Dari Pendalaman Iman Menjadi Happy Basket: Ketika Bola Menyatukan Perbedaan

Istimewa

Catatan Valensius Ngardi (Bruf)
Pebasket Amatiran Lokal

Di tengah hiruk-pikuk Kota Yogyakarta yang tak pernah benar-benar tidur, setiap orang memiliki caranya sendiri untuk menjaga keseimbangan hidup. Ada yang memilih berlari menyusuri jalanan kota saat fajar menyingsing, ada yang berkeringat di pusat kebugaran, berenang, bermain tenis, badminton, voli, atau basket. Sebagian lainnya memilih menikmati debur ombak pantai, mendaki gunung, menjelajahi jalur motor trail, bermain sepatu roda, atau sekadar berjalan santai di pusat perbelanjaan, menikmati secangkir kopi di kafe, dan menonton film di bioskop.

Semua aktivitas itu sesungguhnya bermuara pada satu tujuan yang sama: menjaga kesehatan jasmani, menyegarkan pikiran, dan merawat jiwa agar tetap sehat di tengah tuntutan hidup yang semakin kompleks. Saya sendiri termasuk orang yang menyukai olahraga. Sejak muda saya gemar bermain voli dan badminton. Namun ada satu olahraga yang diam-diam menarik perhatian saya, meskipun kemampuan saya sangat terbatas, yaitu basket.

Ketertarikan itu bermula sekitar tahun 2010 ketika saya tinggal di Pontianak. Saat itu saya sering menyaksikan pertandingan DBL tingkat SMA yang begitu meriah. Saya terpesona melihat semangat para pemain yang berlari tanpa lelah, saling mengoper bola dengan cepat, dan berjuang meraih poin demi poin. Basket tampak bukan sekadar olahraga, melainkan sebuah seni yang memadukan kecepatan, strategi, kerja sama, dan semangat pantang menyerah.

Ironisnya, saya hampir tidak memiliki keterampilan basket sama sekali. Dribel saya berantakan, tembakan sering meleset, dan gerakan saya jauh dari kata lincah. Namun entah mengapa saya tetap menyukai olahraga ini. Saya menikmati suasananya. Saya menyukai semangat kebersamaan yang lahir di lapangan. Basket mengajarkan bahwa kemenangan tidak pernah diraih sendirian. Ketertarikan itu kemudian menghilang perlahan seiring kesibukan hidup. Hingga akhirnya, Tuhan menghadirkan kembali bola basket melalui cara yang tidak pernah saya bayangkan. Peristiwa itu terjadi setelah saya pindah ke Yogyakarta pada Mei 2023.

Suatu malam saya menghadiri kegiatan pendalaman iman di sebuah komunitas imam Jesuit di kawasan Kotabaru. Malam itu tampaknya tidak berbeda dari kegiatan-kegiatan rohani lainnya. Saya datang untuk mendengarkan, berdoa, dan memperdalam hidup iman dengan tema “Peran Bunda Maria di Mata Spiritulitas imam Jesuit”. Sebelum acara dimulai, seorang frater muda yang ramah dan cakep, Frater Adit, SJ—yang kini telah menjadi imam—mengajak saya berkeliling melihat lingkungan komunitas. Kami berjalan santai menyusuri halaman biara. Tidak ada yang istimewa sampai mata saya tertumbuk pada sebuah lapangan basket outdoor yang berdiri kokoh di salah satu sudut kompleks.

READ  Solidaritas Korban Penembakan, DKI Beri Warna Bendera New Zealand di JPO GBK

Saya berhenti sejenak. “Wah, ada lapangan basket juga di sini?” tanya saya dengan nada terkejut. Frater Adit tersenyum. “Ternyata saya juga kamu basket,” katanya ringan. Percakapan sederhana itu ternyata menjadi awal dari sebuah kisah yang jauh lebih besar daripada yang kami bayangkan. Dari lapangan basket itulah sebuah persahabatan lahir. Awalnya kami hanya beberapa orang. Frater Adit mulai menghubungi teman-teman yang memiliki minat yang sama. Ada mahasiswa, pekerja profesional, romo, frater, dan bruder. Tidak ada target apa pun. Tidak ada ambisi membentuk klub besar. Kami hanya ingin bermain basket dengan gembira.

Konsep kami adalah Happy-happy saja. Maka lahirlah kelompok kecil yang berkumpul setiap Selasa atau Rabu sore di lapangan outdoor Kolese Santo Ignatius. Jumlah pemain saat itu hanya enam hingga delapan orang. Kadang cukup untuk bermain setengah lapangan, kadang harus bergantian karena jumlahnya terlalu sedikit. Namun justru dalam kesederhanaan itu tumbuh keakraban yang tulus. Yang menarik, setelah selesai bermain, kami tidak langsung pulang. Kami biasanya diajak berkumpul di kafe kecil komunitas. Di sana tersedia kopi hangat, obrolan santai, dan tawa yang mengalir tanpa dibuat-buat. Beberapa menikmati rokok herbal, yang lain memilih menyeruput kopi sambil berbincang mengenai kuliah, pekerjaan, kehidupan, bahkan soal iman.

Tanpa disadari, lapangan basket menjadi ruang perjumpaan yang unik. Bola basket hanyalah alasan. Yang sesungguhnya sedang tumbuh adalah persaudaraan. Seiring waktu, lingkaran pertemanan itu semakin meluas. Teman mengajak teman. Mahasiswa mengajak rekannya. Pekerja mengundang sahabatnya. Sedikit demi sedikit jumlah peserta bertambah.

Mereka datang dari berbagai kampus seperti UGM, Universitas Sanata Dharma, Universitas Atma Jaya Yogyakarta, APMD, dan berbagai perguruan tinggi lainnya. Ada pegawai kantor, guru, pebisnis, pekerja kreatif, romo, frater, bruder, hingga para ekspatriat yang sedang tinggal di Yogyakarta.

Ketika lapangan di Kolese tidak dapat digunakan, kami berpindah-pindah tempat. Kadang bermain di lapangan Universitas Sanata Dharma, Kridosono, ISI Yogyakarta, SMA Stella Duce 2, hingga akhirnya cukup sering menggunakan lapangan indoor milik SMA Kolese De Britto hingga saat ini. Perpindahan tempat ternyata tidak mengurangi semangat. Justru semakin banyak orang yang bergabung.

Hari demi hari, minggu demi minggu, kelompok kecil itu berubah menjadi komunitas yang hidup.Kini peserta yang hadir dapat mencapai tiga puluh hingga empat puluh orang setiap pertemuan. Lebih menarik lagi, mereka berasal dari berbagai agama, suku, budaya, profesi, dan bahkan negara. Ada yang berasal dari Indonesia, Filipina, Italia, dan berbagai daerah Nusantara.

READ  Tunggal Putra Paceklik Gelar All England 25 Tahun, Ini Saran Untuk Jonatan dkk

Di tengah derasnya arus polarisasi yang sering dipertontonkan media sosial, kami menemukan sesuatu yang sederhana namun sangat berharga. Kami menemukan bahwa manusia dapat bertemu tanpa harus mempertentangkan identitas. Di lapangan basket tidak ada kursi jabatan. Tidak ada sekat agama. Tidak ada perbedaan status sosial. Yang ada hanyalah teman satu tim yang sama-sama berkeringat mengejar bola.

Sebelum pertandingan dimulai, kami memiliki kebiasaan sederhana. Semua peserta berkumpul membentuk lingkaran. Jika ada anggota baru, ia diperkenalkan kepada semua orang. Nama disebutkan. Asal daerah disampaikan. Lalu semua menyambut dengan hangat. Setelah itu kami berdoa. Bukan doa yang menyeragamkan. Setiap orang dipersilakan berdoa menurut keyakinannya masing-masing. Dalam keheningan singkat itu, kami belajar menghormati perbedaan dengan cara yang sangat alami. Tidak ada paksaan. Tidak ada tuntutan. Hanya penghormatan yang lahir dari hati. Barangkali inilah wajah Indonesia yang sesungguhnya. Indonesia yang tidak sibuk memperdebatkan perbedaan, tetapi merayakannya dalam persaudaraan.

Seiring bertumbuhnya komunitas, lahirlah identitas baru yang semakin menguatkan kebersamaan. Kami membuat seragam khusus. Di dada baju itu terpampang logo yang terinspirasi dari semangat Santo Ignatius Loyola. Dalam salah satu unggahan media sosial, dijelaskan bahwa logo Happy Basket terinspirasi dari nilai-nilai Ignasian: keberanian untuk melangkah, ketekunan dalam berjuang, serta kemampuan menemukan kehadiran Allah dalam segala sesuatu. Bahkan dalam aktivitas yang sederhana seperti bermain basket.

Bagi banyak orang, basket mungkin hanya olahraga. Namun bagi kami, basket telah menjadi jalan perjumpaan. Menjadi ruang persahabatan.Menjadi sarana belajar menerima perbedaan. Menjadi tempat menemukan makna hidup yang lebih luas. Karena sesungguhnya Allah sering hadir bukan hanya di kapel atau ruang doa, melainkan juga di tengah suara pantulan bola, tawa para pemain, dan persahabatan yang tumbuh tanpa syarat.

Kini setiap Sabtu sore, dari pukul empat hingga tujuh malam, kami kembali berkumpul. Sebagian datang setelah sepekan bergulat dengan pekerjaan. Sebagian datang setelah menjalani kuliah yang melelahkan. Sebagian lainnya datang membawa berbagai beban hidup yang tak terlihat. Namun ketika peluit berbunyi dan bola mulai dimainkan, semuanya seolah larut dalam kegembiraan yang sama.

Kami tertawa lepas bebas. Kami berlari tanpa beban. Kami saling menyemangati. Kami belajar menerima kekalahan dan merayakan kemenangan bersama. Dan yang paling penting, kami pulang dengan hati yang lebih ringan daripada saat datang. Happy Basket akhirnya bukan hanya nama sebuah komunitas. Ia telah menjadi simbol harapan. Harapan bahwa perbedaan tidak harus menjadi tembok pemisah. Harapan bahwa persaudaraan dapat lahir dari hal-hal sederhana. Harapan bahwa Indonesia masih memiliki banyak ruang di mana keberagaman dirayakan dengan tulus.

READ  Bank NTT Kucurkan CSR Rp208,5 Juta untuk Perkuat Sentra UMKM Sumba Timur

Dari sebuah malam pendalaman iman, lahirlah sebuah komunitas yang mempersatukan banyak orang. Dari sebuah lapangan basket, tumbuh persaudaraan lintas agama, lintas budaya, lintas profesi, bahkan lintas negara. Dan dari pantulan bola yang sederhana itu, kami belajar satu hal penting: bahwa kebahagiaan sejati sering kali tidak ditemukan dalam hal-hal besar, melainkan dalam perjumpaan-perjumpaan kecil yang dilakukan dengan hati yang terbuka.

Karena pada akhirnya, bukan basket yang mempersatukan kami. Melainkan persaudaraan yang lahir melalui basket. Dan selama bola itu masih memantul di lapangan, semoga semangat kebersamaan itu terus hidup, menginspirasi banyak orang, dan menjadi wajah Indonesia yang ramah, damai, serta penuh sukacita.

Di tengah dunia yang semakin dipenuhi oleh sekat-sekat perbedaan, pengalaman bersama Happy Basket mengajarkan bahwa persaudaraan sejati tidak lahir dari kesamaan latar belakang, melainkan dari kesediaan untuk saling menerima dan berjalan bersama. Lapangan basket yang sederhana telah menjadi ruang dialog kehidupan, tempat orang-orang belajar menghargai satu sama lain tanpa harus kehilangan identitasnya. Di sana kami menemukan bahwa perbedaan bukan ancaman, melainkan kekayaan yang membuat kehidupan semakin indah dan berwarna.

Semoga kisah sederhana ini menjadi inspirasi bagi banyak komunitas, sekolah, kampus, paroki, maupun kelompok masyarakat lainnya untuk membangun ruang-ruang perjumpaan yang sehat dan membahagiakan. Tidak harus melalui basket. Bisa melalui olahraga lain, seni, musik, kegiatan sosial, atau aktivitas apa pun yang mampu mempertemukan manusia dalam semangat persaudaraan. Bangsa ini membutuhkan lebih banyak ruang perjumpaan daripada ruang perdebatan; lebih banyak kerja sama daripada saling curiga; dan lebih banyak persahabatan daripada permusuhan.

Akhirnya, kami berharap Happy Basket tidak hanya menjadi komunitas olahraga, tetapi juga menjadi gerakan kecil yang menebarkan nilai-nilai kemanusiaan, persaudaraan, dan kebhinekaan. Semoga setiap bola yang dipantulkan, setiap tawa yang dibagikan, dan setiap persahabatan yang terjalin menjadi benih-benih harapan bagi Indonesia yang lebih damai dan bersatu. Sebab ketika manusia mampu bermain, tertawa, dan bermimpi bersama, di situlah masa depan yang lebih baik sedang dibangun—satu langkah, satu persahabatan, dan satu pantulan bola pada satu waktu. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *