Oleh: Marselus Natar
Ada satu tubuh yang belakangan ini menjadi pusat perhatian di jagat maya. Tubuh itu dicat perak, berdiri di tengah Kota Ruteng yang dingin, tanpa jaket, tanpa selimut, tanpa pelindung yang memadai. Video dan foto kehadirannya beredar cepat, berpindah dari satu gawai ke gawai lain, dari satu linimasa ke linimasa berikutnya. Dalam hitungan jam, ia berubah dari orang asing menjadi perbincangan publik.
Fenomena ini memantik respons yang berlapis. Sebagian netizen memuji ketangguhan tubuhnya–bagaimana ia sanggup bertahan di suhu dingin Ruteng tanpa mengenakan pakaian layak. Sebagian lain mengecam dengan nada keras, menilai kehadirannya mengganggu wajah kota yang selama ini dikenal tenang, bersih, dan jauh dari praktik mengemis ekstrem sebagaimana di kota-kota besar. Tak sedikit pula yang tersulut oleh simbol bendera Palestina di lengan kanannya, seolah solidaritas global adalah provokasi. Di antara semua itu, ada tulisan kecil yang nyaris tak terbaca oleh kemarahan: I Love Ruteng.
Yang menarik, manusia silver ini lebih banyak dibicarakan sebagai fenomena, bukan sebagai manusia.
Tubuhnya menjadi bahan tafsir bebas. Ada yang melihatnya sebagai simbol kemiskinan yang “tidak pada tempatnya”. Ada yang menganggapnya sebagai ancaman terhadap ketertiban. Ada pula yang memperlakukannya sebagai tontonan eksotis–sesuatu yang layak direkam, dibagikan, lalu dilupakan. Di ruang digital, ia kehilangan suara, kehilangan cerita, dan perlahan kehilangan kemanusiaannya.
Ruteng, seperti banyak kota kecil lainnya, sering dibayangkan sebagai ruang yang steril dari wajah-wajah kemiskinan ekstrem. Ketika realitas yang tidak diundang itu hadir, refleks sosial yang muncul bukanlah keingintahuan, melainkan penolakan. Kita tergesa menanyakan dari mana ia datang, bukan apa yang membuatnya sampai di titik itu. Kita sibuk menjaga citra kota, sambil lupa bahwa kota bukan sekadar bangunan dan keteraturan visual, melainkan juga cara ia memperlakukan manusia paling rapuh di dalamnya.
Di sinilah persoalan menjadi lebih dalam. Penolakan terhadap manusia silver sejatinya bukan soal ketertiban semata, melainkan ketakutan kolektif: takut wajah kemiskinan merusak ilusi tentang kota yang baik-baik saja. Padahal, kemiskinan tidak diciptakan oleh kehadirannya. Ia hanya memperlihatkan sesuatu yang selama ini mungkin kita enggan lihat.
Simbol bendera Palestina di lengannya memperumit reaksi. Simbol itu dibaca bukan sebagai empati, melainkan sebagai gangguan. Padahal, solidaritas terhadap penderitaan di tempat lain tidak pernah mengurangi kecintaan pada ruang hidup sendiri. Justru sebaliknya, kepekaan terhadap luka global sering kali lahir dari kesadaran bahwa penderitaan manusia bersifat universal. Ironisnya, simbol itu lebih diingat daripada pesan cintanya kepada Ruteng–sebuah cinta yang datang dari tubuh yang terpinggirkan.
Media sosial mempercepat semua penghakiman ini. Kolom komentar berubah menjadi ruang sidang tanpa hakim, tanpa pembela, tanpa kesaksian. Vonis dijatuhkan dengan cepat: “Pulangkan saja”, “Kembali ke daerah asal”, “Tolong Sat Pol PP amankan manusia ini!”. Tak ada yang sungguh-sungguh bertanya apa yang melatarbelakangi kehadirannya, atau sejauh mana sistem sosial telah gagal memberi ruang hidup yang layak.
Catatan ini tidak sedang mengromantisasi kemiskinan, apalagi membenarkan praktik mengemis ekstrem. Namun menolak tanpa memahami adalah bentuk kemalasan moral. Mengusir mungkin membersihkan pandangan mata, tetapi tidak pernah menyentuh akar persoalan. Yang berpindah hanyalah masalah, bukan solusinya.
Pada titik ini, manusia silver di Ruteng tidak lagi sekadar individu. Ia menjelma menjadi cermin. Cermin tentang bagaimana kita memaknai keteraturan, tentang sejauh mana empati kita bekerja, dan tentang batas toleransi kita terhadap ketidaknyamanan sosial. Cermin itu memantulkan pertanyaan yang tidak mudah dijawab: apakah kota yang kita banggakan benar-benar ramah bagi semua, atau hanya bagi mereka yang tidak mengganggu kenyamanan mayoritas?
Barangkali yang paling menggetarkan dari peristiwa ini bukanlah tubuh perak yang berdiri di tengah dingin, melainkan reaksi kita sendiri. Kita terpesona pada daya tahan fisiknya, tetapi gagal menguji daya tahan nurani kita. Kita sibuk menjaga citra kota, tetapi abai merawat kemanusiaan di dalamnya.
Pada akhirnya, manusia silver itu boleh saja pergi. Video dan fotonya akan tenggelam oleh isu lain yang lebih baru. Namun pertanyaan yang ia tinggalkan seharusnya tidak ikut menghilang: ketika kemiskinan berdiri di depan mata, apakah kita memilih melihatnya sebagai gangguan, atau sebagai panggilan untuk menjadi lebih manusia?
Sebab kota yang benar-benar bermartabat bukanlah kota yang bebas dari orang-orang seperti manusia silver, melainkan kota yang tidak kehilangan hati saat berhadapan dengan mereka.











