Surat Dari Dapur Redaksi 2026

Ilustrasi dapur redaksi detakpasifik (pixabay)

Tak disangka terlampau dalam, bahwa waktu terus mengalir. Waktu tidak pernah dan bahkan tidak bakal pernah kembali. Waktu tak pernah berjalan surut. Begitu pun kami di redaksi media online detakpasifik.com.

Refleksi yang selalu ditampilkan ialah tentang jurnalisme adalah lukisan fakta, peristiwa atau sejarah tentang manusia dan lingkungannya. Lingkungan manusia berupa sesama manusia, juga alam semesta dan seisinya.

Nusa Tenggara Timur menangis. Bukan lantaran bertahan dalam selimut derita kemiskinannya tetapi karena terkesan sepertinya NTT kekosongan manusia kritis yang selalu tajam menganalisis fenomena, dan setia pada sikap kritis terhadap kritik.

Dari semua lembaga perangkingan perguruan tinggi di nusantara dan dunia, misalnya, tak sekalipun menyebut satu apalagi sejumlah perguruan tinggi di NTT masuk dalam hitungan kaum kritis dunia. Mengapa begitu ya? Apakah karena perguruan tinggi kita di sini kehilangan madzhab kritis atau karena nyaris hampir semua orang yang diduga intelektual di sini berhenti pada fase perolehan gelar atau sejenisnya. Atau lantaran mereka juga menjadi bagian dari intelektual para rezim yang sedang berkuasa di mana-mana?

Hamish McRae menulis buku The World in 2050; How to Think About the Future. Buku yang terbit perdana di Britania Raya tahun 2022 itu, telah ikut mengguncang para pemikir kritis dunia. Salah satu sumbangan kritis McRae ialah bagaimana membangun keseimbangan dunia di tengah ketidakseimbangan global? Bagaimana pula mengimbangkan kepastian di tengah gelombang dahsyat ketidakpastian dunia?

McRae tidak hanya melihat bagaimana dunia hari ini, tetapi juga meramalkan bakal apa yang terjadi di masa depan hingga 2050. Bagaimana nasib demokrasi, apakah masih diperlukan atau justru harus dicampakkan dalam-dalam ke liang lahat global atau justru harus dimatangkan agar menjadi kultur dunia? Apakah stabilitas dapat terjadi di belahan Afrika dan mempengaruhi kawasan Asia?

Andaikan salah satu redaktur detakpasifik.com ikut menulis di itu buku, mungkinkah juga dia bertanya apakah NTT menyumbangkan sesuatu dalam kancah pikiran global sekurang-kurangnya menata ulang nusa tenggara dalam limbah kebusukan negara yang dihuni oleh manusia bernaluri keserakahan yang ganas dan narasi pengelompokkan yang kian mengental di mana-mana, termasuk di sini dan kini.

Media online detakpasifik.com dalam renungan akhir tahunnya di tepi sungai keheningan hanya bersiteguh berdiri, tentu bukan di tengah permainan, tetapi di tepi riak dan busa jurnalisme yang kini kian liar dan meliar di mana-mana.

Amat klasikal, bahwa fakta adalah fakta, opini adalah perspektif dan kita teguh berjarak demi semua jarak itu sendiri karena dipercaya setiap konteks ada perspektif. Karena jarak adalah unik, dan unik itu khas.

Pada akhirnya, jurnalisme tidak pernah benar-benar lahir dari ruang steril. Ia tumbuh dari kegelisahan, dari pertanyaan-pertanyaan yang tak selalu menemukan jawaban, dan dari keberanian untuk terus mencatat meski sadar bahwa catatan itu bisa saja diabaikan, ditertawakan, atau dilupakan. Namun justru di situlah martabat jurnalisme diuji: tetap menulis ketika sunyi, tetap bersuara ketika gema terasa sia-sia.

Detakpasifik.com memahami sepenuhnya bahwa kerja jurnalistik bukan sekadar soal kecepatan atau sensasi, melainkan soal kesetiaan pada akal sehat dan nurani publik. Di tengah pusaran algoritma, klik, dan kepentingan, redaksi memilih untuk tetap merawat kata, menimbang makna, dan menjaga jarak yang sehat dengan kekuasaan maupun kerumunan.

NTT dengan segala paradoksnya tidak kekurangan cerita, tetapi sering kekurangan keberanian untuk menafsirkan cerita itu secara jujur dan kritis. Karena itu, redaksi percaya bahwa tugas media bukan menggantikan suara publik, melainkan membuka ruang agar suara-suara itu berani hadir, beradu argumen, dan diuji secara terbuka. Dari sanalah kemungkinan lahirnya manusia kritis tetap dijaga, meski kecil dan rapuh.

Tahun 2026 bukanlah janji kemajuan, juga bukan jaminan perubahan. Itu hanyalah penanda bahwa waktu terus berjalan, dan kita dipaksa memilih: menjadi pencatat yang patuh atau penanya yang gelisah. Detakpasifik.com, sejauh yang mampu dijalani, memilih yang kedua dengan segala risiko dan keterbatasannya.

Jika tulisan-tulisan kami kelak masih menimbulkan tanya, kegusaran, atau bahkan penolakan, redaksi menganggapnya sebagai tanda bahwa jurnalisme belum sepenuhnya mati. Selama masih ada yang membaca dengan pikiran terbuka dan hati yang waspada, kerja ini akan terus diupayakan.

Dari dapur yang sederhana, dengan api yang dijaga agar tak padam, kami melangkah ke tahun yang baru tanpa ilusi besar, tanpa kepastian palsu. Hanya dengan keyakinan bahwa berpikir kritis masih layak diperjuangkan.
Begitulah. Selamat tahun 2026.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *