Catatan Fr. Marsel Natar, BHK
Sebanyak 29 Frater Bunda Hati Kudus (BHK) dari berbagai komunitas di Regio Nusa Tenggara Timur mengikuti retret tahunan yang berlangsung pada 21–27 Juni 2026* di Komunitas Biara Frateran Santo Borgias Oesapa, Kupang. Retret tahunan ini menjadi momentum penting bagi para frater untuk berhenti sejenak dari rutinitas pelayanan dan karya kerasulan, lalu memasuki ruang keheningan guna memperbarui relasi dengan Tuhan, sesama, dan panggilan hidup bakti yang telah mereka pilih.
Sebagai penyelenggara retret tahun ini, Komunitas Frateran Santo Borgias Oesapa mengusung tema “Berjalan Bersama Merawat Panggilan dalam Persaudaraan Bunda Hati Kudus.” Tema tersebut mengajak seluruh peserta untuk semakin menyadari bahwa panggilan hidup religius bukanlah perjalanan yang ditempuh seorang diri, melainkan sebuah peziarahan bersama yang dibangun di atas semangat persaudaraan, saling mendukung, dan kesetiaan kepada kharisma Kongregasi Bunda Hati Kudus.
Retret diikuti oleh para frater yang berasal dari lima komunitas di Regio NTT, yakni Komunitas Frateran Santo Don Bosco Sumba Barat Daya, Komunitas Frateran Santo Aloysius Ndao Ende, Komunitas Frateran Santo Yoseph Maumere, Komunitas Frateran Santo Gabriel Podor Larantuka, dan Komunitas Frateran Santo Borgias Oesapa Kupang. Selain itu, beberapa frater yang berasal dari Regio Jawa dan sedang menjalani masa cuti di wilayah Nusa Tenggara Timur turut mengambil bagian dalam kegiatan rohani tersebut sebagai bentuk kesatuan dalam keluarga besar Kongregasi Bunda Hati Kudus.
Selama tujuh hari, para peserta diajak untuk memasuki pengalaman retret yang sarat dengan doa, refleksi Kitab Suci, meditasi, adorasi, perayaan Ekaristi, sakramen tobat, serta pendalaman berbagai dinamika hidup religius. Keseluruhan rangkaian kegiatan dirancang untuk membantu para frater melakukan pembaruan diri, mengevaluasi perjalanan panggilan, sekaligus menemukan kembali sukacita dalam menghayati hidup sebagai religius Bunda Hati Kudus.
Pemberi retret tahun ini adalah Pater Simon Bata, SVD, yang melalui berbagai sesi refleksi mengajak peserta untuk kembali menimba kekuatan dari kasih Allah sebagai sumber utama kesetiaan dalam hidup membiara. Dalam berbagai permenungan yang disampaikan, ia menegaskan bahwa panggilan hidup religius tidak hanya dipelihara melalui disiplin pribadi, tetapi juga melalui kualitas hidup persaudaraan yang mampu menghadirkan kasih, pengampunan, dialog, dan kepedulian satu sama lain.
Menurutnya, persaudaraan yang sehat merupakan ruang di mana setiap anggota dapat bertumbuh bersama, saling menguatkan ketika mengalami kelemahan, serta terus memperbarui komitmen untuk melayani Gereja dan umat. Karena itu, retret bukan sekadar agenda tahunan, melainkan kesempatan istimewa untuk membiarkan Allah kembali membentuk hati para religius agar semakin serupa dengan Hati Kudus Yesus yang menjadi inspirasi spiritualitas kongregasi.
Tema “Berjalan Bersama Merawat Panggilan dalam Persaudaraan Bunda Hati Kudus” juga menjadi pengingat bahwa tantangan zaman menuntut para religius untuk terus membangun kebersamaan yang autentik. Di tengah dinamika karya pelayanan, perkembangan teknologi, serta perubahan sosial yang begitu cepat, hidup persaudaraan menjadi kekuatan utama yang menjaga semangat panggilan tetap menyala. Dari persaudaraan yang sehat akan lahir pelayanan yang tulus, kesaksian hidup yang otentik, dan sukacita Injil yang dapat dirasakan oleh umat yang dilayani.
Bagi para peserta, retret tahunan bukan hanya menjadi waktu untuk beristirahat secara fisik, melainkan terutama menjadi kesempatan untuk memperdalam keheningan batin. Dalam suasana doa yang hening, setiap frater diajak menengok kembali perjalanan panggilannya, mensyukuri penyelenggaraan Tuhan, mengakui berbagai keterbatasan, serta menyerahkan masa depan pelayanan sepenuhnya ke dalam tangan Allah.
Kehadiran para frater dari berbagai komunitas di Regio NTT, bahkan dari Regio Jawa yang sedang berada di NTT, semakin memperlihatkan kuatnya semangat persaudaraan dalam Kongregasi Bunda Hati Kudus. Perjumpaan selama retret menjadi ruang berbagi pengalaman hidup, saling memperkaya kisah pelayanan, dan mempererat ikatan persaudaraan lintas komunitas yang selama ini tersebar di berbagai daerah.
Melalui retret tahunan ini diharapkan seluruh peserta kembali ke komunitas masing-masing dengan semangat yang diperbarui, iman yang semakin dewasa, serta komitmen yang semakin teguh untuk menghayati panggilan sebagai Frater Bunda Hati Kudus. Dengan hati yang terus dibentuk oleh kasih Allah dan semangat persaudaraan yang semakin kuat, para frater diharapkan mampu menjadi saksi kasih Kristus dalam setiap karya pendidikan, pastoral, sosial, maupun pelayanan kemanusiaan yang dipercayakan kepada mereka.











