Berita  

FESTAYA KOMANTTA Vol. 4: Ketika Budaya NTT Menjadi Jalan Merawat Harapan di Tengah Keterbatasan

Ratusan mahasiswa dan masyarakat berkumpul di Yogyakarta dalam FESTAYA KOMANTTA Vol. 4, menjadikan budaya NTT sebagai ruang ekspresi, solidaritas, dan gerakan kepedulian bagi masa depan anak-anak NTT.

Pementasan budaya Sumba dalam FESTAYA KOMANTA VOL.4 (istimewa)

Catatan Valensius Ngardi

Yogyakarta, detakpasifik.com- Semangat budaya, solidaritas, dan kepedulian sosial menyatu dalam kemeriahan FESTAYA KOMANTTA (Festival Budaya Komunitas Mahasiswa NTT Atmajaya) Volume IV yang digelar di Lapangan Panahan Gladian Jayandaru, Yogyakarta, Sabtu malam (6/6). Mengusung tema “Anak NTT: Harapan di Tengah Keterbatasan”, festival ini menjadi panggung ekspresi budaya sekaligus gerakan kemanusiaan bagi anak-anak Nusa Tenggara Timur yang masih menghadapi berbagai tantangan kehidupan.

Sejak sore hari, ratusan pengunjung mulai memadati area festival. Mahasiswa, pelajar, masyarakat umum, hingga para perantau asal NTT datang untuk menyaksikan pergelaran budaya yang telah menjadi agenda tahunan mahasiswa Atmajaya NTT di Yogyakarta. Tahun ini, FESTAYA memasuki penyelenggaraan ke-4 dengan konsep yang lebih matang, kreatif, dan sarat makna sosial.

Tema yang diangkat lahir dari keprihatinan terhadap kondisi sebagian anak-anak di NTT yang masih menghadapi keterbatasan akses pendidikan, layanan kesehatan, serta berbagai risiko sosial seperti eksploitasi dan kekerasan. Melalui festival ini, para mahasiswa NTT berupaya meningkatkan kesadaran publik sekaligus mengajak berbagai pihak untuk turut ambil bagian dalam mendukung masa depan anak-anak NTT. Sebagai bentuk nyata kepedulian tersebut, panitia bekerja sama dengan “Panti Asuhan Bakti Luhur Kupang” yang dikelola oleh Kongregasi Suster ALMA.

Bagi saya panggung budaya yang memukau mendukung acara ini sangat eksotis. Ketika matahari mulai tenggelam, suasana festival berubah menjadi lautan warna budaya. Berbagai pertunjukan seni dari beragam daerah di NTT silih berganti tampil di atas panggung utama. Tarian tradisional dari Maumere dan Ende yang diikuti etnik Sumba Barat membuka rangkaian pertunjukan dengan gerakan yang enerjik dan penuh makna. Penonton kemudian diajak menikmati keunikan budaya Lamaholot, Alor, dan Lembata yang menghadirkan kekayaan tradisi masyarakat kepulauan NTT.

Salah satu penampilan yang paling menyita perhatian adalah drama “Niang Gejur” komunitas mahasiswa Manggarai. Dengan pendekatan satir dan humor yang tajam, drama tersebut mengkritik berbagai persoalan sosial yang masih terjadi di Indonesia, mulai dari ketimpangan ekonomi, praktik kekuasaan yang tidak berpihak kepada rakyat kecil, hingga maraknya korban pinjaman online. Gelak tawa penonton beberapa kali pecah sepanjang pertunjukan. Namun di balik humor yang disajikan, tersimpan pesan-pesan kritis yang mengajak masyarakat untuk lebih peka terhadap berbagai persoalan sosial yang dihadapi masyarakat kecil. Tidak kalah memukau, penampilan Paduan Suara Mahasiswa NTT Universitas Sanata Dharma berhasil menghadirkan suasana haru dan kebanggaan. Harmoni suara yang dibawakan menjadi bukti bahwa generasi muda NTT tidak hanya kaya akan budaya, tetapi juga memiliki talenta seni yang luar biasa. Juga tidak kalah menarik Band KOMANTTA mampu menghipnotis para penonton malam itu dengan lagu-lagu bergenre anak muda saat ini.

READ  RUPS LB Bank NTT 2026: Awal Reformasi Besar Menuju Bank Daerah yang Lebih Kompetitif

Festival budaya kali ini, penuh dengan sentuhan anak muda. Berbeda dengan festival budaya pada umumnya, FESTAYA KOMANTTA Vol. 4 mengusung konsep yang dekat dengan generasi muda. Panggung utama menjadi pusat kegiatan yang dikelilingi berbagai stan kuliner dan pameran budaya. Di sisi selatan area festival, para pengunjung dapat menikmati aneka kuliner khas yang dikemas secara modern dan menarik. Sementara di sisi barat, berjejer stan-stan budaya yang menampilkan berbagai kekayaan tradisi dari daerah-daerah di NTT.

Salah satu stan yang ramai dikunjungi adalah stan budaya dari Sumba Timur. Berbagai kain tenun dengan motif khas dipamerkan dan menarik perhatian pengunjung. Keindahan warna dan motif tenun tersebut memunculkan rasa ingin tahu banyak orang mengenai filosofi yang terkandung di dalamnya. “Setiap motif memiliki cerita dan makna tersendiri yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat Sumba,” ujar salah seorang penjaga stan kepada para pengunjung. Tenun Sumba yang kini semakin dikenal di tingkat nasional maupun internasional menjadi bukti bahwa budaya lokal memiliki nilai ekonomi dan artistik yang tinggi.

Keseruan festival semakin terasa berkat penampilan dua pembawa acara Febri dan Tania, yang mengenakan busana adat Lamaholot dan Ende. Dengan gaya khas anak muda NTT yang humoris dan komunikatif, mereka mampu menjaga suasana tetap hidup sepanjang acara. Bagi yang hadir pergelaran ini bisa dibilang ruang persaudaraan mahasiswa perantauan. Selain menjadi ajang pelestarian budaya, FESTAYA juga menjadi ruang perjumpaan bagi mahasiswa NTT yang sedang menempuh pendidikan di Yogyakarta.

Komunitas budaya Flobamora dalam acara FESTAYA KOMANTTA Vol.4 (istimewa)

Salah satu mahasiswa yang menjaga stan budaya mengaku senang dapat terlibat dalam festival ini. Menurutnya, kegiatan tersebut bukan hanya memperkenalkan identitas budaya kepada masyarakat luas, tetapi juga mempererat hubungan antar mahasiswa NTT yang berasal dari berbagai daerah.

“Di tanah rantau seperti Yogyakarta, kami bisa saling mengenal budaya satu sama lain dan tetap bangga dengan identitas kami sebagai orang NTT,” ujarnya.

Salah satu pertunjukan yang memberikan kesan mendalam adalah tarian syukur panen dari Alor. Dengan nuansa sakral yang kental, tarian tersebut menggambarkan hubungan harmonis antara manusia, alam, dan Sang Pencipta. Penonton tampak terpesona menyaksikan setiap gerakan yang sarat simbol dan nilai budaya. Lapangan Panahan Gladian Jayandaru malam itu menjadi saksi bagaimana keberagaman budaya NTT mampu menyatukan banyak orang. Tidak hanya mahasiswa asal NTT yang hadir, tetapi juga mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia yang tertarik mengenal budaya Timur Indonesia.

READ  Langkah Catur Bupati Malaka di Tengah Jerat Efisiensi Anggaran Negara

Pentas seni NTT ini memiliki makna yang mendalam. Mereka mempunyai visi jiwa humanis yaitu: membangun solidaritas dan potensi generasi muda. Acara resmi yang dibuka pukul 18.00 WIB melalui seremoni pembukaan yang dihadiri berbagai tokoh dan perwakilan komunitas mahasiswa. Dalam sambutannya, Penasehat KOMANTTA, Bapak Argo, menegaskan bahwa festival ini merupakan ruang persaudaraan dan solidaritas yang penting bagi mahasiswa NTT. “FESTAYA bukan sekadar pertunjukan seni. Ini adalah ruang perjumpaan, ruang belajar bersama, dan sarana pengembangan potensi generasi muda NTT di Yogyakarta,” ujarnya. Hal senada disampaikan oleh Axel Bramesta selaku General Manager Nara Kupu Jogja. Ia menilai bahwa kegiatan seperti ini semakin memperkuat rasa percaya diri mahasiswa NTT dalam mengekspresikan budaya mereka. “Lewat wadah seperti ini, kita semakin kuat untuk menunjukkan identitas budaya kita sekaligus memperluas jaringan persaudaraan,” katanya. Carlos Badeng, sebagai ketua panitia FESTAYA KOMANTTA Vol. 4 juga mengungkapkan rasa syukurnya atas kerja keras seluruh panitia yang telah mempersiapkan acara selama berbulan-bulan.

Selain menjadi ajang perayaan budaya, FESTAYA KOMANTTA juga tampil sebagai ruang perjumpaan bagi diaspora NTT yang aktif, kreatif, dan berdaya di Kota Yogyakarta. Sebagai salah satu kota tujuan utama pendidikan tinggi bagi mahasiswa asal Nusa Tenggara Timur, Yogyakarta telah melahirkan beragam organisasi kedaerahan yang menjadi rumah bersama bagi para perantau muda. Di samping KOMANTTA, hadir pula berbagai komunitas mahasiswa seperti IKAMAYA (Ikatan Mahasiswa Manggarai Yogyakarta), HIPMA (Himpunan Pelajar Mahasiswa Alor), KMAY (Komunitas Mahasiswa Adonara Yogyakarta), HIPMASBA (Himpunan Mahasiswa Sumba Barat), serta sejumlah organisasi lain yang bergerak dalam bidang budaya, olahraga, sosial, dan pengembangan kepemimpinan.

Kehadiran organisasi-organisasi ini tidak hanya mempererat solidaritas antarmahasiswa NTT, tetapi juga menjadi sarana untuk mengembangkan bakat, memperluas jejaring, serta menjaga dan mewariskan kekayaan budaya daerah di tengah kehidupan perantauan. FESTAYA menjadi bukti nyata bahwa semangat kebersamaan dan kecintaan terhadap tanah asal tetap hidup dan berkembang di tengah generasi muda NTT yang sedang menempuh pendidikan di kota pelajar.

READ  Gubernur NTT Kuliah Umum di Universitas Indonesia, Perkenalkan Simfoni Budaya Sumba

Sebagai puncak acara ini adalah pesona musisi Wizz Baker, menutup malam dengan meriah lewat lagu-lagu khas Indonesia Timur. Menjelang pukul 21.45 WIB, antusiasme penonton mencapai puncaknya ketika musisi Indonesia Timur, Wizz Baker, naik ke atas panggung. Sorak sorai penonton langsung menggema saat lagu pertama dimainkan. Selama hampir tiga jam, Wizz Baker membawakan delapan lagu yang telah akrab di telinga anak muda Indonesia, di antaranya “Se Yang Paksa”, “Mulai Malam Ini”, “Sa Fly”, “Rindu Rumah”, “Jang Balikan”, “Nikah Kapan”, “Ora Urus”, dan “Ngapain Repot”. Ribuan tangan terangkat mengikuti irama musik. Penonton bernyanyi bersama dan menari tanpa henti. Energi khas musik Indonesia Timur berhasil mengubah area festival menjadi lautan kegembiraan. Meski malam semakin larut, semangat para penonton tidak surut. Banyak yang masih bertahan hingga acara berakhir untuk menikmati setiap penampilan yang disuguhkan.

Bagi saya yang baru pertama kali menghadiri acara ini, FESTAYA KOMANTTA Vol. 4 sungguh mengesankan dan layak menjadi inspirasi bagi komunitas mahasiswa NTT lainnya di berbagai daerah perantauan di Indonesia. Antusiasme yang sama juga disampaikan oleh seorang alumni Universitas Atma Jaya Yogyakarta yang hadir malam itu. Ia menilai penyelenggaraan festival tahun ini jauh lebih matang, profesional, dan memiliki konsep yang menarik. “Saya berharap tahun depan semakin banyak sponsor yang mendukung sehingga acara ini bisa digelar lebih besar lagi,” ujarnya. Daya tarik acara semakin lengkap dengan hadirnya maskot Komoy (Komodo Gemoy), karakter komodo yang dirancang lucu, ramah, dan menggemaskan. Sebagai representasi satwa endemik Nusa Tenggara Timur, Komoy berhasil menghadirkan identitas budaya NTT dalam bentuk yang dekat dengan anak-anak maupun masyarakat umum, sekaligus menambah semarak dan kehangatan suasana festival.

FESTAYA KOMANTTA Vol. 4 menunjukkan bahwa mahasiswa tidak hanya mampu menghadirkan hiburan, tetapi juga menggerakkan kepedulian sosial melalui budaya. Festival ini menjadi contoh bagaimana seni, solidaritas, dan semangat kemanusiaan dapat berjalan beriringan. Di tengah berbagai keterbatasan yang masih dihadapi anak-anak NTT, para mahasiswa perantauan memilih untuk tidak tinggal diam. Mereka menjadikan budaya sebagai jembatan kepedulian, dan menjadikan festival sebagai suara harapan. Melalui FESTAYA KOMANTTA, anak-anak NTT adalah harapan masa depan yang harus dijaga, didukung, dan diperjuangkan bersama.*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *