catatan redaksi (Artikel ini diolah berdasarkan press release Karitas Keuskupan Ruteng yang diterima redaksi pada Senin, 24 Agustus 2026.
Ruteng,- Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang Flores pada 15 Agustus 2026 tidak hanya meremukan rumah dan merusak bangunan. Bagi ribuan warga yang terdampak, bencana nan ganas itu juga telah merenggut rasa nyaman, merampas orang-orang tercinta dan mengaburkan harapan esok hari.
Di tengah situasi kelam itu, lembaga pelayanan kemanusiaan Keuskupan Ruteng, sering disebut Karitas Keuskupan Ruteng (atau caritas) bergerak mendatangi korban.
Gambaran tentang kerja kemanusiaan ini tergambar dalam press release Karitas Keuskupan Ruteng yang diterima detakpasifik pada Senin, 24 Agustus 2026.
Detakpasifik mengulas informasi tersebut untuk melihat lebih jauh bagaimana Gereja Katolik merespons bencana dan mendampingi masyarakat terdampak gempa di wilayah Keuskupan Ruteng.
Karitas Keuskupan Ruteng tidak cuma datang bawa beras dan makanan, tetapi juga obat-obatan. Pelayanan dilakukan dengan mendatangkan tenaga medis serta menyediakan tempat berteduh sementara dari ancaman batang atau bata rumah yang seolah selalu mengancam menimpa pemiliknya akibat gempa susulan yang datang dan pergi. Mereka juga mendampingi anak-anak melalui misi pemulihan trauma (psychological recovery) serta memberikan penguatan psikospiritual bagi para korban.
Hingga 23 Agustus 2026, disebutkan bantuan telah menjangkau 11.907 penerima manfaat yang tersebar di 23 paroki.
Sebanyak 12.011 kilogram beras telah disalurkan. Bantuan lainnya terdiri atas 1.081 dos makanan siap saji, 396 dos air, 416 paket hygiene kit dan 89 paket shelter berupa terpal dan tikar.
Respons tersebut dimulai tidak lama setelah gempa terjadi.
Ketika RSUD Ben Mboi Ruteng ikut terdampak dan harus merawat pasien di luar ruangan, Keuskupan Ruteng memanfaatkan 27 tenda darurat yang sebelumnya digunakan sebagai booth Festival Golo Curu untuk mendukung kebutuhan pelayanan darurat.

Dari pusat pelayanan, respons kemudian diperluas ke berbagai wilayah terdampak.
Uskup Ruteng Mgr. Siprianus Hormat turun langsung mengunjungi sejumlah lokasi yang mengalami kerusakan parah, termasuk Reo, Dampek, Pota serta wilayah Paroki Beanio dan Beamese di Cibal.
Karitas juga berupaya menjangkau wilayah yang tidak mudah didatangi. Pota bagian pegunungan, Elar, Lamba Leda dan Manus menjadi bagian dari wilayah pelayanan.
Pesan yang dibawa sederhana. Tidak boleh ada korban yang merasa ditinggalkan.
Pelayanan pun tidak berhenti pada bantuan material.
Empat dokter dari Karina Indonesia memberikan pelayanan medis. Para imam, suster dan katekis ikut mendampingi warga melalui penguatan psikospiritual. Anak-anak korban bencana mendapat pendampingan psikososial melalui berbagai kegiatan trauma healing.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya Keuskupan Ruteng menghadirkan wajah Gereja yang tidak hanya berbicara tentang belas kasih, tetapi hadir dan berjalan bersama masyarakat ketika mereka berada dalam situasi paling sulit.

Data Karitas Keuskupan Ruteng per 23 Agustus 2026 mencatat dampak gempa cukup besar. Sebanyak 71 orang meninggal dunia, 1.147 orang terluka dan 24.084 rumah mengalami kerusakan. Sebanyak 80.775 orang harus mengungsi.
Sebanyak 67 gereja dan kapela juga dilaporkan mengalami kerusakan. Sebagian di antaranya bahkan tidak lagi dapat digunakan.
Namun, di tengah kehancuran itu, solidaritas justru tumbuh.
Karitas Keuskupan Ruteng menyampaikan apresiasi kepada masyarakat, perusahaan, komunitas, pemerintah pusat, pemerintah daerah dan pemerintah desa yang telah bekerja sama dalam penanganan korban bencana.
Karitas Nasional atau Karina Indonesia juga disebut terus mendampingi respons kemanusiaan tersebut sejak awal.
Perjalanan belum selesai.
Kebutuhan warga terdampak masih terus bergerak. Sembako dan air minum bersih masih dibutuhkan. Persoalan sanitasi dan psikososial juga memerlukan perhatian. Setelah masa tanggap darurat berlalu, kebutuhan rehabilitasi rumah dan berbagai fasilitas pendukung kehidupan masyarakat akan menjadi pekerjaan panjang.
Karena itu, solidaritas tidak boleh berhenti ketika pemberitaan tentang gempa mulai mereda.
Bagi Karitas Keuskupan Ruteng, bencana boleh mengguncang bumi Flores. Rumah boleh roboh hingga remuk. Fasilitas boleh rusak. Tetapi semangat untuk saling menolong dan berjalan bersama tidak boleh ikut runtuh.
Sebab dalam situasi paling sulit sekalipun, kemanusiaan selalu menemukan jalannya melalui tangan-tangan yang bersedia membantu.**











