Berita  

Bendungan Manikin Butuh Paket 3, Pelimpah Tambahan Dinilai Tak Terpisahkan dari Keselamatan Bendungan

Bangunan Drop Intake Bendungan Manikin (Dokumen BBWS Nusa Tenggara II)

Laporan Juan Pesau

Kupang, detakpasifik.com- Pembangunan Bendungan Manikin di Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur, kembali memasuki tahapan pekerjaan baru dengan munculnya Paket 3. Paket tambahan ini buka cuma pekerjaan pelengkap, tetapi berkaitan dengan kemampuan bendungan mengendalikan limpasan air ketika debit yang masuk melampaui kapasitas tampungan.

Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Bendungan Manikin, Adi Nalemaa, menjelaskan, pembangunan fisik Bendungan Manikin terbagi dalam beberapa lingkup pekerjaan utama. Paket 1 menangani tubuh bendungan, sedangkan Paket 2 mencakup pembangunan pelimpah utama.

“Paket 1 adalah tubuh bendungan, Paket 2 adalah pelimpah utama, sedangkan Paket 3 adalah pelimpah tambahan. Pelimpah utama tidak cukup sehingga mesti dibuatkan pelimpah tambahan,” kata Adi kepadadetakpasifik, Kamis (10/9/2026).

Penjelasan itu sekaligus menjawab pertanyaan mengenai alasan pekerjaan Paket 3 di tengah pembangunan Bendungan Manikin yang telah berjalan sejak 2019.

Untuk diketahui, secara teknis, pelimpah atau spillway merupakan salah satu komponen penting bendungan yang berfungsi mengalirkan kelebihan air dari waduk secara terkendali sehingga tidak melimpas secara tidak terkendali melewati tubuh bendungan. Karena itu, kapasitas sistem pelimpahan menjadi salah satu aspek penting dalam menjaga keamanan bendungan, terutama ketika terjadi debit banjir besar.

Dengan demikian, kebutuhan terhadap pelimpah tambahan dapat dipahami sebagai bagian dari upaya memastikan sistem pengeluaran air Bendungan Manikin mampu menangani kondisi hidrologis yang direncanakan dalam desain. Namun, rincian mengenai kapasitas debit pelimpah utama, kapasitas pelimpah tambahan, serta dasar perhitungan teknis yang menyebabkan pelimpah utama dinilai tidak mencukupi masih perlu dijelaskan lebih lanjut oleh pihak teknis.

READ  Komunikasi dalam Kelompok dan Penggunaan Media Sosial

Data pemerintah menunjukkan Bendungan Manikin memiliki kapasitas tampung normal sekitar 20,45 juta meter kubik, sedangkan kapasitas tampung maksimumnya mencapai 28,20 juta meter kubik. Bendungan ini dibangun untuk mendukung ketahanan air dan pangan di wilayah Kabupaten dan Kota Kupang.

Selain menyimpan air, Bendungan Manikin memiliki sejumlah fungsi strategis. Kementerian Pekerjaan Umum menyebut bendungan ini akan mendukung pengembangan daerah irigasi sekitar 570,86 hektare, menyediakan air baku sekitar 700 liter per detik, sekaligus berfungsi untuk mengurangi risiko banjir di wilayah sekitar. Bendungan tersebut juga memiliki potensi pengembangan energi melalui PLTS terapung dan PLTMH.

Artinya, keberadaan sistem pelimpahan yang memadai tidak hanya berkaitan dengan bangunan bendungan secara fisik, tetapi juga dengan keberlanjutan fungsi strategis bendungan tersebut. Infrastruktur pengendali kelebihan air harus mampu bekerja ketika bendungan menghadapi kondisi debit tinggi agar fungsi penyimpanan air tetap berjalan tanpa mengorbankan aspek keamanan.

Paket 3 Sudah Masuk Dalam Perencanaan Pekerjaan Pemerintah

Dokumen pemantauan pekerjaan Direktorat Bendungan dan Danau yang tersedia pada 2026 juga menunjukkan bahwa Pembangunan Bendungan Manikin Paket 3 memang telah masuk dalam daftar pekerjaan konstruksi pemerintah. Dalam bahan ekspose April 2026, Paket 3 tercatat sebagai pekerjaan pembangunan Bendungan Manikin di Kabupaten Kupang dengan skema kontrak tahun jamak (multi-years contract).

READ  Kapal Pesiar Riviera Berlabuh di Tenau, 600 Wisatawan Mancanegara Siap Jelajahi Pesona Kupang

Sementara itu, dalam data pemerintah sebelumnya, pembangunan Bendungan Manikin memang telah dibagi menjadi Paket 1 dan Paket 2. Pada tahap awal, pemerintah menyebut Paket 1 bernilai sekitar Rp1,02 triliun dan Paket 2 sekitar Rp905,2 miliar. Kedua paket tersebut menjadi bagian dari pembangunan bendungan yang dikerjakan melalui anggaran negara.

Kemunculan Paket 3 mengindikasi pembangunan Bendungan Manikin tidak berhenti pada konstruksi tubuh bendungan dan pelimpah utama. Ada kebutuhan konstruksi lanjutan untuk memastikan seluruh sistem bangunan dapat berfungsi sesuai kebutuhan desain.

Hal ini jadi penting mengingat Bendungan Manikin merupakan Proyek Strategis Nasional dan memiliki nilai investasi sekitar Rp2,06 triliun berdasarkan data Komite Percepatan Penyediaan Infrastruktur Prioritas (KPPIP).

Mengapa Pelimpah Tambahan Penting?

Secara sederhana, waduk bekerja dengan menampung air hingga batas tertentu. Ketika terjadi hujan dengan intensitas tinggi dan air yang masuk ke waduk melebihi kapasitas yang dapat ditampung atau dilepaskan melalui sistem pengeluaran normal, diperlukan jalur pelepasan kelebihan air.

Di sinilah pelimpah memiliki peran vital.

Jika kapasitas pelimpah tidak memadai terhadap debit banjir yang menjadi dasar perencanaan, maka diperlukan sistem pelimpahan tambahan untuk meningkatkan kemampuan bendungan melewatkan debit air secara aman.

Kecuali itu, pernyataan PPK bahwa “pelimpah utama tidak cukup” menjadi titik penting dalam pembangunan Paket 3. Pemerintah perlu memastikan bahwa tambahan struktur tersebut benar-benar didasarkan pada kajian teknis dan hidrologi yang terukur.

READ  Pelimpah Utama Bendungan Manikin Dinilai Tak Cukup, Paket 3 Rp225,4 Miliar Disiapkan

Publik juga patut mendapatkan informasi lebih rinci mengenai berapa kapasitas pelimpah utama, berapa tambahan kapasitas yang dibutuhkan, parameter debit banjir rencana yang digunakan, serta apakah kebutuhan Paket 3 merupakan bagian dari desain awal atau hasil evaluasi/perubahan desain selama pelaksanaan konstruksi.

Hal itu penting karena pembangunan Bendungan Manikin menggunakan dana APBN dalam jumlah besar dan telah berlangsung selama beberapa tahun.

Proyek Masih Berjalan

Kementerian Pekerjaan Umum pada April 2026 melaporkan progres pembangunan Bendungan Manikin telah mencapai 68,98 persen, sedikit di atas target 68,57 persen. Pemerintah menargetkan bendungan ini menjadi salah satu infrastruktur penting untuk memperkuat ketahanan pangan, air, dan energi di NTT.

Dalam perkembangan terbaru, BBWS Nusa Tenggara II juga masih melakukan supervisi lanjutan terhadap pembangunan Bendungan Manikin. Pengawasan tersebut mencakup mutu konstruksi, keselamatan konstruksi, hingga pengendalian jadwal pekerjaan untuk memastikan pembangunan berjalan sesuai spesifikasi dan target.

Dengan posisi Bendungan Manikin sebagai infrastruktur strategis bagi NTT, pekerjaan Paket 3, menurut detakpasifik, patut mendapat perhatian publik. Bukan hanya dari sisi nilai kontrak dan proses pengadaan, tetapi terutama dari sisi alasan teknis mengapa pelimpah tambahan dibutuhkan dan bagaimana pekerjaan tersebut memastikan bendungan dapat beroperasi secara aman dalam menghadapi kondisi debit air ekstrem.*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *