Oleh: Marselus Natar (rohaniawan Katolik pada Kongregasi Frater-Frater Bunda Hati Kudus, penulis buku kumpulan cerpen dengan judul Usaha Membunuh Tuhan).
Pagi itu, kabut turun perlahan di kampung Poco. Rumah-rumah beratap ilalang, dengan dinding sedikit berlumut berdiri sunyi. Sedang asap tipis dari tungku dapur melayang ke udara. Di depan rumah, Dangko duduk memandangi batang -batang Enau yang tumbuh di pinggir lembah. Ia teringat pada ayahnya –lelaki kurus berkulit sawo matang yang dulu setiap fajar memanggul Teong¹ dan Pante² berjalan sendirian ke kebun.
Dulu, hidup mereka sederhana tapi damai. Sampai suatu hari, datang razia aparat. Polisi menyita Tuak³ dan Sopi⁴, serta merobohkan pondok penyulingan yang mereka sebut Sekang. Sejak itu, ayahnya murung. Tak lama kemudian, ia pamit merantau. “Saya mau kerja bangunan di Labuan Bajo,” katanya singkat. Ia pergi pagi-pagi, hanya membawa pakaian seadanya, perkakas tukangnya dan parang di pinggang. Tak seorang pun tahu bahwa hari itu akan menjadi hari terakhir mereka melihatnya.
Yang tertinggal hanyalah pante milik pamannya, yang dulu dipinjam oleh ayahnya dan tak pernah dikembalikan.
Beberapa tahun kemudian, pamannya datang dengan wajah gusar.
“Dangko,” katanya tanpa basa-basi, “di mana pante yang dulu dipinjam ayahmu?”
Dangko terdiam. “Saya tidak tahu, Amang⁵. Mungkin Ayah bawa waktu merantau.”
Pamannya menggeleng keras. “Tidak. Orang pergi merantau, mana bisa bawa pisau begitu. Carilah! Itu barang saya, dan kau harus kembalikan!.” Nada suaranya tajam. Dangko merasa bersalah, meski ia sama sekali tak tahu di mana benda itu berada. Sejak hari itu, ia mulai mencari ke seluruh penjuru rumah. Di dapur, di bawah tempat tidur, di loteng, bahkan di kebun belakang. Tak satu pun yang ia temukan. Ia bertanya pada ibunya, tapi perempuan itu hanya menjawab pelan, “Ayahmu tidak bilang apa-apa waktu pergi. Ia hanya menatapku lama, lalu melangkah pergi.”
Malam itu, setelah semua tertidur, Dangko duduk di beranda, menatap bintang. Ia berbisik pada dirinya sendiri: “Kalau pante itu masih ada, mungkin Ayah yang tahu di mana.”
Kalimat sederhana itu menyalakan tekadnya. Ia akan mencari Ayah –bukan hanya untuk pante itu, tetapi juga untuk memahami sesuatu yang lebih dalam dari sekadar alat kerja.
Beberapa minggu kemudian, Dangko naik oto kol⁶ yang selalu berderit tiap kali menanjak bukit. Ia menempuh perjalanan panjang menuju Labuan Bajo, duduk berdesakan dengan karung beras dan ayam hidup di dalam kendaraan. Bau solar dan asap rokok bercampur di udara. Ia tak mengeluh; pikirannya hanya tertuju pada satu hal: menemukan ayahnya.
Di kota Labuan Bajo, ia mencari informasi dari satu orang ke orang lain –di pasar, di pelabuhan, di barak para pekerja bangunan. Sebagian mengenal nama ayahnya, sebagian hanya menggeleng. Hingga seorang tukang batu tua berkata, “Ayahmu memang pernah kerja di sini, tapi itu sudah lama. Setelah proyek selesai, dia pindah ke Raba, di Bima. Katanya ikut bangun rumah orang kaya di sana.”
Dangko tak berpikir dua kali. Ia menumpang kapal nelayan yang berlayar ke arah barat, menyeberangi laut menuju Bima. Angin laut memukul wajahnya, tapi ia tak peduli. Ada sesuatu yang memanggilnya dari jauh.
Sesampainya di Raba, ia berjalan dari satu kampung ke kampung lain. Akhirnya, seorang warga mengenali ciri-ciri ayahnya: kulit sawo matang, tubuh kurus, selalu membawa parang di pinggang. “Ya, dia pernah kerja bangunan di sini,” kata lelaki itu. “Tapi kemudian dia sakit. Tak punya KTP, tak punya keluarga. Kami bantu sebisanya, tapi akhirnya dia meninggal. Kami kuburkan di pemakaman umum di belakang bukit.”
Kata-kata itu seperti batu jatuh di dada Dangko. Dunia terasa hening. Ia pergi ke tempat yang disebutkan: pemakaman tua di pinggir hutan. Rumput liar menutupi gundukan tanah. Tak ada tanda, tak ada batu nisan yang bisa dibaca.
Ia berdiri lama di sana, lalu berbisik: “Kalau benar ini tempatmu, Ayah, tolong tunjukkan aku tanda.”
Keesokan harinya, ia membeli ayam kampung dengan bulu berwarna putih di kampung Raba. Ia teringat, dulu kakeknya pernah bercerita: roh orang mati bisa dipanggil melalui manuk bakok⁷ jika ritualnya dilakukan dengan hati yang tulus. Maka, dengan keyakinan itu, ia menuju pemakaman dan berdiri di tengah hamparan kubur.
Ia meletakkan sebuah batu ceper di dekat gundukan tanah, menaruh daun sirih, pinang dan kapur sirih di atasnya, lalu berlutut. Ia mulai menuturkan torok⁷ dalam bahasa Manggarai:
“Rajam Tara caum laku hau manuk, ai deun daku lako kawe hi Ame, limbang laku tacik mbilar, onoks laku bombo, toe kudut kawe bokong, landing le pede di amang kawe Pante. Ho’o kaku cai ce’e beo Raba, denge laku kreba data, kali poli renco tesong, behas tesang, tadu le watu daku hia Ame ga. Toe ma nipu laku mbaru kaengn hia Ame one mai sangged boa so’o. Ole am ita kaku li Ame, landing mata raja daku toem ngance ita itey. Co’om titong agu toing one manuk ho’oi mbaru kaeng dite, kudut bae agu pecing laku mbaru Dite hitu. Hitu reweng daku kamping Ite. Landing co’o; eme manga ngasang kapu toe naun ngasang manuk ho;o, ko torok toe kop one mai tombog, ole Ame somba lite.”

(Dangko melakukan ritual torok, memohon bantuan para leluhur dan roh dari ayahannya agar memberitahukan posisi atau letak makam ayahanda tercinta. Ayam putih adalah medium perantara sekaligus penunjuk keberadaan kubur. Dangko, dengan jujur dan tulus mengungkapkan isi hatinya, termasuk bagaimana ia berjuang melintasi lautan, bukan untuk mengadu nasib tetapi untuk mencari tahu keberadaan ayahnya, menanyakan pante yang ia pinjam pada iparnya. Ia juga mengungkapkan kepedihan hatinya sebab informasi kematian dan ketidaktahuan lokasi dan letak kubur ayahnya. Karena itu, dengan rendah hati dan penuh harapan, ia meminta bantuan para leluhur dan roh ayahnya agar menunjukkan keberadaan kubur itu melalui ayam putih. Jika ayam itu mengais tanah dalam waktu yang cukup, maka itu adalah isyarat bahwa letak atau posisi kubur berada di situ.)
Setelah itu, ia melepaskan ayam putih itu. Ayam berputar-putar di antara gundukan tanah. Hingga akhirnya berhenti di satu titik dan mulai mengais tanah di sana cukup lama. Dangko mendekat. Tanahnya sedikit menonjol, seperti bekas kuburan lama. Ia berlutut, menyentuhnya. Dingin. Tapi dari dalam hatinya, mengalir sesuatu yang hangat, seperti kasih yang lama tertanam.
Ia duduk bersandar di sebuah pohon kecil, matanya terasa berat. Dalam kantuk, ia mimpi bernyanyi:
“Ame… Ame yeee… nia pante di Amang…?” (Ayah oh Ayah,… di mana Om punya pante?)
Lalu terdengar balasan lembut:
“Dangko… Dangko eee… awo Poco Pene aa besale mai Dangko eee…” (Dangko, oh Dangko.., di samping Poco Pene lah pante itu diletakkan)
Ia terbangun. Langit jingga, angin hutan berdesir lembut. Ia tidak tahu arti kata Poco Pene, tapi ia tahu itu pesan. Pesan dari ayahnya. Ia tercenung. Merenung. Air matanya mengalir perlahan, membasahi pipinya. Lalu dalam hatinya, ia berkata:
“Terima kasih, Ayah. Ternyata engkau tidak benar-benar meninggal. Aku mengerti sekarang, kita hanya tak sanggup tersapa indra”.
Sebelum beranjak, ia menatap kubur ayahnya dalam-dalam, sedang ayam putih itu kini berkeliaran di sekitar kubur. Ia biarkan hidup di sana –sebagai penjaga sunyi antara dunia dan kenangan.
Sekembalinya di Poco, Dangko menceritakan semuanya pada ibunya: tentang perjalanan, kubur ayahnya, dan mimpi aneh itu.
“Mama..,” katanya, “Apa itu Poco Pene?”
Ibunya menatap lama, lalu menjawab pelan, “Poco Pene itu potang manuk⁸, Dangko!”
Jantung Dangko berdegup. Ia berlari ke belakang rumah. Di dekat potang manuk, di samping dinding dapur yang kering, ia melihat sesuatu tertutup separuh potang manuk. Ia menyingkirkannya pelan. Dan di sana, tergeletak pante yang masih utuh meski sudah berkarat.
Ia genggam benda itu lama-lama. Air matanya jatuh, bukan karena sedih, tapi karena rasa rindu yang menemukan wujudnya. Ia tahu, ayahnya tidak pernah benar-benar pergi.
Keesokan paginya, ia datang ke rumah pamannya, menyerahkan pante itu tanpa banyak bicara. Pamannya memandangnya lama. “Kau temukan di mana?” Dangko hanya tersenyum tipis. “Ayah yang menunjukkan.” Pamannya terdiam. Ia tahu, ada hal-hal yang dapat dijelaskan sejauh ada usaha dan pengorbanan.
Tahun-tahun berikutnya, Dangko mengikuti jejak ayahnya sebagai penyadap enau. Setiap pagi ia memanjat pohon, menyayat batangnya dengan pante yang sama. Tangannya dingin, tenang, dan hasil tuak nya jernih serta harum. Orang-orang bilang, “Darah penyadap itu turun kuat dalam tubuhnya.”
Suatu sore, pamannya dan beberapa warga kampung datang lolu tuak⁹. Mereka tertawa, berbagi kisah tntang apa saja yang terlintas dalam kepala mereka. Tiba-tiba, pamannya tergelincir dan menumpahkan tuak ke tanah. Dangko spontan berkata, “Om, kembalikan tuak yang tumpah itu ke dalam senduk¹⁰!”
Omnnya tertegun, lalu tertawa kecil. Tapi Dangko menatapnya serius. Ia tahu, kata-kata itu bukan sekadar lelucon. Itu semacam gema dari masa lalu -pesan bahwa apa pun yang pernah diambil, walau setetes, mesti dikembalikan ke tempatnya.
Malam itu, di beranda rumahnya, Dangko memandangi bintang di langit. Ia memikirkan perjalanannya –tentang kehadiran ayahnya dalam mimpi, tentang ayam putih yang menyingkap keberadaan kubur ayahnya, tentang air mata yang membasahi pipitnya, tentang Om dan pante kesayangannya, tentang benih amarah yang tidak perlu menunggu musim membuahkan dendam kesumat!
Ia sadar, warisan seorang ayah tidak selalu berupa harta. Kadang hanya berupa alat kerja yang sederhana, tapi di baliknya tersimpan nilai-nilai yang luhur: kerja keras, kejujuran, dan rasa tanggung jawab untuk mengembalikan yang pernah dipinjam.
Ia menatap ke arah hutan enau yang membisu, lalu berbisik lirih; “Segalanya bisa hilang, Ayah, tapi yang diwariskan hati -itu takkan pernah mati.” Dalam kesungguhan dan ketulusan hati, bahkan jejak yang nyaris terhapus pun bisa ditemukan kembali. Pante yang ditemukan Dangko bukan sekadar benda, melainkan simbol warisan kejujuran, tanggung jawab, dan kasih seorang ayah yang hidup dalam ingatan anaknya. Bahwa tuak dan sopi adalah kehidupan, kedamaian, dan bukan sumber celaka dan petaka. Justru tuntutan dan desakan kebutuhan atas dasar egoisme serta amarah dan dendam kesumatlah sumber petaka dan celaka. Hidup mengajarkan bahwa cinta tidak selalu hadir lewat kata, tetapi lewat kesetiaan menjaga yang ditinggalkan –sekecil apa pun itu.
Keterangan:
¹Teong: wadah yang terbuat dari bambu, digunakan untuk menampung nira dari batang pohon enau.
²Pante: jenis pisau yang digunakan para penyadap Enau di Manggarai
³Tuak: cairan nira segar yang baru disadap dari pohon enau; belum difermentasi atau disuling.
⁴Sopi: minuman beralkohol tradisional hasil sulingan nira (tuak) yang difermentasi; biasanya digunakan dalam acara adat.
⁵Amang: sebutan untuk paman atau om dalam budaya Manggarai.
⁶Oto kol: bus kayu tradisional yang menjadi transportasi antar kampung di Manggarai dan Flores pada umumnya.
⁷Manuk bakok: ayam dengan bulu berwarna putih yang digunakan dalam ritual tradisional untuk memanggil roh leluhur atau mencari petunjuk spiritual.
⁸Torok: doa asli berbentuk sastra lisan yang diucapkan saat upacara adat tertentu.
⁹Potang manuk: sebutan untuk sangkar ayam dalam masyarakat Manggarai.
¹⁰Lolu tuak: tradisi minum tuak bersama di bawah pohon Enau setelah penyadapan; minum gratis dan sering menjadi ajang bercengkerama serta berbagi cerita.
¹¹Senduk: wadah kecil pengganti gelas yang terbuat dari bambu, digunakan untuk meminum tuak.











