton sepakbola adalah menonton cara berpikir dari mereka yang terlibat total dalam organisasi bermain bola itu.

Kesebelasan Kabupaten Malaka, utamanya anak usia belasan tahun itu adalah himpunan anak manusia binaan Bupati dr. Stef Bria Seran dan elit politik Malaka. Entah apa gerangan penyakit yang diidap, keluarga Bria Seran itu boleh dianggap sejenis keluarga “maniak” sepakbola. Mereka ngotot bersuara lantang di lapangan, menghalau para pemain bertarung habis-habisan di lapangan tanpa harus secuil pun kehilangan keindahan manusia sebagai mahluk bermain (homines ut entia ludicra atau homo ludens). Teriakan, instruksi, sambil menunjuk arah yang harus, mereka tak pernah sepi dari tepi lapangan main.

Memang terbukti hingga hari ini aneka daya dan upaya itu kemudian membuah rimbun hasil berlimpah. Betapa tidak. Serial pertandingan yang digelar baik di laga uji coba tandang ke beberapa wilayah di Timor, hingga masuk stadion El Tari Kupang, kesebelasan binaan Bupati perdana Kabupaten Malaka dan elit politik Malaka, tangguh kuat hingga peluit akhir wasit tanding.

Pada moment yang nyaris hampir bersamaan, di belahan lain dunia ini, Brazil memukul Haiti dan Scotlandia dengan angka telak. Brazil bermain imbang melawan Maroko, 1-1. Dunia internasional terkesima. Luapan riuh rendah teriakan penonton di stadion internasional di sejumlah kota tanding piala dunia. Mereka sepertinya, nyaris ikut menggiring tanding tandang kesebelasan anak remaja Malaka di beberapa lokasi.

Sejak wasit meniupkan peluit pertama di lapangan laga Stadion El Tari Oepoi Kupang, penampilan anak usia remaja Malaka memukau di tengah baraan sorakan dan dukungan total Bupati dan para politisi Malaka. Bupati tak pernah diam duduk di kursi. Ia berdiri sambil instruksi. Lambai tangan menunjuk arah tendangan. Dukungan pun total berlipat-lipat.

Mereka tidak jauh dari lapangan tanding. Tetapi, mereka pun merawat tanding tandang dengan hasil gemilang. Pada puncaknya, kesebelasan remaja Malaka meraih posisi puncak. Lantaran itu mereka diganjar sebagai delegatus piala Presiden masuk Jakarta mewakili NTT, provinsi dengan banyak potensi itu. Lalu, bagaimana kiranya fenomena ini ditafsir dalam cakrawala pemikiran?

Struktur Kesadaran

Saya pikir bermain bola adalah satu hal. Tetapi, cara bermain bola adalah hal lain. Cara bola dimainkan pasti dan harus terkait erat dengan cara berpikir dan cara tubuh merawat diri.

READ  Kompetisi BioChem Unwira Kupang Tingkatkan Minat Sains Siswa SMA

Di setiap gerak kaki menendang bola, di setiap umpan terukur, di setiap keputusan sepersekian detik di tengah lapangan, tersimpan segugus struktur kesadaran. Maka benarlah adanya bahwa bermain bola adalah satu hal, tetapi cara bermain bola adalah hal lain.

Bermain bola sepak mencerminkan cara berpikir, cara memahami ruang, bahkan cara suatu komunitas merawat kebudayaan dirinya. Dalam konteks ini, apa yang terjadi di Kabupaten Malaka tidak bisa dibaca hanya sebagai keberhasilan olahraga semata. Sepakbola adalah gejala kebudayaan. Sepakbola adalah teks sosial yang layak ditafsir.

Sepak bola atau bola yang disepak-sepak itu adalah praktik hidup dari adagium klasik, mens sana in corpore sano, di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat. Namun, lebih dari itu. Malaka menunjukkan bahwa jiwa yang kuat itu juga adalah jiwa yang berpikir, yang terlatih membaca situasi, dan yang dibentuk oleh ekosistem sosial-politik tertentu. Saya tahu persis, sepakbola di lingkungan keluarga dr. Stef Bria Seran semacam cabang lain dari cara bernafas dan berpikir. Penuh daya hidup, bergelora semangat, tetapi serentak dengan itu berwarna dengan cahaya gaya berpikir.

Kesebelasan Kabupaten Malaka, dibina oleh Bupati didukung oleh elit politik, telah membuktikan bahwa kerja kolektif kolaboratif melahirkan hasil produktif. Nyata dan fakta. Masyarakat pun berbangga karena dalam naungan langit kebersamaan para pemimpin pun padu menjadi satu. Tak ada soliter dalam perjuangan, tetapi yang ada adalah solider dalam selimut kebersaam utuh menuju arah yang sama. Menang.

Serangkaian pertandingan uji coba di berbagai wilayah Timor menjadi laboratorium awal bagi pembentukan mental tanding para pemain muda. Mereka tidak hanya belajar teknik bermain, tetapi juga belajar menghadapi tekanan, membaca lawan, dan mengelola emosi. Yang Mulia Uskup Atambua, sang filsuf, Mgr. Domi Saku, PhD itu pun menyaksikan dengan lensa filsafat betapa indahnya cara berpikir yang direpresentasikan melalui cara bermain.

Puncak dari perjalanan ini terlihat ketika mereka memasuki Stadion El Tari Kupang. Di sana, di bawah sorotan publik yang lebih luas, para pemain muda Malaka tampil bukan sebagai anak-anak kampung yang kikuk dari tepian timur utara Pulau Timor, tetapi sebagai subjek yang percaya diri, berdiri kokoh kuat perkasa di lapangan tanding entah pun tanding tandang.

Mereka menguasai ritme permainan, menjaga konsentrasi hingga peluit akhir, dan menunjukkan disiplin yang jarang terlihat pada usia mereka. Dalam waktu yang hampir bersamaan, dunia internasional menyaksikan pertandingan-pertandingan besar kelas jagat raya ini.

Brasil tampil dominan. Maroko yang mengejutkan. Atmosfer stadion global pun menggema dan bergetar. Menariknya, gema itu seolah beresonansi hingga ke Kupang. Seakan-akan, para pemain Malaka tidak bermain sendirian. Mereka adalah bagian dari arus besar sepakbola dunia. Mereka menyerap, meniru, dan mentransformasikan gaya bermain global ke dalam konteks lokal. Saya tahu persis, dr. Stef Bria Seran sang maestro pemikir taktis di balik layar kesebelasan Malaka, penggemar berat kesebelasan Brazil atau umunya pesepakbola Amerika Latin.

READ  Dukung UMKM, Bank NTT Salurkan Rp300 Juta di Kabupaten Kupang

Di sinilah kita masuk pada dimensi kritis. Mengapa sepakbola bisa menjadi cermin cara berpikir? Pertama, sepakbola adalah permainan ruang. Setiap pemain dituntut untuk memahami posisi, di mana ia berdiri, ke mana ia bergerak, dan bagaimana ia membuka ruang bagi yang lain. Ini adalah bentuk konkret dari berpikir spasial. Dalam istilah ilmu sosial, ini adalah kemampuan membaca struktur dan relasi.

Kedua, sepakbola adalah permainan waktu. Keputusan harus diambil dalam hitungan detik bahkan detak. Terlambat sedikit saja, peluang hilang. Di sini, kita melihat latihan berpikir temporal meruakan kemampuan mengantisipasi, memprediksi, dan bertindak cepat.

Ketiga, sepakbola adalah permainan kolektif. Tidak ada kemenangan tanpa kerja sama. Ini melatih apa yang dalam filsafat sosial disebut sebagai rasionalitas komunikatif yaitu kemampuan untuk menyelaraskan tindakan individu dengan tujuan bersama. Dalam konteks Malaka, keberhasilan tim ini menunjukkan bahwa ada proses pembelajaran kolektif yang berjalan dan kini sedang berjalan-jalan menuju Jakarta, hendak meraih Piala Presiden.

Para pemain tidak hanya dilatih ditempa secara fisik, tetapi juga secara kognitif dilatih cara berpikir kritis. Mereka belajar berpikir melalui tubuh mereka. Tubuh menjadi medium bagi akal, dan akal membimbing tubuh. Satuan kesatuan utuh untuk menciptakan gerak indah di lapangan tanding.

Dukungan Elit Politik

Tidaklah dapat dipungkiri, keberhasilan ini juga terkait dengan peran Bupati fenomenal Malaka dr. Stef Bria Seran dan elit politik Adrianus Bria Seran dan Wakil Bupati Malaka. Dukungan mereka bukan hanya dalam bentuk fasilitas, memberi suasana, memberi harapan dan kasih sayang, tetapi juga dalam membangun atmosfer kepercayaan. Percaya diri tanpa tedeng aling-aling.

Kehadiran mereka di pinggir lapangan bukan sekadar simbolik. Kehadiran mereka adalah bentuk legitimasi sosial. Tetapi, di sinilah kritik perlu diajukan. Apakah dukungan ini murni untuk pembangunan manusia, ataukah juga mengandung dimensi representasi politik?

Dalam perspektif ilmu kritis, setiap praktik sosial tidak pernah bebas nilai. Sepakbola bisa menjadi arena reproduksi kekuasaan, tetapi juga bisa menjadi ruang emansipasi. Dalam kasus Malaka, kita melihat potensi keduanya. Di satu sisi, ada kemungkinan bahwa keberhasilan tim ini menjadi kapital simbolik bagi para elit politik, tetapi yang didukung massa. Namun di sisi lain, ada fakta bahwa para pemain muda mendapatkan ruang untuk berkembang, untuk bermimpi, dan untuk membangun identitas diri. Bahwa anak remaja Malaka adalah masa depan yang tumbuh dari lingkungan dan suasana dukungan habitus dan spiritualitas budaya “tanding”.

READ  Bank NTT Perkuat Komitmen Pelestarian Laut Lewat Dukungan Konservasi Terumbu Karang di Lembata

Ungkapan mens sana in corpore sano sering kali dipahami secara sederhana, tubuh sehat, jiwa kuat. Tetapi, sungguh mati, dalam konteks Malaka, ungkapan ini mendapatkan makna baru. Mens sana in corpore sano bukan sekadar slogan, tetapi praksis hidup. Tubuh yang dilatih melalui sepakbola menjadi tubuh yang disiplin. Jiwa yang ditempa melalui kompetisi menjadi jiwa yang tangguh.

Namun lebih dari itu, cara bermain yang terstruktur menunjukkan adanya cara berpikir yang terlatih. Di sinilah letak keindahan sepakbola Malaka. Kesebelasan pemain muda remaja Malaka tidak hanya menghasilkan kemenangan, tetapi juga membentuk manusia. Para pemain dan pelatih serta seluruh aktor di baliknya ini kesebelasan, tidak sekadar merawat tubuh tetapi sekaligus membangun kesadaran. Ia menghubungkan fisik dengan mental, individu dengan kolektif, lokal dengan global.

Sepakbola, pada akhirnya, adalah metafora kehidupan. Juga semacam alegori cara pandang. Lapangan adalah dunia. Bola adalah peluang. Pemain adalah manusia dengan segala keterbatasannya. Dan, begitulah, pertandingan adalah perjalanan hidup yang penuh ketidakpastian. Dalam metafora ini, Malaka sedang menulis ceritanya sendiri. Dari pinggiran, Malaka bergerak menuju pusat. Dari yang dianggap kecil, Malaka menunjukkan kebesarannya. Dari yang sederhana, Malaka menghadirkan kompleksitas. Cara mereka bermain adalah cara mereka berpikir. Cara mereka berpikir adalah cara mereka hidup.

Terus terang atau sejujurnya, keberhasilan ini bukan akhir, tetapi awal. Tantangan ke depan adalah bagaimana menjaga konsistensi, memperluas pembinaan, dan memastikan bahwa sepakbola tetap menjadi ruang pembelajaran, bukan sekadar ajang kompetisi.

Malaka telah menunjukkan bahwa dengan visi, dukungan, dan kerja kolektif, sesuatu yang besar dapat lahir dari tempat yang sederhana. Yang perlu dirawat adalah semangat itu. Semangat apa? Semangat untuk terus belajar, berpikir, dan bergerak. Karena pada akhirnya, sepakbola bukan hanya tentang mencetak gol. Sepakbola bukan tentang reputasi mengejar wasit jika diduga salah ambil keputusan, atau menendang kaki lawan karena terbakar emosi lagak tipu daya. Sepak adalah tentang mencetak manusia. Dan, di situlah, Malaka sedang merawat mens sana in corpore sano, bukan sebagai slogan, tetapi sebagai jalan hidup.

Kini di belahan mana pun di dunia ini, teriakan manusia nyaris hampir sama. Kecuali di tanah air. Kita masih sibuk urus ini para pencuri tak punya malu di Jakarta. Mereka mencuri dana MBG, Pertamina, Pajak, dan lain-lain yang memiliki kelainan jiwa itu. Dan, Prabowo seperti tokoh yang sedang dibelenggu oleh lilitan kawan yang berkelainan jiwa dengan cara mencuri sebanyak-banyaknya, dan begitulah.

Lalu, sekonyong-konyong datanglah menghampiri bayangan wajah Abraham Lincoln di tengah lapangan bola sepak. Wartawan bertanya, apa agamamu tuan Presiden? Jawab Lincoln: When I do good, I feel good. When I do bed, I feel bed. That is my religion. Viva Malaka.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *