Cendana dan Jati Diri NTT: Harum yang Harus Terus Dijaga

Menghidupkan kembali cendana sebagai simbol identitas, warisan budaya, dan masa depan ekologis Nusa Tenggara Timur

Piet Djamirebo (dokpri)

Oleh Piet Djami Rebo
Mantan Kepala Dinas PUPR NTT

Membaca judul buku “Ringkiknya Sandel, Harumnya Cendana” karya B. Michael Beding, pikiran saya langsung tertuju pada satu pertanyaan mendasar: masihkah cendana menjadi jati diri NTT?

Cendana bukan sekadar pohon. Ia adalah simbol sejarah, budaya, identitas, dan kebanggaan daerah. Ketika orang mengenal Nusa Tenggara Timur pada masa lalu, salah satu yang langsung teringat adalah cendana. Harumnya melintasi pulau, melintasi negara, bahkan menjadi bagian dari catatan sejarah perdagangan dunia. Karena itu, berbicara tentang cendana sesungguhnya adalah berbicara tentang jati diri NTT.

Namun, hari ini, kita menghadapi kenyataan yang mengundang keprihatinan. Pohon cendana semakin sulit ditemukan. Banyak generasi muda NTT bahkan mungkin belum pernah melihat langsung pohon cendana yang tumbuh subur. Mereka mengenal cendana lebih banyak dari cerita orang tua, buku pelajaran, atau nama lembaga yang menggunakan kata “Cendana”.

Di sinilah muncul sebuah ironi. Nama cendana masih harum sebagai simbol, tetapi keberadaan pohonnya semakin jarang terlihat. Kita bangga menyebut cendana sebagai identitas daerah, tetapi sering kesulitan menunjukkan di mana pohon itu tumbuh dengan baik dan mudah dilihat masyarakat.

READ  Ret-Ret Pejabat NTT: Investasi ASN atau Pemborosan Anggaran?

Karena itu, pertanyaan yang perlu kita renungkan bersama bukan hanya berapa banyak populasi cendana yang tersisa, tetapi apakah kita sungguh-sungguh ingin menjadikan cendana sebagai bagian dari masa depan NTT?

Jika jawabannya ya, maka cendana harus keluar dari ruang seminar, pidato, dan dokumen perencanaan. Cendana harus kembali hadir di ruang hidup masyarakat. Kita perlu melihatnya tumbuh di halaman sekolah, di kawasan perkantoran, di sempadan sungai, di taman kota, di lahan-lahan kritis, bahkan di sepanjang jalan-jalan utama.

Bayangkan suatu saat dari atas Jembatan Liliba, masyarakat dapat menikmati hamparan cendana yang tumbuh di sepanjang bantaran Kali Liliba. Pohon-pohon itu tidak hanya menjadi penghijauan, tetapi juga menjadi simbol bahwa NTT sedang merawat identitasnya sendiri.

Dalam konteks ini, pemerintah daerah perlu memiliki keberanian untuk menjadikan cendana sebagai program strategis daerah. Namun tanggung jawab tersebut tidak hanya berada di pundak pemerintah provinsi atau kabupaten. Saat ini desa-desa memiliki sumber daya yang cukup besar melalui Dana Desa.

Mengapa tidak mulai dipikirkan sebuah gerakan “Satu Desa, Satu Kebun Cendana” atau “Kawasan Cendana Desa”? Desa-desa yang memiliki kondisi lahan yang sesuai dapat mengalokasikan sebagian Dana Desa untuk pembibitan, penanaman, pemeliharaan, dan perlindungan pohon cendana. Dengan cara ini, cendana tidak hanya menjadi kebanggaan masa lalu, tetapi juga investasi ekonomi, ekologi, dan budaya untuk generasi mendatang.

READ  Menagih Kepastian Fit and Proper Test Bank NTT: Antara Tata Kelola dan Kepercayaan Publik

Apabila ratusan desa di NTT menanam ratusan bahkan ribuan pohon cendana setiap tahun, maka dalam satu atau dua dekade ke depan kita akan menyaksikan kebangkitan kembali cendana sebagai identitas daerah. Gerakan ini akan jauh lebih bermakna daripada sekadar mengenang kejayaan masa lalu.

Tantangan serupa juga patut menjadi perhatian dunia akademik, khususnya bagi Universitas Nusa Cendana. Nama “Cendana” yang melekat pada universitas ini sesungguhnya bukan hanya sebuah nama, melainkan amanah sejarah dan moral. Universitas yang membawa nama Cendana tentu memiliki tanggung jawab intelektual untuk menjadi pusat penelitian, pengembangan teknologi budidaya, konservasi, dan pengembangan ekonomi berbasis cendana. Bertambahnya guru besar, meningkatnya reputasi akademik, dan langkah menuju universitas unggul akan menjadi semakin bermakna apabila diikuti dengan kontribusi nyata dalam mengembalikan kejayaan cendana di tanah NTT.

Mungkin sudah saatnya Undana memimpin sebuah gerakan besar bersama pemerintah, gereja, sekolah, dunia usaha, dan masyarakat untuk menjadikan NTT sebagai laboratorium pengembangan cendana yang modern dan berkelanjutan. Dengan demikian, nama “Cendana” tidak hanya harum di lingkungan akademik, tetapi juga harum melalui pohon-pohon cendana yang kembali tumbuh di seluruh pelosok NTT.

READ  Langkah Catur Bupati Malaka di Tengah Jerat Efisiensi Anggaran Negara

Pada akhirnya, yang sedang kita perjuangkan bukan sekadar menambah jumlah pohon. Yang sedang kita perjuangkan adalah jati diri NTT. Sebab sebuah daerah akan kehilangan sebagian karakternya ketika simbol-simbol identitasnya perlahan menghilang.

Karena itu, mari menjadikan cendana sebagai gerakan bersama. Pemerintah membuat kebijakan yang berpihak. Desa-desa memanfaatkan Dana Desa untuk pembibitan dan penanaman. Kampus melakukan riset dan pendampingan. Gereja, sekolah, dan masyarakat ikut menjaga dan merawat.

Kelak, ketika anak-anak NTT bertanya, “Apa yang menjadi ciri khas daerah kita?”, kita tidak hanya menjawab dengan cerita tentang masa lalu. Kita dapat menunjukkan pohon-pohon cendana yang tumbuh kokoh di hadapan mereka dan berkata: “Inilah cendana. Inilah jati diri NTT. Harumnya pernah membanggakan daerah ini, dan tugas kita adalah memastikan harumnya tetap terasa bagi generasi yang akan datang”.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *