Berkisah Ulang Tentang Mencari Manggarai di Cermin Frans Sales Lega

Dr. Pius Rengka (dokpri)


Oleh: Pius Rengka
Wartawan detakpasifik.com

Tulisan ini, tentu saja, mendaur ulang kisah lama. Tulisan lama yang pernah dibuat didaur sambil membaca konteks. Orang banyak tahu satu hal ini bahwa Manggarai Raya adalah daerah kantung, di mana tradisi kadang lebih penting dari kemajuan, di mana adat adalah kekuatan dominan. Di sana pun cinta yang lama ditimang-timang setekun orang memupuk dendam lama dan kesetiaan tali kekeluargaan serta ikatan feodal yang kusut berbelit-belit. Seringkali pula, kita meratapi masa kini tatkala kita mengenang masa silam yang gemilang.

Setelah ditimbang-timbang, melukiskan masa silam sesungguhnya adalah pekerjaan bagi semua orang. Kita mengenang masa silam kadang untuk mengadili masa kini. Kita berdoa juga sudah tentu berharap agar di kelak hari semua kegilaan yang ada tak lagi menjadi kebiasaan yang diterima tanpa interupsi. Apalagi ketika wabah korupsi, nepotisme, faksi-faksi politik kian meluas, mengental sehingga para pemilih politisi di aneka arena mulai kecewa dengan sedikit rasa mual.

Kecewa terhadap tokoh, yang tadinya diduga juru selamat, ternyata hanya seorang pecundang jenis lain yang hanya gemar memamerkan keserakahan sembari mendapuk aneka properti pribadi atau sejenisnya.

Waktu itu, siang nan cerah. Dalam musim panas yang telah lama berlangsung di bagian lembah-lembah Manggarai. Suatu masa kelembaman, suatu musim debu dan keletihan. Juga rasa getir yang berluka.

Itulah masa ketika musim panen telah lampau, dan para petani berlibur massal tatkala batang-batang padi dibiarkan tumbuh buat kawanan ternak para petani. Tampak di sawah bak tiara pusaka merebah kuyu layu di Woang, Karot, dan Tenda, para petani saling berkisah tentang masa masa sulit hidup mereka.

Di luar sana, burung-burung bangau, pelican, elang dan rajawali juga burung gagak melintas seperti merebut terbang ke udara menghiasi ruang angkasa biru melintasi gunung Ranaka, Mandosawu, Poco Likang, lalu menukik ke tepian sawah mencari katak yang terdampar sesat. Sementara, burung-burung pipit, tekukur, puyuh, bergerombol terbang datar melincah-lincah di sela-sela tunggul-tunggul sekam padi di sawah. Kisah empo dehong (penggorok leher) pun melantun naik daun.

Hutan Ranaka, Mandosawu berkelebat lebat yang ditumbuhi berupa macam jenis pohon, bak melindungi aneka satwa yang berumah di sana. Suara alam merdu bagai tali kecapi yang didedikasikan oleh para musisi dari sebuah renungan di musim semi.

Ketika itu, lonceng gereja Katedral Ruteng pun berkeloneng, mengalun di udara kering, seperti tenang mengundang umat berdosa agar segera berdoa tekun di bawah simpuh kaki panggilan Allah dari tabernakel nan sempurna di depan altar pelipur lara.

Lampu jalan tiada menyala. Di musim itu, juru lampu negara belum tersedia. Lampu-lampu petromax (manusia Manggarai menyebut lampu gas), dan pelita mengendap semburat cahaya dari celah dinding rumah papan yang tak rapi dikerjakan milik para toke Tionghoa. Tetapi, Ruteng, memang sebuah kenangan. Juga sejenis harapan yang letih bahkan aneh. Hilang.

Toko Sejati memang tetap di situ sejak dari dulu (1962). Baba Cenget, tukang foto kesohor seantero Manggarai, menggelantung alat potret, berjudi keuntungan dengan dagang foto pas.

Sungai mengalir jernih. Wae Ces, Wae Locak, mengirim air penuh ke seambak milik polisi demi difungsikan untuk mendera para pecundang hukum negara. Saat itu polisi di rumah tangsi, masih jujur dan tulus amat. Mereka tidak liar dan serakah. Apalagi berbakat menjadi tamak.

Air dari pegunungan mengalir tumpah ruah di selokan sederhana saluran kota, terkesan seperti anak sungai bernyanyi tentang kekayaan hutan. Juga bebas dari pesilat lidah palsu penipu negara. Damai sekali.

Lonceng angelus yang dipalu dari Gereja tua, seperti merayap ke pemakaman para leluhur di Puni, Waso, Lawir, Tulung dan juga di Woang, Tuke, Mena, Karot, Tenda dan Kumba hingga Leda di sebelah sana. Bunyi lonceng bergetar di atas lapangan paroki, merayap ke rumah huni SVD di tepi rusuk kiri Gereja Katedral. Aroma roti bakar dari meja makan para pastor, yang diracik para suster, merasuk masuk mengundang kelana imajinasi ke mana-mana.

READ  Menyambut MBG Sambil Mengantar NTT Eksodus dari Derita

Putri-putri jelita SMPK Putri Imaculata berlari awas tetapi lincah di atas jalan berbatu sambil ria gelisah yang didorong masa puber yang kian mekar. Penabuh, atau juru tarik lonceng gereja seperti sedang lelah karena tergerus usia lanjut. Musik genta keloneng lonceng lambat laun melemah, meredam sayup-sayup. Lalu senyap hilang. Pohon-pohon raksasa tumbuh di kota, juga di biara seperti alam melindungi penghuni dari ancaman angin yang datang mendadak tanpa didahului ramalan cuaca.

Di balik gerbang biara SVD, Bruder Wonggor (anak-anak menyebutnya begitu) kesohor, karena mata tajam biru, seperti sedang menuding anak-anak yang telah latah berbuat salah atau mencuri hostia di sakristi gereja. Tetapi, dia kudus.

Pater Hilarius Gudi, SVD juga begitu. Dia pastor paroki Ruteng. Lalu, seorang biarawan tua, berjubah putih tetapi kumal, keluar sambil mengatup tangan berdoa siang seperti komat kamit. Khusuk, seperti tak lama lagi dunia kiamat.

Meja pingpong paroki, sejenis arena tempat semai anak-anak cerdas di Kota Ruteng berkumpul. Mereka bakal diutus ke Seminari Pius XII Kisol, tempat di mana para pencinta cerdas dan calon pastor nan tulus merajut cita-cita.

Ruteng adalah suatu panorama tentang tenang. Ruteng, penuh pohon, bunga dan air jernih melimpah, bahkan teramat antik tetapi menarik, dan tidak banyak penghuni yang gemar berkelana di arena dosa main kartu tiga daun dan klangking. Dan, semerbak aroma wangi dikirim angin pagi bau kompiang dari entah di mana.

Dua minggu menjelang 17 Agustus saban tahun, Ruteng ramai meriah. Ribuan siswa SD dan para guru dari seluruh penjuru Manggarai Raya mengalir ke kota. Mereka jalan kaki. Mereka diundang Bupati. Lapangan sepakbola Motang Rua, menjadi saksi bisu. Manusia tumpah ruah mengungkap sejuta kisah kultural yang masih terjaga dan bersisa.

Begitulah, Maksimus Badu, anak kelas 6 SDK Ketang, haminte Lelak. Dia anak petani kampung Perang, Satar Mese Barat. Wajahnya sumringah, meski didera derita duka kemiskinan. Tetapi, dia meraup hadiah. Bupati Frans Sales Lega menyerahkan hadiah uang dan piala di depan lautan mata massa anak-anak SD yang tak bergeming usai dia melantunkan lagu adat yang sungguh bertuah.

Simus, demikian dia biasa disapa. Hitam manis, hidung mancung bak orang India yang terdampar di kaki bukit Golo Nosot. Gigi rapi, meski jarang dicuci. Rambut lurus, hitam pekat. Perangainya halus. Lembut. Suaranya merdu dengan vibrasi getar yang diterus jelaskan pengeras suara (toa).

Lautan massa pendengar hening senyap, seperti ditelan massa yang memadati lapangan sepak bola Motang Rua. Mereka tak hanya menikmati lagu itu hingga ke relung sukma yang paling sunyi. Tetapi, juga mencermati maknanya sebagai via tikum kehidupan. Sebagaimana biasa, manusia Manggarai mendokumentasikan sejarah hidup mereka dalam syair lagu-lagu.

Dia berjalan pelan menuju panggung utama. Mungkin gugup. Tetapi, Bapak Frans Ebat, Bapa Feliks Mar, dua guru pembina seni suara dan lagu-lagu adat Manggarai, mengedipkan mata demi menyalakan bara api keberaniannya.

Simus mengenakan destar Manggarai. Pinjaman orangtua. Baju putih lengan panjang, dibalut (sarung) towe songke sisa simpanan sang ende (ibu) yang terluka derita di desa. Destar di kepala terkesan seperti tonggak keunggulan kultural, tetapi juga semacam klaim tentang betapa indahnya anyaman budaya masa silam, sisa petuah orangtua, tentang bagaimana seharusnya menyongsong hari esok nan lebih berguna. Karia kecerdasan manusia Manggarai. Lebih tepat filsuf kampung Manggarai.

Bupati Frans Sales Lega trenyuh. Beliau cerdas, cermat, tegas tetapi bijak. Panitia lomba pun terkesima. Simus Badu sampai di puncak panggung dipanah ribuan mata. Simus memeluk piala dan sedikit uang, lalu tak tersana air mata bahagia mengalir tanpa dibendung. Ia meneteskan air mata suka cita. Bapak Bupati Frans Sales Lega memeluknya. Bupati mengurapinya dengan bait-bait narasi nasihat bertuah lama yang tak terlupakan.

READ  Langkah Catur Bupati Malaka di Tengah Jerat Efisiensi Anggaran Negara

Tepuk tangan pun riuh, gemuruh teriakan bangga para anak-anak nan tulus seperti memasuki lorong toko di tepi utara lapangan Motang Rua tanpa seketul cemburu yang melambung memecah langit. Kota Ruteng diselimuti langit biru persis di siang terik hari itu.

Bapak Frans Ebat dan Bapak Feliks Mar, di anak tangga paling bawah, menyambutnya, mendukungnya. Ratusan anak SDK Ketang, Lelak, dinyatakan juara konteks budaya.
Anak-anak SD lainnya mementaskan tarian caci, menyanyikan lagu-lagu adat. Mereka merefleksikan betapa agungnya kebudayaan para leluhur. Mereka berlomba menampilkan tarian caci, bernyanyi lagu Manggarai dan menari sanda, congka sae dan danding. Barangkali selang dua ratus tujuh puluh menit kemudian, lapangan lengang, kosong karena semua tamu pergi mencari tempat berhuni di rumah para famili atau kenalan.

Jalan kaki:

Jalan Tanpa Alas Kaki:

Saya masih ingat persis. Delegasi SDK Rejeng dan Ketang 80an orang. Ke Ruteng jalan kaki, 35 km tanpa alas kaki. Kami melintasi tiga anak sungai. Air sejuk, tetapi berlimpah. Pakaian dibungkus sarung bantal kumal seadanya. Itu pun jika ada. Tak ada dompet karena memang uang pun tak ada sama sekali. Wajah uang nyaris jarang tampak.

Dihantar para guru pendamping. Kami melewati jalan pintas dusun Bung, Kusu, Ngkor, La’o, Cumbi, Nterlango, Tuke Nikit, Wae Lerong, Leda, masuk Tulung lalu Puni, melintas Toko Agogo, melewati rumah Om Leo Mahal, Lux Prima, Patung Kristus Raja, mencari rumah keluarga di Woang atau Ruteng di rumah Bapa Anton Nabut, adik sepupu Bapa Geradus Rengka, di rumah sakit lama bertetangga dengan Om Carel Pudus, dan Om Don Hamon. Itu tempat kini ramai, sesak, dan sumpek.

Bagi saya, pengalaman masa kecil sangat mengesankan. Kabupaten Manggarai yang dipimpin oleh Bapak Frans Sales Lega berubah, berkembang dan menonjol. Siapakah gerangan tokoh legendaris kesohor ini?

Frans Sales Lega, lahir di Lale, Satar Mese, 29 Januari 1923. Beliau sungguh-sungguh politikus ulung kawakan. Beliau Bupati Manggarai ke-2, setelah Carolus Hambur. Tetapi, Bapak Lega, demikian biasanya ia disapa, memimpin Manggarai dua periode (1967—1972 dan 1973—1978). Tanpa secuil pun ceritera miring apalagi bermain-main di tepi kemiringan perbuatan tercela seperti korupsi, manipulasi, nepotisme dan jenis kelicikan manusia bebal lainnya.

Bapa Lega mantan frater Ledalero, Maumere, Flores. Kemudian melanjutkan pendidikan guru. Nilai-nilai luhur pendidikan di seminari sungguh merasuk masuk jauh ke dalam seluruh urat nadi pengabdiannya. Jujur, disiplin, rational, tekun dan spirit option for the poor begitu kental kuat. Pidatonya, terarah dengan bahasa Indonesia campur Manggarai, menggelegar berenergi motivasi, kerja keras, jujur dan tanggung jawab.

Bapak Lega, memang berhasil gemilang meski dana pembangunan super tipis. Bapak Lega memimpin Manggarai 10 tahun. Kasat mata, Manggarai SANGAT berubah. Komitmen Bapak Lega membangun Manggarai sangat tinggi, total tanpa noda dan onak faksi. Tak ada dendam kesumat terhadap lawan politik yang dibalut kepentingan untung diri sendiri. Beliau merangkul, mengajak dan mendorong semua potensi terberi alam dan manusia Manggarai. Potensi dan semua sumberdaya diberdayakan maksimal, meski di tengah situasi ekonomi negara dan keuangan negara kempis kering kerontang.

Gebrakan spektakuler yang melegenda tatkala Bapak Lega membuka Bandar Udara Satar Tacik, yang kini Satar Tacik diganti memakai namanya. Bapak Lega pulalah yang merintis pembangunan Bandar Udara Komodo, membangun jaringan Irigasi Wae Sele di Lembor, PLTA Wae Garit serta membangun Microwave di puncak Gunung Ranaka, yang sekarang dipindahkan ke Watu Hemping, Kecamatan Cibal.

READ  Retret Forkoma PMKRI NTT: Ruang Pulang, Ruang Berbagi

Mari kita membayangkan, bagaimana Beliau sanggup menggalang kekuatan dan konsolidasi sumber daya untuk membangun jalan raya menuju puncak Gunung Ranaka? Bukankah itu sesuatu yang tidak gampang di masa super sulit dari semua aspek? Tetapi, Bupati Lega ternyata bisa. Bapak Lega tidak hanya pemimpin yang transformasional dan strategik, tetapi dia juga adalah pemimpin yang dari dirinya mengalir darah humanisme yang kuat dan teguh. Mungkin saja dia pernah membaca renungan Thomas Carlyle yang mengatakan, lebih baik hidup secara jantan daripada mati secara terhormat.

Luar biasa. Meski anggaran serba sangat terbatas, tetapi toh Bapak Lega sanggup menggerakkan dan mengkonsolidasikan kekuatan birokrat dan rakyat bekerja sama dan sama-sama bekerja demi perubahan positif Manggarai dan memobilisasi kemakmuran rakyatnya.

Leadership kuat, tetapi tidak kotor. Beliau jauh dari isu main proyek, pungut upeti pungli atau sejenisnya, juga tidak tipu tapu muslihat hanya demi mempertahankan sepotong kursi bupati yang berkuasa dengan sejumlah batas. Batas waktu, batas anggaran, batas sumberdaya.

Bupati legendaris ini menghantar Manggarai keluar dari kungkungan keterbelakangan. Atas jasanya itu, pemerintah Jakarta menganugerahkannya Parasamya Purnakarya Nugraha. Bapak Frans Sales Lega ayah Uskup Manokwari-Sorong, Datus Hilarion Lega.

Ceritera-ceritera tentang Bapa Lega, berlimpah dengan humor yang cerdas dan bukan-bukan, penuh kejailan yang pintar tetapi tidak lepas dari jenaka ria demi memproduksi tawa. Relasinya dengan gereja, kadang panas kadang dingin.

Gereja sebagaimana biasa mendapuk diri sebagai penjaga moral paling sahih, meski ada di tengah medan umat yang masih miskin. Tetapi, relasi keduanya tetap dalam satu formasi gerakan. Menuju Manggarai tangguh, kuat dan berkibar tetapi beradab.

Lagu Manggarai yang diciptakan Sekda Bapa Pius Papu, adalah contoh betapa para pemimpin meskipun di tengah kepedihan derita kekeringan anggaran, tetapi kreativitas dan inovasi selalu bernyala dari akal dan hati mereka yang jujur tulus.

Rakyat tergerak dan bergerak lantaran ada yang menggerakkan. Rayat patuh karena rakyat melihat pemimpin bersungguh-sungguh. Dalam pidatonya yang bernada keras bergetar, tetapi nyaring merdu motivasi dan simpati, Bapa Lega, kemudian legah karena Manggarai maju termaktub dalam lagu Gunung Ranaka.

Ceritera Bapa Lega, sungguh mati tak pernah lekang dari lembar sejarah meski dibantai terik zaman dan dinginnya sejarah Manggarai setelahnya. Karenanya, kini saya mencari Manggarai yang hilang sambil bercermin pada pengalaman Bapak Lega.

Manggarai seperti sebuah jazirah yang hilang, karena tidak ada lagi ceritera gemilang. Maka memasuki musim tarung pemilihan Kepala Desa, DPR/D, Bupati dan wakil bupati di hari-hari ke depan nanti, saya mengajak semua pihak untuk selalu mengenang leadership tokoh sekaliber Frans Sales Lega.

Dia, Bapak Lega itu, adalah seorang lelaki tua yang membuat tanda-tanda nyaris seperti tanda heran, dan kenangan. Bapak Lega pantas berdiri tegak di depan peradilan sejarah Manggarai. Dan, dia menang karena itu. Dia selalu pantas dikenang. Mengapa?
Karena ada tertulis di wajah kita masing-masing untuk dibaca oleh semua orang. Kita adalah apa yang kita lakukan. Sedangkan saya adalah orang asing yang menjual lukisan kisah dan ceritera masa silam sambil menunggu rakyat Manggarai sanggup memilih orang yang pantas dan layak untuk posisi apa pun di tingkat desa, kabupaten dan legislatif.

Entah untuk Kepala Desa, Anggota DPR/D, Gubernur dan Presiden, apalagi memilih Bupati. Mereka orang penting. Mereka seharusnya berkepentingan untuk pertama-tama dan utama mementingkan kepentingan rakyat.

Saya pasti bukanlah pengulur tangan mengemis cinta pemilih, atau mengeluh di depan gerbang ilusi. Selamat berpolitik cerdas wahai manusia Manggarai. Begitulah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *