Desa Bea Ngencung Bersiap Menjadi Sentra Buah dan Hortikultura Manggarai Timur

Ori Hana Koordinator Petani Milenial Bea Ngencung

Borong, detakpasifik.com- Di pesisir selatan Kabupaten Manggarai Timur, tepatnya di Desa Bea Ngencung, sebuah perubahan besar tengah tumbuh dari lahan-lahan pertanian yang selama puluhan tahun didominasi sawah padi. Desa yang dikenal sebagai wilayah agraris ini kini bersiap menjadi pusat buah dan hortikultura di kawasan timur Flores.

Dari Krisis Panen Menuju Inovasi Pertanian

Sebagian besar warga Bea Ngencung berprofesi sebagai petani sawah. Selama bertahun-tahun, mereka mampu memanen padi hingga tiga kali dalam setahun. Namun, beberapa tahun terakhir situasi berubah drastis. Serangan hama dan penyakit tanaman semakin sulit dikendalikan. Hasil panen menurun, bahkan sebagian petani mengalami gagal panen.

Dengan keterbatasan modal dan akses teknologi, para petani bertahan seadanya. Di tengah situasi yang tidak menentu itu, muncul kegelisahan, terutama dari kalangan anak muda desa.

Alih-alih menyerah, sekelompok pemuda memilih mengambil langkah berani. Mereka membentuk kelompok Petani Milenial Desa Bea Ngencung, sebuah gerakan perubahan pola pikir dan pola tanam di desa tersebut. Terobosan utama mereka adalah mengalihkan sebagian lahan sawah menjadi lahan hortikultura.

READ  Sampah Jadi Tiket Baca, Rumah Literasi di Kupang Tanamkan Karakter Anak Desa

Transformasi ini tidak berjalan sendiri. Kelompok petani milenial mendapat pendampingan dari Yayasan Bina Tani Sejahtera (YBTS), sebuah lembaga yang fokus pada pengembangan pertanian berkelanjutan.

Pendamping lapangan YBTS, Maksimus Makus, alumni Politeknik Negeri Kupang menjelaskan bahwa program ini bertujuan meningkatkan pendapatan petani sekaligus mentransfer ilmu budidaya hortikultura berkelanjutan.

Proses pendampingan dilakukan secara sistematis:

  • Sosialisasi program
  • Identifikasi petani milenial usia 18–38 tahun
  • Sekolah lapang “Youth Onboarding” selama 10 hari
  • Praktik budidaya dari pengolahan lahan hingga pemasaran
  • Pendampingan intensif harian

Hasilnya mulai terlihat hanya dalam dua bulan. Sejumlah petani telah memanen semangka, melon, dan kacang panjang dengan hasil menggembirakan. Keberhasilan awal ini menjadi katalis perubahan. Semakin banyak pemuda dan petani tertarik mengikuti jejak mereka.

Staf YBTS bidang Life Skill, Chors Matheos Bana, menekankan bahwa keberhasilan hortikultura bukan hanya soal menanam, tetapi juga soal kecakapan hidup.

Menurutnya, petani perlu memiliki kemampuan:

  1. Mengambil keputusan tepat (memilih komoditas, waktu tanam, metode budidaya)
  2. Menetapkan tujuan usaha yang jelas
  3. Menyusun rencana usaha tani secara terukur
  4. Mengelola keuangan dengan pencatatan pemasukan dan pengeluaran
READ  Membangun dengan Mental atau Membangun Mental?

“Dengan life skill yang baik, petani bukan hanya menjadi penanam, tetapi pengusaha hortikultura yang mandiri dan profesional,” ujarnya.

Harapan: Desa Buah dan Lapangan Kerja Lokal

Koordinator Petani Milenial, Ori Hana, menyebut dua alasan utama gerakan ini lahir yakni keresahan atas penurunan hasil panen padi dan besarnya potensi pertanian desa yang belum dimanfaatkan optimal.

Ia menegaskan, jika hortikultura dikembangkan serius, Bea Ngencung bukan hanya mampu meningkatkan pendapatan warga, tetapi juga mengurangi arus perantauan tenaga kerja ke Malaysia dan Kalimantan.

“Kami berkomitmen menjadikan Desa Bea Ngencung sebagai kawasan buah untuk Manggarai Timur, bahkan bisa memasok ke Manggarai dan Manggarai Barat,” tegasnya.

Namun, ia juga berharap dukungan serius dari pemerintah desa dan pemerintah daerah. Pasalnya, pendampingan YBTS berlangsung selama satu tahun. Keberlanjutan program sangat bergantung pada komitmen pemerintah setempat.

Kisah Sukses: Dari Pesimis Jadi Untung Rp18 Juta

Cerita paling menginspirasi datang dari Carles Jemompar, anggota petani milenial. Ia pernah mencoba menanam semangka pada 2012, namun gagal karena pasar belum mengenal produk tersebut.

READ  Dangko dan Perjalanan Mencari Pante

Kini, dengan pendampingan intensif YBTS, Carles kembali mencoba. Ia mengolah lahan seluas 14 x 40 meter dengan 700 tanaman semangka. Hasilnya mengejutkan: keuntungan mencapai Rp18 juta dalam satu musim tanam.

Angka tersebut jauh melampaui pendapatannya saat mengelola sawah.

“Kalau dibandingkan dengan hasil sawah, ini sangat berbeda. Saya bersyukur dan berterima kasih atas pendampingan ini,” ungkapnya.

Keberhasilan itu membangkitkan optimisme baru. Petani yang dulu ragu kini mulai mempertimbangkan alih fungsi lahan. Semangat kolektif tumbuh, mimpi bersama untuk menjadikan Bea Ngencung sebagai “desa buah”.

Perubahan di Bea Ngencung menunjukkan satu hal penting: krisis bisa menjadi titik balik ketika direspons dengan inovasi dan kolaborasi.

Jika dukungan pemerintah daerah berlanjut, bukan tidak mungkin Desa Bea Ngencung akan dikenal sebagai sentra hortikultura baru di kawasan timur Flores. Menggerakkan ekonomi lokal, membuka lapangan kerja, dan membuktikan bahwa generasi muda desa mampu menjadi motor transformasi pertanian.

Kini, dari lahan-lahan pesisir yang dulu didominasi padi, tumbuh harapan baru dalam warna merah semangka dan hijau melon.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *