Melki Laka Lena Diserang Netizen karena Smartphone, Benarkah Tak Peduli Rakyat?

Sumber foto: Laman Facebook Melki Laka

catatan Juan Pesau (Jurnalis, tinggal di Kota Kupang)

Kunjungan kerja Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka ke Nusa Tenggara Timur belakangan jadi topik panas di media sosial. Tapi anehnya, yang ramai diperbincangkan bukan substansialitas dari kunjungan si mas Wapres seperti program kerja, bantuan pemerintah, atau dialog bersama masyarakat. Jagat maya justru sibuk menguliti satu momen kecil yang menyeret nama Gubernur NTT, Melki Laka Lena.

Sebuah foto yang memperlihatkan Melki sedang memegang smartphone saat mendampingi mas Wapres mendadak viral. Foto itu diambil ketika agenda kunjungan di Kabupaten Kupang hingga Kabupaten Rote Ndao berlangsung. Dalam hitungan jam, gambar tersebut menyebar cepat di Facebook, TikTok, hingga grup-grup WhatsApp masyarakat NTT.

Narasi yang dibangun pun beragam macam. Seperti lahir dari relung sanubari yang penuh iri dengki dan hasrat provokatif. Ada yang menilai sang gubernur tidak fokus mendengar aspirasi rakyat. Ada pula yang menyebut ia lebih sibuk bermain ponsel ketimbang menyimak keluhan masyarakat yang sedang beraudiensi dengan wakil presiden.

READ  Menyambut MBG Sambil Mengantar NTT Eksodus dari Derita

Di era media sosial hari ini, satu potongan gambar memang bisa berubah menjadi “pengadilan umum”. Tanpa konteks, tanpa penjelasan, tanpa tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi. Publik dengan mudah menggiring opini hanya dari satu sudut kamera.

Padahal, bagi orang-orang yang mengenal dekat sosok Melki Laka Lena, tudingan itu terasa jauh dari kenyataan. Politikus yang lahir di Oeba, Kota Kupang itu dikenal sebagai figur yang responsif dan terbuka terhadap siapa saja. Banyak jurnalis di NTT termasuk saya bahkan punya cerita yang sama. Pesan WhatsApp kepada Melki hampir selalu dibalas cepat, bahkan di jam-jam yang tidak biasa.

Tak sedikit yang mengaku heran melihat kebiasaan itu. Di tengah kesibukan sebagai gubernur, Melki disebut masih menyempatkan diri membaca dan membalas pesan masyarakat secara langsung lewat telepon genggamnya. Bukan hanya pesan pejabat atau tokoh penting, tetapi juga pesan warga biasa, aktivis, hingga wartawan daerah.

Ada cerita dari orang dekatnya yang menyebut, dalam sehari mencapai 5 ribuan pesan bisa masuk ke smartphone milik gubernur tersebut. Kadang ia memilih membalasnya saat dini hari, ketika sebagian besar orang sudah tertidur lelap. Di saat orang lain mematikan ponsel untuk beristirahat, dan mungkin terlelap dengan mimpi menyaksikan program MBG suatu saat dapat membuncitkan otak bukan hanya perut siswa apalagi perut para pejabat yang mengaturnya, Melki justru masih menyimak laporan warga, keluhan masyarakat, atau sekadar menjawab sapaan.

READ  KUR Dibuka Kembali, Bank NTT Genjot Akses Modal dan Bangkitkan Ekonomi Manggarai

Karena itu, potret dirinya memegang smartphone di sela kunjungan wapres seharusnya tidak buru-buru diterjemahkan sebagai sikap cuek terhadap rakyat. Bisa jadi ia sedang mencatat poin penting dari pembicaraan warga. Bisa juga sedang menerima laporan lain yang mendesak dari masyarakat di daerah berbeda.

Apalagi dalam agenda resmi kenegaraan, ada etika dan protokol yang harus dijaga. Saat mendampingi wakil presiden, seorang gubernur tentu memahami batas posisinya. Ia tidak mungkin tampil terlalu dominan atau mengambil ruang komunikasi yang menjadi porsi utama sang wapres.

Namun di media sosial, logika seperti itu sering kalah oleh emosi dan sentimen para pendengki serakah. Potongan gambar lebih cepat dipercaya dibanding penjelasan panjang. Narasi negatif lebih mudah viral dibanding fakta yang utuh.

READ  Suara yang Tergilas, Hati yang Melawan : Demonstrasi sebagai Panggilan Kesadaran

Fenomena ini sebenarnya bukan hal baru. Dunia maya hari ini memang dipenuhi perang opini. Ada yang sengaja membangun persepsi buruk terhadap seseorang lewat potongan video, tangkapan layar, atau foto yang dipilih secara selektif. Tujuannya sederhana, membentuk kebencian publik.

Bahkan tidak sedikit akun anonim dan buzzer yang hidup mengisi perut kosong dari pola seperti itu. Mereka memainkan isu, menggiring emosi massa, lalu menikmati keributan yang tercipta. Ruang media sosial akhirnya berubah bukan lagi tempat bertukar gagasan sehat, tetapi arena saling serang dan menjatuhkan.

Di tengah kondisi seperti ini, kita sebenarnya perlu lebih bijak membaca informasi. Tidak semua yang viral adalah kebenaran utuh. Kadang yang terlihat di layar hanyalah sepersekian detik dari realitas yang jauh lebih panjang.

Bisa saja, di balik foto yang ramai dihujat itu, Melki Laka Lena sebenarnya sedang bekerja dengan caranya sendiri.
Begitulah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *