Pekerjaan Rumah Untuk Siswa

Jessica Gita Avrilla

Oleh : Jessica Gita Avrilla
Mahasiswa Progdi BK-FKIP UKSW Salatiga

Sekolah merupakan lembaga yang melaksanakan proses pembelajaran dengan tujuan mengembangkan ranah pengetahuan, sikap dan perilaku yang dimiliki oleh peserta didik sehingga dapat menghasilkan peserta didik yang dapat sukses dalam kehidupannya. Di sekolah para siswa banyak mendapatkan pembelajaran dan ilmu pengetahuan. di sekolah pula siswa akan mendapatkan Pekerjaan Rumah (PR).

Pekerjaan Rumah (PR) pastilah tidak asing lagi bagi para siswa. Pekerjaan Rumah (PR) merupakan sebuah cara guru memberikan tugas kepada muridnya untuk dikerjakan di rumah masing-masing. Cara ini dimaksudkan agar para muridnya mau untuk membuka buku pada saat dirumah, dengan cara ini para murid akan belajar di rumahnya masing-masing.

Setiap selesai pelajaran kebanyakan guru pasti memberikan Pekerjaan Rumah (PR) yang seabrek untuk dikerjakan para siswa dirumah, dengan maksud agar siswa lebih paham dan mengingat kembali apa yang telah diberikan oleh guru disekolah, membuat jam belajar siswa bertambah, dan memupuk rasa tanggungjawab dalam diri siswa. Memang maksud dan tujuan guru memberikan Pekerjaan Rumah (PR) tersebut memiliki manfaat dan dampak positif bagi siswa itu sendiri, seperti : siswa mampu membagi waktu secara efektif untuk waktu belajar dan bermainnya, siswa dapat mereview pelajaran disekolah, mengecek pemahaman siswa terhadap apa yang dipelajari di sekolah, PR sebagai wadah untuk mengeksplor pengetahuan, dan untuk pematangan konsep untuk berpindah pada materi berikutnya.

Akan tetapi, apabila pemberian Pekerjaan Rumah (PR) dengan kadar yang berlebihan akan membebani siswa sendiri. Oleh karena itu Guru yang seringkali memberikan tugas tambahan bagi para siswa didiknya berupa Pekerjaan Rumah (PR) dalam bentuk soal-soal, barangkali harus lebih bijak dan hati-hati. Soal-soal yang ditugaskan untuk diselesaikan di rumah, secara laten bisa menjelma atau berubah menjadi sebuah perundungan untuk siswa itu sendiri. Alih-alih memotivasi siswa untuk belajar mandiri, soal-soal itu justru berfungsi sebaliknya, menjadi beban akademik bagi peserta didik.

Apalagi di jaman sekarang siswa di sekolah sudah mengikuti dan melaksanakan kurikulum yang baru yang sudah dibuat oleh pemerintah, yaitu kurikulum 2013 (K-13), dimana dalam kurikulum 2013 (K-13) di berlakukan 5 hari kerja, yaitu dari hari senin sampai jumat dan mulai masuk dari pukul 07.00 hingga selesai pukul 16.00. Berbeda dengan kurikulum yang sebelumnya. Dengan diberlakukannya kurikulum 2013 (K-13) ini guru sudah tidak boleh lagi memberikan pekerjaan rumah (PR) kepada siswa. Mengapa demikian, seperti yang terlihat kebanyak guru sekarang ini kurang memperhatikan lagi kondisi murid-muridnya. Bahkan, langkah itu kerapkali tanpa diimbangi dengan pertimbangan bagaimana kondisi mental siswa.

READ  Menjaga Marwah Ekonomi Para Mama Papua di Sorong

Murid sudah sekolah dari pagi sampai sore, tetapi ketika pulang masih diberi Pekerjaan Rumah (PR). Kejadian-kejadian seperti ini yang akhirnya menimbulkan dampak negative. Pertama, membuat siswa menjadi stress, PR yang terlalu banyak bisa membuat siswa tertekan sehingga menyebabkan mereka kurang bisa memahami pelajaran atau materi tersebut, hal titu terjadi karena mereka terlalu bosan dengan banyaknya PR yang harus mereka kerjakan.

Kedua, penurunan kesehatan, akibat dari mengerjakan PR yang terlalu banyak dan dengan waktu yang lama maka akan membuat siswa menjadi kelelahan, kurang tidur, sehingga daya tahan tubuh menurun dan akhirnya sakit. Ketiga, waktu untuk keluarga dan teman-teman sedikit, ketika mereka mempunyai PR, maka semakin berkurang pula interaksi sosial mereka, terutama untuk keluarga dan teman-teman mereka, mereka menjadi terlalu fokus dengan PR-nya itu dan akhirnya tidak menekuni hobi yang ia miliki itu.

Mungkin maksud dari guru-guru tersebut memberikan Pekerjaan rumah (PR) bagus, karena itu juga membantu peserta didik dalam meningkatkan motivasi belajarnya. Akan tetapi pada saat ini yang terlihat guru-guru itu banyak yang melakukan kejahatan, karena tidak hanya 1 sampai 5 soal yang ia berikan, melainkan banyak soal bisa sampai 20 atau 30 soal bahkan lebih. Dan itu baru satu mata pelajaran saja, belum mata pelajaran yang lain. Kalau sudah begini apakah ini bukan termasuk kejahatan? Tentu saja ini sebuah kejahatan yang dilakukan oleh guru-guru di sekolah, karena mereka memberikan pekerjaan Rumah (PR) tidak lazim atau tidak pada umumnya. Jika memang guru terpaksa memberikan PR maka yang ditugaskan harus sesuai dengan kemampuan anak dan materi yang baru dipelajari.

Dengan keadaan tersebut justru akan membuat siswa memilih jalan pintas dengan mencontek pekerjaan temannya. Sehingga pemberian PR menjadi tidak efektif dan jauh dari maksud dan tujuan guru memberikan Pekerjaan Rumah (PR). Ditambah lagi terkadang ada guru yang tidak mencocokkan Pekerjaan Rumah (PR) tersebut dengan alasan Pekerjaan Rumah (PR) diberikan agar siswa mau belajar kembali.

Hal itu sangat membuat siswa itu kecewa, mengapa demikian, karena siswa pasti menginginkan apresiasi berupa nilai dari Pekerjaan rumah yang telah mereka kerjakan itu. Lebih parahnya lagi hal itu akan membuat siswa menyepelekan Pekerjaan Rumah (PR) tersebut dan mungkin tidak akan mau mengerjakannya. Tingkat kesulitan dari pekerjaan Rumah (PR) juga mempengaruhi “mood” siswa dalam mengerjakan.

Kebanyakan siswa apabila dirasa Pekerjaan Rumah (PR) itu terlalu sulit maka siswa akan putus asa kemudian akibat yang seperti diatas juga akan muncul.
Ketika saya masih duduk di bangku SMA, dan saya juga mendapatkan kurikulum 2013 (K-13) itu, dimana saya harus sekolah dari pagi sampai sore, dan pulang masih di beri Pekerjaan rumah (PR) yang mana itu tidak sedikit, belum lagi yang masih harus mengikuti Ekstrakulikuler di sekolah, belum lagi adanya les tambahan. Semua itu sangatlah melelahkan. Tapi dari guru-guru tidak ada yang perhatian akan hal itu. Padahal kita juga sebagai manusia juga membutuhkan istirahat. Tidak bisa jika harus di paksa sedemikian rupa.

READ  Rektor Berwenang Penuh, Gugatan Prof. Umbu Rauta Gugur

Sedangkan pengertian dari Pekerjaan Rumah (PR) itu sendiri menurut Wikipedia yaitu tugas mandiri terstruktur yang diberikan guru untuk dikerjakan di rumah sebagai latihan tambahan. Jadi pada dasarnya PR itu diberikan untuk latihan tambahan saja untuk beberapa mata pelajaran yang dirasa masih kurang saja bukan sebagai keharusan.

Mendidik menjadi sebuah hal penting dalam kegiatan belajar mengajar. Kalau tidak ada orang yang mendidik siapa yang akan menyampaikan segala pengetahuan dan pelajaran. Definisi mendidik itu sendiri juga sangatlah luas, berikut yaitu pengertian mendidik menurut Sugianto, mendidik bukan hanya “Transfer of Knowledge” saja tetapi juga “Transfer Value”. Jadi mendidik itu tidak hanya transfer Pengetahuan saja, tetapi juga juga transfer nilai. Pengertian lain dari mendidik juga dapat diuraikan juga secara berbeda, yaitu mendidik merupakan proses mengajar sebagai sarana untuk mencapai hasil yang maksimal dalam mencapai tujuan pendidikan. Sedangkan pengertian dari menyiksa itu sendiri Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) yaitu menghukum dengan menyengsarakan (menyakiti atau menganiaya).

Melihat dari beberapa pengertian diatas, memberikan Pekerjaan Rumah itu hanya untuk latihan tambahan saja. Akan tetapi pada kenyataanya tidak seperti itu. Memang hal itu mendidik siswa agar lebih terampil dalam belajar, tetapi mendidik siswa juga tidak harus dengan memberikan PR saja. Sekarang ini banyak orang tua dari siswa yang mengeluh, akibat guru memberikan Pekerjaan Rumah (PR) terlalu banyak dan terkadang sulit, orang tua jadi tidak bisa membantu anak-anaknya dalam mengerjakan PR.

Kebanyakan orang tua sekarang sudah sibuk masing-masing, paling tidak pulang kerja pasti sudah sore, ketika mau membantu anaknya mengerjakan PR, tetapi melihat PR itu sangat banyak, orang tua juga tidak bisa maksimal dalam membantu anak untuk mengerjakan PR itu.

Saya juga pernah menemukan suatu fakta kejadian yang terjadi pada seorang siswa SMP kelas VII, siswa ini seringkali mengeluh terhadap Pekerjaan Rumah (PR) yang diberikan oleh gurunya. Karena jumlahnya yang terlalu banyak itu, ia menjadi malas mengerjakan. Contohnya saja dia mendapatkan Pekerjaan ruma (PR) matematika yang mana ia harus mengerjakan soal satu bab, awalnya dia bisa mengerjakan satu sampai sepuluh soal, lalu setelah itu dia sudah lelah dan malas lagi untuk berfikir. Hingga akhirnya jam untuk les di luar sekolah ia gunakan untuk mengerjakan Pekerjaan Rumah (PR) itu. Jadi di tempat les, bukan ia menerima mata pelajaran tambahan tetapi malah habis untuk mengerjakan PR saja. Dan ini sangatlah tidak baik untuk siswa jaman sekarang yang mengingat diberlakukannya kurikulum 2013 (K-13).

READ  Seberapa Pentingkah Guru BK di Sekolah

Secara tidak langsung hal tersebut menyiksa bagi siswa di sekolah. Mereka menjadi kurang istirahat, dipacu untuk berfikir secara terus menerus, dan juga kehilangan masa bermain dengan teman-temannya, serta kurangnya waktu untuk istirahat.

Oleh karena itu proses belajar mengajar di sekolah itu harus di maksimalkan, sehingga ketika sudah pulang tidak banyak memberikan PR kepada siswa. Memberikan suatu pemahaman kepada siswa itu sebenarnya tidak perlu muluk-muluk, mengingat sekarang juga semakin banyak metode pembelajaran yang dapat digunakan. Memang benar proses belajar mengajar itu sudah ada panduannya yang harus dijalankan oleh guru-guru. Tapi tidak menutup kemungkinan juga guru bisa memilih metode atau penyampaian materi dengan kreatif dan efektif, sehingga siswa juga bisa mengerti dan memahami apa yang bapak/ibu guru sampaikan. Yang paling terpenting itu siswa dapat memahami isi dari materi tersebut. Percuma belajar banyak bab, tapi dari mereka tidak ada yang mengingatnya sama sekali. Lebih baik belajar satu, dua bab, tapi siswa benar-benar paham akan materi itu.

Memberikan Pekerjaan Rumah itu suatu proses mendidik juga, akan tetapi hanya pada porsi tertentu. Bukan untuk kewajiban yang harus di terima oleh siswa. Jika Pekerjaan Rumah itu banyak, saya akan menganggap itu suatu kejahatan dan juga perilaku yang menyiksa untuk para siswa di sekolah maupun di rumah. Berikanlah Tugas Pekerjaan Rumah itu secukupnya sesuai dengan kebutuhan yang di butuhkan oleh para siswa. Jika PR itu sedikit, maka besar kemungkinan orang tua juga bisa membantu anak-anaknya dalam belajar di rumah.
Pekerjaan Rumah itu mendidik ketika dalam porsi yang sesuai.

Jika porsi itu tidak sesuai maka itu merupakan kejahatan yang menyiksa siswa. Tetapi alangkah lebih baik lagi jika guru sekarang ini memang sudah tidak lagi memberikan Pekerjaan Rumah kepada siswa, karena mengingat kondisi siswa saat ini. Kondisi yang mana kurikulum 2013 (K-13) itu juga melelahkan bagi siswa saat ini. Saya rasa materi pelajaran yang diberikan di sekolah itu sudah sangat cukup bagi siswa.*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *